Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Imbas Kebocoran Minyak Kapal Tanker di UEA, Wisata Pantai Ditutup
Tanda tutup (magnific.com/magnific)
  • Tumpahan minyak dari tanker VLCC Gem No. 2 yang sebelumnya terbakar meluas hingga sekitar 160 kilometer persegi di lepas pantai Umm Al Quwain, berdasarkan pantauan satelit 24 Oktober 2026.
  • Tiga emirat membatasi akses pesisir: Umm Al Quwain menutup seluruh pantai dan melarang nelayan melaut, Sharjah menutup Pantai Al Hamriyah, serta Ras Al Khaimah menutup garis pantainya.
  • Otoritas melakukan pembersihan dan pemantauan arus minyak karena pencemaran berisiko merusak mangrove serta biota laut, juga mengancam fasilitas desalinasi yang memasok air bersih pesisir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Tumpahan minyak mentah dari sebuah kapal tanker yang rusak di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA) kian meluas hingga mendekati kawasan pesisir Umm Al Quwain. Pencemaran laut ini memaksa otoritas menutup sejumlah pantai umum dan memicu kekhawatiran atas ancaman kerusakan lingkungan di perairan Teluk.

Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan UEA bersama pemerintah daerah setempat segera menggelar operasi pembersihan di sepanjang garis pantai yang terdampak. Tim ahli juga terus memantau pergerakan arus minyak guna mencegah gangguan pada ekosistem laut serta fasilitas penyulingan air bersih (desalinasi).

1. Sebaran tumpahan minyak menurut pantauan satelit

ilustrasi tumpahan minyak (pexels.com/Jared Brotman)

Berdasarkan pantauan satelit Copernicus Sentinel-2 milik Uni Eropa per 24 Oktober 2026, lapisan minyak berwarna gelap tampak menyelimuti area laut seluas 160 kilometer persegi di dekat daratan Umm Al Quwain. Titik pusat tumpahan tersebut berjarak sekitar 25 kilometer dari garis pantai dan teridentifikasi berasal dari kapal tanker VLCC Gem No. 2.

"Minyak yang mencapai pesisir Uni Emirat Arab pada 23 Oktober bersumber dari kapal tanker Gem No. 2," kata CEO Orbital Risk Intelligence, Martin Kelly, dilansir India Today.

Kapal tanker bermuatan penuh tersebut sebelumnya terbakar akibat hantaman proyektil pada awal Oktober, dengan 22 anak buah kapal (ABK) berhasil dievakuasi oleh Penjaga Pantai UEA. Meski volume muatan yang bocor belum diumumkan secara resmi, rembesan yang belum tertangani sepenuhnya terus memperluas area pencemaran di laut lepas.

2. Penutupan kawasan pesisir di tiga emirat

ilustrasi tumpahan minyak pada air laut (unsplash.com/Josue Michel)

Dorongan arus laut membawa lapisan minyak ke perairan dangkal sehingga memaksa tiga emirat membatasi akses masyarakat ke pesisir. Otoritas Umm Al Quwain menutup seluruh pantai serta melarang nelayan melaut, Pemerintah Sharjah menutup Pantai Al Hamriyah, sementara Ras Al Khaimah menutup total seluruh garis pantainya sejak Sabtu (24/10/2026).

"Seluruh kawasan pesisir ditutup sementara waktu hingga tim teknis menyelesaikan pemeriksaan keselamatan dan perlindungan lingkungan laut," demikian bunyi pernyataan resmi Kementerian Lingkungan Hidup UEA.

Selain mencemari air, penguapan minyak mentah memicu bau menyengat yang tercium hingga ke kawasan Sharjah, Ajman, Umm Al Quwain, dan Dubai. Pemerintah memastikan bahwa aroma tersebut tidak membahayakan kesehatan, namun tetap mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan mematuhi batas garis pengaman di pantai.

3. Ancaman kerusakan ekosistem laut dan pasokan air bersih

ilustrasi tumpahan minyak di lautan (greenpeace.org)

Pakar lingkungan memperingatkan bahwa tumpahan minyak mentah ini berpotensi merusak hutan bakau (mangrove) dan mengancam biota laut langka, seperti penyu, lumba-lumba, serta lebih dari 500 spesies ikan di kawasan tersebut. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer kawasan yang memicu maraknya serangan terhadap kapal di Teluk Persia dan Selat Hormuz.

"Tumpahan minyak di lepas pantai Umm Al Quwain adalah persoalan yang sangat serius. Langkah penutupan pantai sementara merupakan tindakan pencegahan yang tepat," ujar Direktur Riset Air NYU Abu Dhabi, Profesor Nidal Hilal.

Selain mengancam kelestarian biota laut, gumpalan minyak juga dikhawatirkan tersedot ke dalam pipa fasilitas penyulingan air (desalinasi). Fasilitas ini merupakan sumber utama pemenuhan kebutuhan air bersih bagi sebagian besar warga di kawasan pesisir Uni Emirat Arab.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article