Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jepang Dihantam Gelombang Panas Ekstrem, 261 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit

Jepang Dihantam Gelombang Panas Ekstrem, 261 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit
Potret Shibuya Crossing di Tokyo, Jepang. (pixabay/uniquedesign52)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Gelombang panas ekstrem yang melanda Jepang terus meningkat hingga mengancam keselamatan jiwa, sehingga memicu situasi darurat kesehatan publik di berbagai wilayah. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi Jepang (JMA), sistem tekanan tinggi memicu lonjakan suhu berbahaya, bahkan menembus ambang batas 40 derajat celcius di sejumlah kota di Jepang tengah. Fenomena ini diperparah oleh berakhirnya musim hujan di sebagian besar kepulauan Jepang, memicu peringatan bahaya heatstroke (serangan panas) di lebih dari 40 prefektur, mulai dari wilayah Tohoku hingga Okinawa.

Suhu tertinggi tercatat di Kota Tajimi di Prefektur Gifu yang mencapai 40,3 derajat Celcius. Kondisi serupa terjadi di Kota Toyota, Prefektur Aichi, yang mencatat rekor suhu tertinggi sebesar 40,1 derajat Celcius, serta Kota Gujo yang menyentuh angka 40 derajat Celcius. Wilayah lain, seperti Nagoya dan Kyoto turut melaporkan suhu masing-masing mendekati 39,7 derajat celcius dan 38,2 derajat celcius, dilansir NHK News.

Kondisi ekstrem ini menandai munculnya status kokushobi atau hari yang sangat panas. Kokushobi adalah istilah resmi baru dari JMA untuk mengkategorikan hari dengan suhu melebihi 40 derajat Celcius atau lebih, guna memperingatkan publik atas ancaman fatal dari cuaca panas.

1. Dampak dari gelombang panas yang melanda Jepang

Ilustrasi unit gawat darurat di rumah sakit.
Ilustrasi unit gawat darurat di rumah sakit. (pexels.com/Pixabay)

Kyodo News melaporkan pada Rabu (22/7/2026), dampak kesehatan akibat cuaca terik ini kian fatal. Di Tokyo, Dinas Pemadam Kebakaran mengonfirmasi rekor harian tertinggi dengan melarikan sebanyak 261 orang ke rumah sakit dalam satu hari akibat dugaan heatstroke. Panggilan darurat ambulans pun melonjak ke angka tertinggi dengan total sementara 3.454, sejak pencatatan dimulai pada 1963.

Kelompok lanjut usia (lansia) menjadi yang paling rentan, dengan lansia berusia di atas 60 tahun mendominasi lebih dari separuh total kasus darurat, sementara beberapa di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis.

Dampak dari gelombang panas ini telah memicu sejumlah kasus kematian di berbagai prefektur. Seorang laki-laki lansia berusia 84 tahun di Tochigi tewas setelah ditemukan pingsan di dalam rumah kaca plastik oleh putranya dan kemudian dinyatakan meninggal di rumah sakit. Sementara, beberapa warga lainnya di Kanagawa, Niigata, dan Tokyo dilaporkan meninggal dunia setelah ditemukan tak sadarkan diri di jalan, maupun di dalam rumah.

Gelombang panas ini turut mengganggu sektor bisnis dan kegiatan ruang terbuka. Sejumlah laga olahraga, termasuk pertandingan bisbol liga junior di Saitama, terpaksa dihentikan pertengah jalan demi melindungi para atlet dan penonton dari paparan suhu berbahaya.

2. Warga diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan

Potret para turis memadati Fushimi Inari Taisha di Kyoto, Jepang.
Potret para turis memadati Fushimi Inari Taisha di Kyoto, Jepang. (unsplash.com/Ye Min Htet)

Dilansir Asahi Shimbun, untuk menanggulangi krisis kesehatan yang melonjak cepat, para peneliti dari Nippon Medical School dan National Institute for Environmental Studies meluncurkan aplikasi penilai risiko heatstroke berbasis respons darurat secara real-time. Aplikasi ini memungkinkan warga, maupun petugas medis mengevaluasi tingkat keparahan gejala secara mandiri, memberikan panduan pertolongan pertama, sekaligus membantu otoritas lokal dalam memetakan, serta menyiagakan armada ambulans ke titik-titik krusial secara lebih cepat dan responsif.

Pihak berwenang juga mengimbau masyarakat luas untuk mengambil langkah pencegahan ketat, guna meminimalisasi risiko serangan panas. Warga didesak untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, mengonsumsi air dan garam dalam jumlah cukup, serta memanfaatkan pendingin ruangan (AC). Masyarakat juga diharapkan untuk memberikan perhatian khusus dengan secara aktif memantau kondisi kerabat lansia dan anak-anak yang jauh lebih rentan terhadap dehidrasi ekstrem.

3. Gelombang panas di Jepang akan bertahan hingga beberapa bulan ke depan

Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Roméo A.)
Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Roméo A.)

JMA memperkirakan bahwa cuaca panas terik ini belum akan mereda dalam waktu dekat dan berpotensi bertahan sepanjang pekan. Wilayah seperti Kumagaya, Kofu, Nagoya, hingga pusat kota Tokyo diprediksi masih akan terus mencatatkan suhu harian berkisar antara 37-40 derajat celcius. Menurut analisis meteorologi, tingginya suhu permukaan laut dan pola atmosfer saat ini mengindikasikan bahwa hawa panas di atas rata-rata berpeluang bertahan hingga beberapa bulan ke depan.

Selain memicu gelombang panas yang berkepanjangan, tingginya suhu permukaan laut di sekitar kepulauan Jepang juga menambah potensi ancaman cuaca ekstrem lainnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi pemanasan global dan fenomena El Nino yang meningkatkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Para pejabat cuaca memperingatkan bahwa kondisi tersebut berisiko memicu dan mempertahankan kekuatan badai topan yang mendekati wilayah Jepang selama periode Agustus hingga Oktober. Masyarakat diminta untuk terus memantau perkembangan prakiraan cuaca secara berkala.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More