Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Inggris Kesulitan Lacak 95 Ribu Personel Cadangan yang Siap Dipanggil
ilustrasi tentara (pexels.com/Art Guzman)
  • Kementerian Pertahanan Inggris kehilangan jejak sekitar 95 ribu personel cadangan strategis yang masih memiliki kewajiban untuk dipanggil kembali saat keadaan darurat nasional.
  • Tinjauan Pertahanan Strategis merekomendasikan pemetaan ulang lokasi dan keahlian para veteran, serta peningkatan komunikasi guna memperkuat kesiapan militer di tengah penurunan jumlah pasukan aktif.
  • Lord George Robertson mengkritik ketimpangan anggaran antara kesejahteraan dan pertahanan, menilai kondisi tersebut membuat Inggris kurang siap menghadapi ancaman global yang meningkat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Kementerian Pertahanan Inggris mengaku tak mengetahui posisi terkini mayoritas dari sekitar 95 ribu mantan prajurit dan perwira yang tergabung dalam Cadangan Strategis. Padahal, seluruh individu tersebut masih memiliki kewenangan untuk dipanggil kembali bila negara menghadapi kondisi darurat.

Sorotan atas persoalan ini disampaikan oleh Lord George Robertson, eks Menteri Pertahanan sekaligus eks Sekretaris Jenderal NATO, dalam sebuah acara di Salisbury, Wiltshire pada pekan ini. Ia menjelaskan bahwa Tinjauan Pertahanan Strategis (SDR) membahas kelompok cadangan yang mencakup semua individu yang pernah bertugas di militer dan masih memiliki kewajiban lanjutan.

“Tetapi Kementerian Pertahanan saat ini bahkan tidak mengetahui di mana sebagian besar dari mereka berada. Jadi kita perlu semacam mengumpulkan mereka yang tersedia, fit, dan bersedia untuk melakukannya,” katanya, dikutip Daily Mail.

1. Aturan Inggris mewajibkan veteran siap dipanggil kembali

ilustrasi regulasi (pexels.com/Markus Spiske)

Berdasarkan regulasi yang berlaku di Inggris, seluruh mantan personel baik dari angkatan reguler maupun cadangan memiliki kewajiban seumur hidup untuk kembali bertugas jika dibutuhkan.

Kementerian Pertahanan hanya menjaga komunikasi dengan para veteran dalam enam tahun pertama setelah mereka keluar dari dinas aktif. Kontak dilakukan melalui surat pelaporan tahunan yang dikirim pada tanggal ulang tahun pemecatan mereka. Dalam periode tersebut, para veteran wajib memperbarui informasi kontak secara mandiri.

Setelah melewati enam tahun, pencatatan terhadap kelompok veteran yang lebih besar tidak lagi dilakukan dengan metode serupa. Sistem pelacakan yang lebih ketat tersebut sebagian besar berhenti sejak berakhirnya Perang Dingin.

2. Tinjauan pertahanan dorong pemetaan ulang cadangan strategis

ilustrasi tentara (pexels.com/Imprensa Agruban)

Tinjauan Pertahanan Strategis atau SDR yang dipimpin bersama oleh Lord George Robertson, Jenderal Richard Barrons, serta Fiona Hill merekomendasikan langkah cepat. Fiona Hill dikenal sebagai mantan penasihat utama soal Rusia untuk Gedung Putih.

Dokumen SDR mendesak pemerintah untuk segera mengidentifikasi lokasi serta keahlian para anggota cadangan strategis. Selain itu, pemerintah juga diminta menyusun pola komunikasi yang lebih efektif dengan para veteran guna meningkatkan keterlibatan mereka.

Di sisi lain, Angkatan Bersenjata Inggris menghadapi tekanan dalam hal perekrutan dan retensi personel. Jumlah pasukan reguler menyusut dari lebih dari 100 ribu orang pada 2010 menjadi sekitar 70 ribu saat ini. Sementara itu, cadangan aktif yang bertugas paruh waktu maupun penuh waktu tercatat sekitar 32 ribu orang.

Melalui Rancangan Undang-Undang Angkatan Bersenjata, pemerintah berencana menaikkan batas usia pemanggilan kembali dari 55 tahun menjadi 65 tahun mulai tahun depan. Aturan ini juga memperluas dasar hukum pemanggilan, tidak hanya untuk menghadapi serangan langsung ke Inggris tetapi juga mencakup operasi seperti perang.

3. Kritik muncul atas anggaran dan kesiapan pertahanan Inggris

ilustrasi bendera Inggris (pexels.com/James Frid)

Lord George Robertson menilai keseimbangan belanja pemerintah saat ini bermasalah. Ia menyebut kondisi global yang semakin berisiko membuat Inggris tak bisa hanya bergantung pada anggaran kesejahteraan yang terus meningkat.

Ia juga mengungkapkan bahwa anggaran kesejahteraan saat ini lima kali lebih besar dibandingkan anggaran pertahanan. Robertson memperingatkan kondisi tersebut membuat negara menjadi kurang siap, kurang terlindungi, tengah menghadapi ancaman, dan berada dalam situasi tidak aman.

Lord John Hutton, anggota House of Lords dari Partai Buruh yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan serta Menteri Kerja dan Pensiun, menyuarakan kekhawatiran serupa.

Royal United Services Institute (RUSI) turut menyoroti pendekatan pemerintah dalam dokumen pengarahan bulan Februari, terutama terkait kejelasan pendanaan, persenjataan, pelatihan, dan integrasi personel yang dipanggil kembali.

“Kami juga terus meningkatkan data kami dan berkomunikasi dengan komunitas Cadangan Strategis kami untuk memobilisasi bakat dengan cepat ketika itu paling penting,” ujarnya, dikutip The Guardian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team