Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Israel Akui Gencatan Senjata Lebanon Masih Sangat Rentan
Pasukan Hizbullah melakukan latihan di desa Aaramta di distrik Jezzine, Lebanon selatan, pada Mei 2023 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
  • Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyebut gencatan senjata dengan Lebanon masih rapuh meski telah diperpanjang tiga minggu dan situasi di lapangan belum sepenuhnya stabil.
  • Israel menegaskan akan tetap merespons setiap ancaman dari Hizbullah karena serangan roket terus terjadi, sementara efektivitas pemerintah Lebanon dalam menjaga stabilitas dinilai lemah.
  • Bentrokan antara pasukan Israel dan Hizbullah masih berlangsung di tengah gencatan senjata, termasuk serangan drone dan udara yang menunjukkan kondisi keamanan tetap mudah memanas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon kembali dipertanyakan hanya beberapa jam setelah diumumkan perpanjangannya. Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyebut situasi di lapangan masih jauh dari stabil.

Pernyataan itu disampaikan Danon dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, kurang dari dua jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu. Meski mengakui adanya perbaikan dibandingkan kondisi sebelum gencatan senjata, Danon menegaskan situasi saat ini belum sepenuhnya aman.

“Bandingkan dengan apa yang terjadi sebelum gencatan senjata, Anda tahu ini situasi yang jauh lebih baik,” kata Danon, dilansir dari Al Jazeera, Jumat (24/4/2026).

Namun, ia menambahkan, “tidak 100 persen,” menandakan potensi konflik masih terbuka.

1. Israel tegaskan akan tetap balas serangan

pasukan Israel di Sungai Litani, Lebanon (wikimedia/ / IDF Spokesperson's Unit)

Dalam pernyataannya, Danon menegaskan, militer Israel akan terus merespons setiap ancaman yang datang, khususnya dari kelompok Hizbullah. Ia menyebut serangan roket yang diluncurkan Hizbullah menjadi alasan utama Israel tetap melakukan tindakan militer, meskipun gencatan senjata sedang berlangsung.

“Pasukan Israel harus membalas ketika Hizbullah mengirimkan roket,” ujarnya.

“Setiap kali kami melihat ancaman, kami mengambil tindakan,” lanjut Danon.

Pernyataan ini memperlihatkan gencatan senjata yang ada tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas militer, melainkan hanya meredakan intensitas konflik secara sementara.

2. Peran Pemerintah Lebanon dinilai nihil

potret bendera Lebanon (pexels.com/Mohamad Mekawi)

Selain menyoroti ancaman dari Hizbullah, Danon juga mempertanyakan kemampuan pemerintah Lebanon dalam menjaga stabilitas di wilayahnya sendiri. Ia menilai keberhasilan gencatan senjata sangat bergantung pada sejauh mana otoritas Lebanon mampu mengendalikan situasi di Lebanon selatan.

“Saya pikir pertanyaan utamanya adalah apakah pemerintah Lebanon mampu menegakkan gencatan senjata atau perjanjian damai atau benar-benar menerapkan kedaulatan di Lebanon selatan,” katanya.

Pernyataannya mencerminkan kekhawatiran Israel terhadap efektivitas implementasi kesepakatan di lapangan, terutama di wilayah yang selama ini menjadi basis aktivitas Hizbullah.

Di sisi lain, Israel sendiri masih mempertahankan kehadiran militernya di Lebanon selatan sejak invasi yang dimulai awal Maret, meskipun sebelumnya telah disepakati gencatan senjata selama 10 hari.

3. Bentrokan masih terus terjadi di tengah gencatan senjata

ilustrasi Lebanon dan Israel (unsplash.com/Hobi industri)

Situasi di lapangan menunjukkan gencatan senjata masih sangat rapuh. Dalam 24 jam terakhir, dilaporkan terjadi baku tembak senjata ringan antara pasukan Israel dan Hizbullah.

Hizbullah disebut meluncurkan senjata antitank dan roket ke arah pasukan Israel. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, Israel melaporkan satu personel cadangan mengalami luka dalam serangan drone terpisah.

Sebagai respons, Israel melakukan serangan udara dan mengklaim menewaskan tiga anggota Hizbullah yang berupaya menembak jatuh drone militer mereka. Militer Lebanon juga melaporkan hanya beberapa jam setelah gencatan senjata dimulai, Israel sudah melakukan penembakan ke wilayah Lebanon selatan.

Di tengah kondisi tersebut, pasukan Israel tetap berada di wilayah Lebanon selatan dan disebut menghancurkan desa-desa untuk menciptakan zona penyangga di belakang garis yang mereka sebut “Yellow Line”.

Sementara itu, laporan media Israel menyebut penggunaan drone oleh Hizbullah dengan kabel serat optik menyulitkan pasukan Israel karena tidak dapat dijamming secara elektronik. Karenanya, meskipun gencatan senjata telah diperpanjang, situasi di lapangan masih sangat mudah berubah dan berpotensi kembali memanas sewaktu-waktu.

Editorial Team