Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gelombang Panas di Semenanjung Korea Pecahkan Rekor 122 Tahun
potret wilayah Semenanjung Korea (commons.wikimedia.org/NASA)
  • Gelombang panas di Semenanjung Korea memecahkan rekor 122 tahun, dengan suhu mencapai 42,5 derajat Celsius di Korea Selatan dan Korea Utara.
  • Di Korea Selatan, gelombang panas menewaskan 14 orang dan diduga memicu penyakit pada 1.889 warga; pemerintah menyiapkan makanan, minuman, dan obat-obatan.
  • Pyongyang mengalami suhu malam hingga 40 derajat Celsius selama lima hari, sementara gelombang panas juga menewaskan ratusan orang serta memicu kekeringan dan kebakaran hutan di Eropa Barat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Serangan gelombang panas yang kini melanda Semenanjung Korea telah memecahkan rekor 122 tahun. Sebab, fenomena ini membuat suhu di Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) tembus 42,5 derajat celcius. Menurut Badan Meteorologi Korsel pada Senin (3/8/2026), itu merupakan suhu tertinggi yang pernah tercatat di Semenjung Korea dalam 122 tahun terakhir.  

Dilansir Jerusalem Post, gelombang panas yang terjadi di Semenanjung Korea telah memicu Korsel dan Korut untuk mengeluarkan peringatan bahaya. Sebab, suhu di kedua negara tersebut terasa sangat panas sehingga banyak warga yang terluka. Bahkan, beberapa juga ada yang tewas. 

1. Sebanyak 14 orang di Korsel tewas akibat gelombang panas

ilustrasi korban tewas (pexels.com/Mario Wallner)

Menurut data terbaru dari Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korsel pada Minggu (2/8/2026), serangan gelombang panas di wilayahnya sudah menewaskan sekitar 14 orang. Sementara itu, 1.889 lainnya mengalami penyakit yang diduga timbul akibat terkena suhu yang terlampau tinggi. 

Di Korsel, fenomena gelombang panas ini terkonsentrasi di wilayah tenggara. Menurut Badan Meteorologi Korsel, suhu di negaranya diprediksi bakal meningkat lagi pada pekan ini. Suhu udara diperkirakan akan tembus lebih dari 42,5 derajat celcius.

Perdana Menteri Korsel, Han Seong-sook, telah meminta para menterinya untuk menyalurkan bantuan kepada warga yang terdampak gelombang panas. Bantuan yang disalurkan terdiri dari makanan, minuman, dan obat-obatan. 

2. Suhu udara di Korut tetap panas meski malam hari

ilustrasi temperatur udara (unsplash.com/Immo Wegmann)

Di sisi lain, akibat gelombang panas, suhu udara di Korut, khususnya di Ibu Kota Pyongyang, tetap terasa panas meski sudah malam hari. Bahkan, suhunya bisa mencapai 40 derajat celcius. Menurut otoritas setempat, fenomena ini sudah terjadi selama lima hari berturut-turut. 

Pemerintah Korut memprediksi suhu tinggi masih akan terjadi di wilayahnya pada pekan ini. Oleh karena itu, Korut mewanti-wanti semua warganya untuk mengurangi aktivitas di luar rumah agar tidak terpapar suhu ekstrem. Korut juga mewanti-wanti warganya untuk menunda kegiatan liburan, terutama ke tempat-tempat yang banyak terpapar sinar matahari langsung. 

3. Serangan gelombang panas ekstrem juga menyerang Eropa

ilustrasi negara-negara Eropa (pexels.com/Anthony Beck)

Selain di Semenanjung Korea, serangan gelombang panas kini juga menyerang negara-negara di Kawasan Eropa, khususnya Eropa barat. Ada banyak negara di kawasan tersebut yang paling terdampak fenomena ini. Beberapa di antaranya, seperti Jerman, Prancis, Spanyol, Polandia, Republik Ceko, dan Yunani.

Dilansir Times of Israel, serangan gelombang panas di Eropa barat juga telah menewaskan ratusan orang. Selain itu, fenomena ini juga telah menyebabkan kekeringan hebat yang memicu kebakaran hutan di mana-mana. Kebakaran hutan imbas gelombang panas ini kian diperparah oleh hembusan angin kencang. Angin kencang membuat api dengan mudah menyebar.

“Ketika angin bertiup dengan kekuatan sedemikian rupa, bahkan puluhan pesawat yang kita miliki pun tidak dapat beroperasi dengan aman. Ada saat-saat ketika alam dan intensitas fenomena cuaca melampaui perencanaan manusia dan kemampuan operasional apa pun,” tulis Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis, dalam sebuah unggahan di Facebook

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article