Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Aceh Bangkit, Petani Mulai Tanami Sawah dan Peternak Peroleh Bantuan

4 min read
Aceh Bangkit, Petani Mulai Tanami Sawah dan Peternak Peroleh Bantuan
Sawah di Pidie Jaya (Dok. Tim Media Satgas PRR)
  • Pemerintah mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan target kegiatan tahun ini rampung sebelum 31 Desember 2026.

  • Di Pidie Jaya, sawah terdampak banjir mulai dibersihkan dan ditanami kembali dengan padi, jagung, serta bawang, meski lahan rusak berat masih ditangani alat berat.

  • Sebanyak 520 kelompok peternak terdampak banjir di Aceh Utara menerima obat hewan, disinfektan, dan tambahan pakan untuk menjaga ternak serta keberlanjutan usaha.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Denyut perekonomian warga terdampak banjir di wilayah Provinsi Aceh makin mendekati normal. Di Kabupaten Pidie Jaya, sawah yang dulu sempat tertimbun lumpur, telah dan sedang dibersihkan untuk ditanami kembali. Sedangkan di Kabupaten Aceh Utara, bantuan obat hewan, disinfektan dan tambahan pakan mengalir kepada peternak yang dimaksudkan mendorong kebangkitan perekonomian mereka pascabencana..

Ini merupakan pelaksanaan dari Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) yang dirumuskan pemerintah untuk penanganan bencana Aceh. Renduk PRRP menempatkan pemulihan ekonomi dan mata pencaharian sebagai bagian dari pemulihan pascabencana. Selain memperbaiki kerusakan fisik, pemulihan diarahkan untuk mengembalikan fungsi aset produktif masyarakat, menjaga ketahanan pangan, dan memulihkan sumber pendapatan keluarga.

  1. 1. Pemerintah percepat transisi menuju pemulihan pascabencana

    3fd949cd-d66e-4f5d-a7a5-fc9403808a05.jpeg
    Sawah di Pidie Jaya (Dok. Tim Media Satgas PRR)

    Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Kasatgas PRR) Pascabencana Sumatera mendorong kementerian/lembaga (K/L) mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

    Berbagai kegiatan yang dapat dikerjakan tahun ini ditargetkan selesai sebelum 31 Desember 2026.

    Tito menjelaskan, penanganan bencana telah melewati tahap tanggap darurat yang berfokus pada evakuasi, penanganan korban, dan penyelamatan nyawa, kemudian berlanjut ke masa transisi darurat. Saat tanggap darurat, Presiden Prabowo Subianto mengerahkan berbagai kekuatan nasional, termasuk TNI, Polri, BNPB, Basarnas, dan pemerintah daerah.

    “Pada saat tanggap darurat, Bapak Presiden sudah memberikan anggaran awal untuk belanja tidak terduga tambahan sebanyak Rp268 miliar. Kemudian di masa transisi, Bapak Presiden kemudian membuat Satgas di mana Ketua Tim Pengarahnya adalah Menko PMK, anggotanya semua Menko, ditambah Kapolri, Panglima TNI, Menteri Keuangan,” ujarnya.

  2. 2. Sawah Pidie Jaya mulai kembali ditanami

    ilustrasi sawah (pexels.com/quang)
    ilustrasi sawah (pexels.com/quang)

    Di Pidie Jaya, pembersihan sawah yang rusak berat akibat tertimbun lumpur banjir terus dilakukan. Sejumlah lahan yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang mulai pulih dan kembali dimanfaatkan untuk menanam padi, jagung, dan bawang. Di Kecamatan Meurah Dua, sawah di Desa Lueng Bimba yang sebelumnya tertimbun lumpur kini mulai ditanami padi kembali. Sebaliknya, di Desa

    Beuringen, alat berat masih dikerahkan untuk membersihkan lahan yang mengalami kerusakan berat dan ditumbuhi semak belukar. Pemulihan juga terlihat di Kecamatan Meureudu. Sawah di Desa Blang Awe mulai dimanfaatkan kembali untuk tanam rendeng, sedangkan warga Desa Meunasah Lueng menanam jagung. Sebagian tanaman bahkan telah tumbuh hingga sekitar satu meter, sementara lahan lainnya baru selesai ditanami.

  3. 3. Sebanyak 520 kelompok peternak Aceh Utara dapat bantuan

    7e2ef109-ba94-4a4d-b24c-d20d79912d46.jpeg
    Penyaluran bantuan untuk perternak. (Dok. Tim Media Satgas PRR)

    Pemulihan juga menyasar sektor peternakan di Aceh Utara. Sebanyak 520 kelompok peternak terdampak banjir menerima obat hewan, disinfektan, dan tambahan pakan untuk menjaga kesehatan ternak serta membantu keberlanjutan usaha mereka. Mukhlisin, peternak asal Kecamatan Meurah Mulia, mengatakan banyak ternaknya terendam saat banjir melanda pada 26 November 2025. Sebagian ternak mengalami sakit dan membutuhkan pengobatan meski berhasil diselamatkan.

    Bantuan disalurkan melalui Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnakeswan) Aceh Utara. Sebagian kelompok mengambil bantuan di kantor dinas di Lhokseumawe, sedangkan penerima lainnya mendapatkannya melalui penyuluh peternakan di kecamatan.

    Kepala Disbunnakeswan Aceh Utara, Erwandi, menjelaskan bantuan berasal dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, dalam bentuk barang. Peternak yang belum menerima bantuan akan diusulkan pada penyaluran tahap berikutnya. Bantuan tersebut mencakup Pro B Plek sebanyak 50.890 bolus, Progard 52.040 tablet, Albenpros 49.000 bolus, Aspipros 94.500 bolus, serta premix atau bahan tambahan pakan sebanyak 45.900 kilogram atau 45,9 ton.

    Menurut Erwandi, Pro B Plek merupakan suplemen vitamin B kompleks untuk membantu menjaga kondisi dan metabolisme ternak. Albenpros digunakan untuk mengendalikan infeksi cacing, sedangkan Aspipros berfungsi sebagai pereda nyeri, penurun demam, dan antiradang sesuai indikasi serta petunjuk dokter hewan.

    Adapun Progard merupakan disinfektan dan antiseptik untuk sanitasi lingkungan maupun peralatan, bukan untuk mengobati penyakit ternak secara langsung. Pemulihan pertanian dan peternakan tersebut diharapkan membantu masyarakat Aceh kembali menjalankan aktivitas produktif setelah bencana. Melalui pemulihan lahan, perawatan ternak, serta pendampingan berkelanjutan, sumber pendapatan keluarga dan ketahanan pangan di wilayah terdampak diharapkan berangsur pulih. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More