Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fakta Masjid Juma, Masjid Bersejarah di Kota Lama Tbilisi

3 min read
Fakta Masjid Juma, Masjid Bersejarah di Kota Lama Tbilisi
Pemandangan Masjid Juma dari Jalan Botanikuri. (commons.wikimedia.org/Reda Kerbush)
Share Article

Kota Lama merupakan bagian unik dari ibu kota Georgia, tempat berbagai rumah ibadah dari beragam keyakinan berdiri berdampingan. Salah satunya adalah Masjid Juma, yang juga dikenal sebagai Masjid Tbilisi. Berkat sejarah panjang dan keindahan yang bersahaja, masjid ini telah menjadi bagian penting dari kota lama tersebut. Selain itu, mencerminkan perpaduan keyakinan dan budaya yang telah membentuk Tbilisi selama bertahun-tahun.

Masjid Juma berdiri di kaki Benteng Narikala, di dekat ujung Jalan Botanical. Masjid ini merupakan satu-satunya masjid yang masih digunakan di Tbilisi dan dikenal karena desainnya yang kuno serta indah. Bahkan menjadi tempat yang langka di mana umat Muslim Syiah dan Sunni beribadah bersama. Yuk, simak fakta unik tentang Masjid Juma berikut ini, guys!

  1. 1. Pertama kali dibangun pada abad ke-16

    Pintu masuk Masjid Juma di Tbilisi dengan fasad bata, lengkungan dekoratif, dan menara di sisi bangunan.
    Pemandangan pintu masuk Masjid Juma. (commons.wikimedia.org/Interfase)

    Komunitas Muslim Tbilisi bermula setelah bangsa Arab merebut kota pada paruh kedua abad ke-7. Seiring berkembangnya komunitas Muslim, sejumlah masjid dibangun di kota itu pada Abad Pertengahan. Masjid terbesarnya adalah sebuah masjid Syiah yang terletak di sebelah selatan Meidan, dekat Sungai Mtkvari, yang dibangun oleh Shah Ismail I dari Iran pada awal abad ke-16, ujar Georgian National Tourism Administration. Namun, masjid ini dibongkar pada tahun 1950 untuk pembangunan Jembatan Metekhi yang baru.

    Pada awal abad ke-18, saat menguasai Tbilisi, Usmaniyah membangun sebuah masjid Sunni di kaki Benteng Narikala. Masjid ini kemudian dihancurkan oleh Persia. Bangunannya dipugar kembali pada abad ke-19 sebagai bagian dari proyek yang dipimpin oleh arsitek Italia, Giovanni Scudieri. Namun, kembali dirobohkan menjelang abad ke-20 dan sebuah masjid baru dibangun sebagai penggantinya.

  2. 2. Sunni dan Syiah dapat beribadah bersama

    Interior aula salat Masjid Juma dengan mihrab, mimbar, serta lampu gantung yang menerangi ruang ibadah.
    Pemandangan aula salat di dalam Masjid Juma yang menampilkan mihrab, mimbar, dan lampu gantung. (commons.wikimedia.org/Reda Kerbush)

    Saat ini, Tbilisi memiliki komunitas Muslim Sunni maupun Syiah dan Masjid Juma digunakan bersama oleh kedua kelompok tersebut. Di masa lalu, sebuah tirai memisahkan masjid menjadi dua bagian, dengan penganut Sunni di satu sisi dan Syiah di sisi lainnya. Pengaturan ini memungkinkan kedua komunitas untuk menggunakan masjid yang sama sembari tetap memiliki ruang masing-masing.

    Pada tahun 1996, imam menyingkirkan tirai yang sebelumnya memisahkan masjid menjadi dua bagian, lapor Advantour. Sejak saat itu, umat Muslim Sunni dan Syiah beribadah bersama di ruang yang sama. Kini, Masjid Juma menjadi contoh langka di mana dua kelompok dalam satu keyakinan berbagi tempat ibadah yang sama. Kedua kelompok tersebut terus menggunakan masjid secara bersama-sama.

  3. 3. Arsitektur Masjid Juma

    Menara Masjid Juma di Tbilisi menjulang dengan ornamen bata merah di antara bangunan dan pepohonan sekitar.
    Pemandangan menara Masjid Juma. (commons.wikimedia.org/Interfase)

    Masjid Juma terbuat dari batu bata dan berdiri di lereng yang curam. Gayanya memadukan desain Neo-Gotik dan Islam. Masjid ini juga dikenal karena banyaknya jendela melengkung pada dindingnya.

    Sebuah menara setinggi delapan lantai berdiri di gerbang masjid dan dapat terlihat dari kejauhan. Menara ini tampak berbeda jika dilihat dari setiap sisinya. Adapun masjid ini memiliki hiasan mosaik yang cerah, baik di bagian dalam maupun luarnya. Ciri-ciri tersebut menjadikan Masjid Juma tempat yang terkenal di kawasan Kota Lama Tbilisi.

    Masjid Juma merupakan bagian penting dari kawasan Kota Lama Tbilisi. Sejarah yang panjang serta perpaduan gaya arsitektur Islam dan Neo-Gotik-nya mencerminkan sebagian dari sejarah kota. Hingga kini, masjid ini tetap menjadi bagian ternama dari warisan budaya Tbilisi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More