PBB: Operasi Pasukan Israel di Tepi Barat Ganggu Akses Hidup Warga

- PBB melaporkan operasi Israel di Hebron memblokir akses dan membatasi pergerakan, membuat sekitar 3.000 warga Palestina tetap mengungsi serta mengganggu penghidupan, pendidikan, dan layanan kesehatan.
- PBB menyerukan perlindungan warga Palestina, pencegahan pemindahan paksa dan pembongkaran, serta akses kemanusiaan tanpa hambatan agar pengungsi dapat kembali secara sukarela dan aman.
- OCHA mencatat 14 masjid menjadi sasaran vandalisme tahun ini; di Gaza, gudang PBB rusak dan sekitar 100 keluarga kehilangan tenda serta barang dalam sepekan terakhir.
Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa operasi pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki mengganggu akses warga Palestina terhadap penghidupan, pendidikan, dan layanan kesehatan. Data terbaru dari pihak kotamadya setempat menunjukkan sekitar 3.000 warga Palestina masih mengungsi dari dua lingkungan di Kota Hebron, sementara operasi militer Israel dilaporkan masih memblokir jalan masuk dan membatasi pergerakan di wilayah tersebut.
Keterangan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Pembantu Sekretaris Jenderal PBB, Shirin Yaseen, dalam konferensi pers di New York, Kamis (29/10/2026). Yaseen kembali menyerukan perlindungan bagi warga Palestina di seluruh Tepi Barat serta menegaskan bahwa pemindahan paksa lanjutan dan pembongkaran harus dicegah.
1. Pembatasan ketat pasukan Israel di Hebron

Israel Defense Forces (Pasukan Pertahanan Israel) (Israel Defense Forces, CC BY 2.0, via WIkimedia Commons) Berdasarkan keterangan mitra kemanusiaan PBB, sekitar 3.000 warga Palestina masih berada dalam kondisi mengungsi dari dua lingkungan di Kota Hebron. Informasi jumlah pengungsi tersebut merujuk pada angka terbaru yang diberikan oleh pemerintah kotamadya setempat.
Pasukan Israel dilaporkan masih beroperasi di lingkungan-lingkungan tersebut serta memblokir jalan masuk. Selain itu, pihak militer juga memberlakukan pembatasan pergerakan yang ketat di seluruh wilayah kegubernuran Hebron.
Yaseen menegaskan bahwa warga yang mengungsi harus diizinkan kembali secara sukarela dan aman, serta akses kemanusiaan tanpa rintangan harus difasilitasi. "Operasi Israel mengganggu akses warga Palestina terhadap penghidupan, pendidikan, dan layanan seperti perawatan kesehatan," kata Yaseen seperti dilaporkan Anadolu Agency. "Kami menyerukan sekali lagi untuk perlindungan warga Palestina di seluruh Tepi Barat."
2. Vandalisme terhadap tempat ibadah dinilai tak dapat diterima

Masjid Al-Aqsa (unsplash.com/ekrem osmanoglu) Selain operasi militer di Hebron, taklimat PBB dalam sesi tanya jawab menanggapi pertanyaan jurnalis terkait laporan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengenai perusakan rumah ibadah di Tepi Barat. Laporan OCHA mencatat bahwa 14 masjid telah menjadi sasaran aksi vandalisme oleh pemukim Israel sepanjang tahun ini.
Menanggapi laporan tersebut, Yaseen menyatakan bahwa serangan terhadap tempat-tempat ibadah merupakan hal yang sama sekali tidak dapat diterima. PBB menekankan pentingnya jaminan rasa aman bagi seluruh fasilitas keagamaan.
Yaseen menggarisbawahi bahwa kebebasan menjalankan agama perlu dipastikan secara menyeluruh di semua tempat. "Tempat-tempat ibadah ini harus aman, dan kebebasan beragama perlu dipastikan di mana saja, tidak hanya di area itu," ujar Yaseen saat menjawab pertanyaan jurnalis.
3. Kendala panen zaitun hingga kerusakan gudang PBB di Gaza

Tank Israel merusak ladang di Desa Khirbet Ibziq, Tepi Barat (עארף דראר'מה, בצלם - מרכז המידע הישראלי לזכויות האדם בשטחים, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Mengenai kegiatan warga Palestina di sektor pertanian, Yaseen merespons pertanyaan wartawan terkait kendala petani dalam memanen buah zaitun. Dia menyatakan bahwa warga Palestina harus dapat memanen zaitun secara bebas dan aman tanpa intimidasi, pelecehan, maupun ancaman cedera fisik karena banyak warga bergantung pada hasil panen tersebut untuk penghidupan mereka.
Sementara itu di Jalur Gaza, sebuah gudang milik PBB di Khan Younis mengalami kerusakan akibat serpihan yang melayang pascaserangan udara Israel di dekat lokasi pada Rabu (28/10/2026). Rekan keselamatan dan keamanan PBB memastikan bahwa tidak ada staf PBB yang mengalami cedera dalam peristiwa itu.
Laporan kemanusiaan turut mencatat sekitar 100 keluarga Palestina kehilangan tenda dan barang-barang mereka akibat serangan udara, kebakaran, dan insiden lain selama sepekan terakhir. PBB kembali menyerukan pencabutan pembatasan pasokan logistik bantuan, peralatan khusus, minyak mesin, hingga suku cadang demi meningkatkan berbagai layanan penting bagi warga Gaza.





















