Hizbullah Langgar Gencatan, Serang Pasukan Israel di Lebanon Selatan

- Hizbullah menyerang pasukan Israel di Lebanon selatan dan wilayah Israel, yang menurut IDF melanggar gencatan senjata, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
- Hizbullah mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut sebagai balasan terhadap lebih dari 200 pelanggaran gencatan oleh IDF sejak kesepakatan damai disetujui.
- Gencatan sepuluh hari hasil mediasi AS antara Israel dan Lebanon akan dilanjutkan dengan negosiasi tahap kedua di Amerika Serikat untuk membahas perdamaian permanen.
Jakarta, IDN Times - Pasukan militer Israel (IDF) menyebut Hizbullah telah melanggar gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Sebab, menurut IDF, Hizbullah telah melakukan serangan rudal ke pasukan mereka yang sedang bertugas di Lebanon selatan dan ke wilayah Israel pada Selasa (21/4/2026).
“Serangan-serangan itu merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata (antara Israel dan Lebanon)," bunyi pernyataan resmi IDF, seperti dilansir Times of Israel.
IDF menjelaskan tidak ada korban jiwa akibat serangan Hizbullah baik yang dilakukan di Lebanon selatan maupun di Israel. IDF juga berhasil menghancurkan mesin peluncur rudal milik Hizbullah hanya beberapa menit setelah mereka meluncurkan serangan.
1. Hizbullah mengaku telah melakukan serangan ke IDF

Dalam pernyataannya, Hizbullah mengakui bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan rudal di Lebanon selatan dan Israel. Selain itu, mereka juga mengaku telah melakukan serangan ke pasukan Israel yang ada di Lebanon utara, tepatnya di wilayah perbatasan Kfar Giladi.
Hizbullah mengatakan, semua serangan yang mereka lakukan merupakan balasan atas serangan IDF. Sebab, menurut Hizbullah, IDF sudah lebih dahulu melanggar gencatan senjata karena telah menyerang mereka.
Menurut Hizbullah, IDF telah melakukan lebih dari 200 pelanggaran gencatan senjata. Sebab, sejak gencatan senjata disepakati pada pekan lalu, IDF masih kerap melakukan serangan. Oleh karena itu, Hizbullah menyebut serangan yang dilakukan terhadap IDF merupakan cara mereka untuk membela dan mempertahankan diri dari ancaman Israel.
2. Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata berkat mediasi Amerika Serikat

Israel dan Lebanon sendiri sudah menyepakati gencatan senjata selama sepuluh hari pada 16 April 2026 pekan lalu. Kesepakatan tersebut diraih berkat negosiasi damai yang digelar Israel dan Lebanon pada 14 April. Negosiasi tersebut digelar di Amerika Serikat yang berperan sebagai mediator.
Gencatan senjata ini membuat Lebanon kini bisa bernapas lega. Sebab, mereka sudah berulang kali diserang Israel yang ingin membasmi milisi Hizbullah sejak 2 Maret lalu. Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 2.294 orang, sedangkan 7.544 lainnya mengalami luka-luka.
Usai gencatan senjata diumumkan, ratusan warga Lebanon di Ibu Kota Beirut ramai-ramai turun ke jalan. Mereka merayakan perdamaian dengan Israel meski hanya akan berjalan selama sepuluh hari. Hal ini karena warga Lebanon sudah lama menunggu gencatan senjata agar tidak terus terdampak serangan Israel.
3. Israel dan Lebanon akan menggelar negosiasi damai tahap dua

Agar gencatan senjata bisa berubah menjadi kesepakatan perdamaian, Israel dan Lebanon akan menggelar negosiasi tahap kedua. Negosiasi lanjutan tersebut dikabarkan bakal kembali dihelat di AS pada Kamis (23/4/2026) waktu AS atau Jumat (24/4/2026) waktu Indonesia pekan ini.
“Amerika Serikat menyambut baik keterlibatan produktif yang dimulai pada 14 April. Kami akan terus memfasilitasi diskusi langsung (antara Israel dan Lebanon) dengan itikad baik antara kedua pemerintah,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS yang tidak disebut namanya pada Senin (20/4/2026) kepada Al Jazeera.



















