pesawat pengebom siluman B-2 Spirit milik AS. (wikimedia.org/U.S. Air Force)
RAF Fairford telah digunakan Angkatan Udara AS selama puluhan tahun sebagai pangkalan operasi depan di Eropa. Dalam beberapa bulan terakhir, militer AS menerbangkan pesawat pengebom B-1 dan B-52 dari pangkalan ini ke Timur Tengah setelah Inggris menyetujui penggunaannya untuk operasi defensif terhadap sasaran militer Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya sempat menetapkan pangkalan di Gloucestershire tersebut sebagai target yang sah.
Menyusul insiden keamanan pada akhir September itu, AS menarik sekitar selusin pesawat pengebom B-1 dari RAF Fairford dan mengembalikannya ke pangkalan utama di AS. Presiden Trump menyatakan bahwa penarikan pesawat pengebom tersebut dilakukan karena adanya sejumlah ancaman terhadap pangkalan. Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, juga menyebut aktivitas mencurigakan di RAF Fairford kemungkinan besar dikoordinasikan dari Iran, meski tudingan itu telah dibantah duta besar Iran di London.
"Kami telah melihat serangkaian insiden dalam beberapa bulan terakhir yang kami yakini diarahkan oleh negara Iran, dan seperti yang dikatakan Direktur Jenderal MI5 pekan lalu, kami bekerja sama untuk mengintervensi, mengidentifikasi, dan merespons ancaman tersebut," kata Taylor, dilansir Al Jazeera.
Sepanjang tahun lalu, pemerintah Inggris mencatat ada 20 ancaman kredibel yang didukung Iran untuk membunuh atau menculik individu di wilayah Inggris. Pada Juli, Inggris juga menggunakan wewenang baru untuk melarang dukungan terhadap IRGC dan kelompok terafiliasinya, Harakat Ashab al-Yamin al-Islamiya (HAYI). Kelompok HAYI sebelumnya mengklaim bertanggung jawab atas tujuh serangan awal tahun ini di lokasi yang berkaitan dengan komunitas Yahudi, Israel, dan media berbahasa Persia.