Novaya Gazeta berdiri pada 1993 setelah runtuhnya Uni Soviet dengan bantuan dana hadiah Nobel Perdamaian milik pemimpin terakhir Soviet, Mikhail Gorbachev. Surat kabar ini membangun reputasi lewat laporan investigasi mengenai korupsi pemerintah, kebrutalan polisi, kecurangan pemilu, hingga pelanggaran hak asasi manusia di Chechnya.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada Februari 2022, surat kabar ini menghentikan penerbitan cetak akibat undang-undang sensor masa perang. Pengadilan Rusia kemudian mencabut izin media mereka pada tahun yang sama, sementara sejumlah staf mendirikan edisi Eropa di Paris pada 2024.
Melansir RFE/RL, dedikasi menjaga kebebasan berekspresi di Rusia mengantarkan Dmitry Muratov meraih penghargaan Nobel Perdamaian pada 2021. Namun, ia terpaksa mundur dari jabatan pemimpin redaksi pada 2023 setelah pemerintah menetapkan dirinya sebagai agen asing.
Sepanjang sejarah operasionalnya, sedikitnya enam jurnalis dan kontributor Novaya Gazeta tewas dibunuh akibat pekerjaan investigasi mereka. Salah satu kasus paling menonjol adalah penembakan Anna Politkovskaya di apartemennya di Moskow pada Oktober 2006, tepat di hari ulang tahun Presiden Vladimir Putin.
Selain Politkovskaya, jurnalis Yury Shchekochikhin yang menyelidiki korupsi militer meninggal mendadak pada Juli 2003 akibat dugaan diracun sebelum terbang ke Amerika Serikat. Empat staf lainnya yang turut tewas meliputi Igor Domnikov, Stas Markelov, Anastasia Baburova, dan Natalia Estemirova.