Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Iran dan Oman Sepakati Jalur Transit Sementara di Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Iran dan Oman menyepakati jalur transit sementara selebar 13 kilometer di Selat Hormuz, setelah pertemuan menteri luar negeri kedua negara di Teheran.
  • Rute masuk menuju Teluk Persia melintasi perairan Iran, sementara jalur keluar melalui perairan Iran dan Oman; jalur selatan komersial sebelumnya ditutup.
  • Kedua negara merencanakan pembersihan ranjau dan pembahasan rute permanen, sementara Iran menegaskan Selat Hormuz belum dibuka penuh sebelum tuntutannya kepada AS dipenuhi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran dan Oman menyepakati pembukaan jalur transit sementara di Selat Hormuz. Kesepakatan bertahap ini dicapai setelah Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Teheran pada Selasa (25/8/2026).

Jalur ini dirancang sebagai langkah transisi sebelum kedua belah pihak merumuskan rute navigasi permanen. Kendati demikian, Teheran menegaskan kesepakatan tersebut tidak berarti Selat Hormuz telah dibuka sepenuhnya bagi seluruh kapal internasional.

1. Jalur sementara memiliki lebar 13 kilometer

citra satelit Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kementerian Luar Negeri Oman mengonfirmasi pembicaraan di Teheran telah berlangsung konstruktif dan bertujuan untuk memulihkan keamanan navigasi. Kedua negara menyepakati kerangka kerja bertahap yang menghormati kedaulatan maritim masing-masing.

Koridor pelayaran yang disepakati akan memiliki lebar 7 mil laut (13 kilometer). Jalur masuk kapal menuju Teluk Persia akan sepenuhnya melintasi perairan teritorial Iran, sedangkan rute keluar melewati sebagian perairan Iran dan Oman.

Penerapan rute baru ini secara langsung menutup jalur pelayaran selatan yang sebelumnya dilalui kapal-kapal komersial di bawah perlindungan militer Amerika Serikat (AS). Pembicaraan teknis lanjutan akan berlangsung selama 30 hingga 60 hari ke depan guna menetapkan rute permanen dan tata kelola layanan navigasi.

2. Iran-Oman juga akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz

kapal AS membersihkan ranjau di Selat Hormuz (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kerangka kerja sama yang dirancang Iran dan Oman juga memuat rencana proyek bersama untuk membersihkan ranjau di Selat Hormuz. Pembersihan ini dinilai penting untuk memulihkan arus kapal tanker pembawa pasokan minyak dan gas cair dunia.

Rencana tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump di media sosial. Trump sebelumnya mengklaim Angkatan Laut AS telah sukses mengangkat dan meledakkan seluruh ranjau di Selat Hormuz dan memperingatkan Iran agar tidak memasang ranjau baru.

Teheran membantah pernyataan tersebut dan menilainya sebagai cara AS untuk menenangkan gejolak pasar energi global. Militer Iran memperingatkan pihaknya tidak akan segan menargetkan kapal pembersih ranjau AS yang masuk ke perairan tersebut.

"Jika AS mengklaim ranjau telah sepenuhnya dibersihkan, mengapa tidak ada kapal AS yang melintas? Tidak ada yang tahu lokasi ranjau ini selain Iran,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, dilansir Turkiye Today.

3. Iran tidak akan buka Selat Hormuz sampai perang berhenti total

Ilustrasi bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Pemerintah Iran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka secara penuh sebelum AS memenuhi kewajiban dalam Nota Kesepahaman Islamabad. Teheran menuntut penghentian perang di semua front, pembukaan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, pencabutan sanksi, serta penyelesaian status konflik Yaman.

Di tengah tingginya tensi, Panglima Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir bertandang ke Teheran untuk menjalankan misi mediasi. Kunjungan tersebut membawa pesan diplomatik terkait pemenuhan komitmen pembukaan selat setelah Munir berkomunikasi dengan pihak AS.

Pemerintah AS menyatakan pihaknya masih menahan diri dari serangan militer baru dan memilih memaksimalkan sanksi ekonomi untuk menekan Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengungkap pendekatan pengetatan ekonomi ini akan dipertahankan setidaknya hingga pemilihan umum sela mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article