Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Inggris Dakwa Dua Pria atas Dugaan Bantuan Intelijen untuk Iran
Pangkalan Udara Inggris RAF Fairford (Steve Lynes from Sandshurst, United Kingdom, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
  • Inggris mendakwa Mohmed Ahmad Abdulkarim dan Nouman Essghir atas dugaan membantu intelijen Iran serta memasuki area terlarang yang merugikan keamanan nasional.
  • Essghir ditahan, sementara Abdulkarim mendapat jaminan bersyarat dan wajib menyerahkan paspor; sidang lanjutan keduanya dijadwalkan di Old Bailey pada 20 November.
  • Penyelidikan bermula dari tiga van mencurigakan dekat RAF Fairford; polisi menyita bensin tanpa menemukan bahan peledak, lalu menangkap total delapan pria dalam rangkaian operasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kejaksaan Inggris mendakwa dua pria berusia 24 tahun, Mohmed Ahmad Abdulkarim dan Nouman Essghir, berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional 2023 pada Selasa (27/10/2026). Dakwaan ini menyusul penyelidikan insiden mencurigakan di dekat pangkalan udara RAF Fairford di Gloucestershire, Inggris, bulan lalu. Pangkalan udara tersebut merupakan lokasi operasi utama yang digunakan pesawat pengebom militer Amerika Serikat (AS).

Layanan Kejaksaan Kerajaan Inggris (CPS) menyatakan bahwa Abdulkarim didakwa membantu dinas intelijen asing antara 31 Agustus hingga 28 September 2026. Kepolisian kontraterorisme Inggris meyakini negara asing yang dibantu warga asal Westminster, London, tersebut adalah Iran. Sementara itu, Essghir didakwa memasuki tempat terlarang untuk tujuan yang merugikan keamanan Inggris.

1. Proses persidangan dan rincian dakwaan kedua terdakwa

Ilustrasi pengadilan. (unsplash.com/Tingey Injury Law Firm)

Abdulkarim dan Essghir telah menjalani sidang perdana di Pengadilan Magistrat Westminster, London, pada Selasa. Dalam persidangan tersebut, dakwaan terhadap Essghir diketahui berkaitan dengan dugaan misi pengintaian pada 22 Agustus 2026, sekitar sebulan sebelum insiden di RAF Fairford. Sementara itu, Abdulkarim didakwa membantu merencanakan plot tersebut.

Pengadilan memutuskan untuk menahan Essghir, sedangkan Abdulkarim diberikan jaminan bersyarat termasuk kewajiban menyerahkan paspornya. Sidang lanjutan untuk kedua terdakwa dijadwalkan berlangsung di Pengadilan Old Bailey pada 20 November mendatang. CPS menegaskan bahwa dakwaan ini bukan putusan bersalah dan kedua terdakwa berhak atas persidangan yang adil.

Kepala Kepolisian Kontraterorisme Nasional Inggris, Asisten Komisaris Laurence Taylor, menjelaskan bahwa kepolisian sempat membebaskan para tersangka awal dengan jaminan pada September lalu. Keputusan tersebut sempat memicu pertanyaan publik dan keheranan dari Presiden AS, Donald Trump, tetapi langkah itu justru dinilai membantu penyelidik mendapatkan bukti yang lebih kuat.

"Kami tahu keputusan yang diambil selama penyelidikan terkadang tampak tidak logis bagi pihak luar, tetapi saya ingin memperjelas bahwa akan selalu ada alasan kuat di baliknya. Dalam kasus ini, pengambilan keputusan tersebut menghasilkan kemajuan yang lebih cepat, bukti yang lebih baik, dan akhirnya memastikan dakwaan yang saya umumkan hari ini," ujar Taylor, dilansir BBC.

2. Kronologi penangkapan di dekat pangkalan udara RAF Fairford

ilustrasi polisi Inggris (unsplash.com/ James Eades)

Kasus ini bermula ketika tiga mobil van berlogo Fuel2You terlihat bergerak mencurigakan di dekat pangkalan RAF Fairford pada Minggu (27/9/2026) dini hari. Kendaraan tersebut berpapasan dengan barikade polisi Kementerian Pertahanan Inggris lalu berbelok ke arah lain. Petugas bersenjata kemudian merespons laporan masyarakat dan menangkap lima pria, termasuk Essghir, di area desa Whelford yang berjarak sekitar satu mil dari pangkalan.

Otoritas setempat sempat menetapkan status insiden besar dan mengevakuasi sekitar 85 keluarga di sekitar lokasi kejadian. Tim penjinak bahan peledak militer dikerahkan untuk memeriksa ketiga van tersebut di dalam radius pengamanan 400 meter. Polisi tidak menemukan rangkaian bahan peledak di dalam kendaraan, tetapi menyita sejumlah bensin.

Lima pria yang ditangkap di lokasi sempat dibebaskan dengan jaminan polisi keesokan harinya. Penyelidikan terus berlanjut hingga total delapan pria berusia 20-an tahun ditangkap dalam rangkaian operasi ini. Polisi kemudian menangkap kembali Essghir bersama seorang pria berkewarganegaraan ganda Inggris-Iran berusia 25 tahun pada 20 Oktober 2026.

Penangkapan ulang pada Oktober mengarahkan detektif untuk memeriksa dan mendakwa Abdulkarim. Sementara itu, pria berusia 25 tahun yang ditangkap bersama Essghir akhirnya dibebaskan tanpa dakwaan. Saat ini, enam pria lainnya yang sempat ditangkap dalam kasus tersebut masih berstatus bebas dengan jaminan polisi.

3. Pangkalan Fairford digunakan untuk operasi pesawat pengebom AS

pesawat pengebom siluman B-2 Spirit milik AS. (wikimedia.org/U.S. Air Force)

RAF Fairford telah digunakan Angkatan Udara AS selama puluhan tahun sebagai pangkalan operasi depan di Eropa. Dalam beberapa bulan terakhir, militer AS menerbangkan pesawat pengebom B-1 dan B-52 dari pangkalan ini ke Timur Tengah setelah Inggris menyetujui penggunaannya untuk operasi defensif terhadap sasaran militer Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya sempat menetapkan pangkalan di Gloucestershire tersebut sebagai target yang sah.

Menyusul insiden keamanan pada akhir September itu, AS menarik sekitar selusin pesawat pengebom B-1 dari RAF Fairford dan mengembalikannya ke pangkalan utama di AS. Presiden Trump menyatakan bahwa penarikan pesawat pengebom tersebut dilakukan karena adanya sejumlah ancaman terhadap pangkalan. Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, juga menyebut aktivitas mencurigakan di RAF Fairford kemungkinan besar dikoordinasikan dari Iran, meski tudingan itu telah dibantah duta besar Iran di London.

"Kami telah melihat serangkaian insiden dalam beberapa bulan terakhir yang kami yakini diarahkan oleh negara Iran, dan seperti yang dikatakan Direktur Jenderal MI5 pekan lalu, kami bekerja sama untuk mengintervensi, mengidentifikasi, dan merespons ancaman tersebut," kata Taylor, dilansir Al Jazeera.

Sepanjang tahun lalu, pemerintah Inggris mencatat ada 20 ancaman kredibel yang didukung Iran untuk membunuh atau menculik individu di wilayah Inggris. Pada Juli, Inggris juga menggunakan wewenang baru untuk melarang dukungan terhadap IRGC dan kelompok terafiliasinya, Harakat Ashab al-Yamin al-Islamiya (HAYI). Kelompok HAYI sebelumnya mengklaim bertanggung jawab atas tujuh serangan awal tahun ini di lokasi yang berkaitan dengan komunitas Yahudi, Israel, dan media berbahasa Persia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article