Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Iran Tepis Isu Krisis Ekonomi dan Amankan Cadangan Devisa
Bendera Iran (magnific.com/www.slon.pics)
  • Bank Sentral Iran siap menggelontorkan hingga 2 miliar dolar AS ke pasar valas untuk menjaga impor kebutuhan pokok, obat-obatan, dan pembiayaan manufaktur tanpa mencetak uang baru.
  • Iran menepis klaim AS bahwa sanksi telah melumpuhkan ekonominya. Gubernur CBI menyatakan cadangan devisa cukup, meski mengakui kondisi ekonomi sulit dan mengimbau publik tidak panik.
  • Rial menembus 2 juta per dolar AS di pasar bebas, sementara inflasi tahunan mencapai 66 persen. AS juga menyiapkan pembatasan transaksi baru terhadap sektor perbankan Iran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kondisi stabilitas moneter Iran menjadi sorotan setelah otoritas keuangan negara tersebut menegaskan ketahanan cadangan devisanya pada Selasa (1/9/2026). Pemerintah Iran memastikan ketersediaan dana valuta asing (valas) tetap aman guna menopang aktivitas perdagangan pokok di tengah gempuran sanksi sepihak.

Langkah stabilisasi ini dirancang untuk merespons dinamika sektor perbankan global yang kian menghimpit pergerakan transaksi komersial negara tersebut. Kebijakan moneter itu sekaligus bertujuan meredam kepanikan para pelaku usaha domestik terhadap prospek fiskal negara.

1. Bank Sentral Iran siap intervensi pasar valas

Bank Sentral Iran (CBI) mengumumkan kesiapan penuh untuk mengucurkan likuiditas darurat hingga 2 miliar dolar AS (Rp35,39 triliun) ke pasar valas demi meredam gejolak nilai tukar. Intervensi ini difokuskan untuk mengamankan impor komoditas esensial serta pasokan obat-obatan bagi masyarakat.

Otoritas moneter menyatakan terus menagih piutang devisa dan mengamankan cadangan domestik di sejumlah fasilitas keuangan rahasia. Alokasi dana valas ini diproyeksikan sanggup memenuhi kebutuhan sektor manufaktur nasional hingga akhir tahun.

Skema pembiayaan produksi tersebut dijalankan melalui instrumen terukur tanpa mencetak uang baru yang berisiko memperburuk neraca perdagangan.

"Kami tidak akan menghadapi masalah pasokan valas dan siap menyediakan uang tunai yang dibutuhkan para pengusaha," tegas Gubernur CBI, Abdolnaser Hemmati, dilansir The Star.

2. Teheran tepis klaim perang ekonomi Washington

Eskalasi ketegangan moneter memanas usai Departemen Keuangan Amerika Serikat mengklaim posisi Teheran kian rapuh akibat isolasi sistem keuangan global. Washington menilai sanksi ekonomi yang telah berlangsung berbulan-bulan sukses melumpuhkan pendapatan negara tersebut.

Otoritas AS juga menuding manuver militer Iran belakangan ini murni sebagai pelampiasan atas keterpurukan finansial yang makin parah. Menepis tudingan itu, CBI secara terbuka mengirimkan pesan menohok kepada pimpinan tertinggi AS mengenai solidnya ketersediaan kas negara.

"Saya sampaikan kepada Presiden AS bahwa Iran memiliki cadangan mata uang asing yang sangat cukup," balas Hemmati.

Ia juga mengimbau publik domestik agar tidak termakan isu soal ancaman kolapsnya perekonomian Iran.

"Saya katakan dengan jujur bahwa kondisi ekonomi memang sulit, tetapi keruntuhan tidak akan pernah terjadi. Klaim tersebut hanyalah perang urat saraf dan situasinya akan segera mereda," ujar Hemmati.

3. Fluktuasi nilai tukar rial dan ancaman sanksi baru

Tekanan ekonomi di dalam negeri makin terasa setelah nilai tukar rial terperosok ke rekor terendah, menembus level 2 juta rial (Rp25,7 ribu) per dolar AS di pasar bebas. Depresiasi drastis ini memperberat beban biaya hidup masyarakat menyusul laju inflasi tahunan yang meroket hingga 66 persen.

Memanfaatkan momentum tersebut, Washington bersiap melipatgandakan tekanan dengan merancang pembatasan transaksi baru yang spesifik menyasar sektor perbankan Iran. Pemerintah AS turut memperingatkan mitra internasional dan perusahaan leasing maskapai penerbangan agar tidak memfasilitasi transaksi bisnis dengan Teheran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article