Inggris dan Prancis Pimpin Misi Pengamanan Selat Hormuz

- Prancis dan Inggris sepakat memimpin misi multinasional untuk mengamankan Selat Hormuz, dengan fokus pada pengawalan kapal niaga dan pembersihan ranjau laut setelah gencatan senjata permanen tercapai.
- Sejumlah negara Eropa seperti Italia, Jerman, dan Prancis berkontribusi lewat pengerahan kapal perang serta dukungan logistik, sementara konferensi lanjutan akan digelar di London pekan depan.
- Amerika Serikat menolak bantuan NATO di Selat Hormuz dan tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran, meski penutupan selat telah memicu krisis energi dan inflasi global.
Jakarta, IDN Times - Prancis dan Inggris resmi memimpin sebuah misi militer multinasional untuk mengamankan Selat Hormuz. Kesepakatan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Elysee, Paris, pada Jumat (17/4/2026).
Sebanyak 51 negara ikut serta dalam konferensi tingkat tinggi di Paris untuk mematangkan rencana pengamanan selat. Namun, Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak terlibat dalam pertemuan ini.
1. Misi bertujuan untuk mengawal kapal komersial

Misi ini diberi nama Inisiatif Kebebasan Navigasi Maritim Selat Hormuz. Pasukan koalisi nantinya akan berfokus pada operasi pengawalan kapal niaga yang bersifat damai dan defensif.
Pasukan multinasional baru akan dikerahkan ketika kesepakatan gencatan senjata permanen telah tercapai di kawasan Timur Tengah. Selain mengawal kapal niaga, armada tersebut juga ditugaskan untuk melakukan operasi pembersihan ranjau laut secara menyeluruh.
"Kami sepakat untuk mempercepat perencanaan militer, dan saya mengonfirmasi bahwa Prancis dan Inggris akan memimpin misi multinasional untuk melindungi kebebasan berlayar sesegera mungkin saat kondisi memungkinkan," ujar Starmer, dilansir Politico.
Kedua negara sepakat untuk menggelar konferensi perencanaan militer tingkat lanjut guna mematangkan strategi operasi di lapangan. Pertemuan lanjutan dijadwalkan akan berlangsung di London pada pekan depan.
2. Negara-negara Eropa kerahkan kapal untuk dukung misi

Beberapa negara telah mengumumkan rencana kontribusi mereka untuk misi ini. Inggris berencana mengerahkan drone pemburu ranjau yang akan dioperasikan dari armada kapal RFA Lyme Bay.
Sementara itu, Prancis akan mengirimkan kapal induk bertenaga nuklir mereka menuju Selat Hormuz. Paris juga berencana mengerahkan kapal pengangkut helikopter dan beberapa unit fregat militer.
Italia telah menawarkan diri untuk mengerahkan kapal-kapal fregat angkatan laut ke Teluk. Dukungan juga datang dari pemerintah Jerman yang bersedia menyediakan tambahan unit kapal penyapu ranjau.
Negara-negara lain akan memberikan kontribusi beragam mulai dari logistik dan finansial. Namun, Kanselir Jerman Friedrich Merz berharap agar AS kelak bisa ikut dilibatkan dalam misi ini.
3. AS tolak bantuan NATO di Selat Hormuz

Alih-alih menyambut baik, AS justru menolak tawaran bantuan Eropa di Selat Hormuz. Melalui media sosialnya, Presiden AS Donald Trump bahkan meminta sekutu NATO untuk menjauh dari wilayah konflik.
"Saya menerima telepon dari pihak NATO yang bertanya apakah kami membutuhkan bantuan mereka. Saya menyuruh mereka untuk menjauh, kecuali mereka hanya ingin memuat kapal dengan minyak," tulis Trump, dilansir Politico.
Penolakan ini muncul berbarengan dengan pengumuman pemerintah Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, AS akan tetap mempertahankan blokade laut mereka terhadap seluruh kapal yang menuju pelabuhan Iran.
Penutupan Selat Hormuz telah memberikan rentetan pukulan bagi perekonomian dunia. Krisis ini memicu lonjakan inflasi, krisis energi dan membuat lebih dari 20 ribu pelaut terjebak di perairan Teluk.
















