pemimpin Hizbullah Naim Qassem (al-vefagh.com, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Eskalasi terbaru terjadi di tengah kesepakatan kerangka kerja yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) pada 26 Juni lalu. Perjanjian tersebut mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah pendudukan, pelucutan senjata Hizbullah, serta penempatan tentara Lebanon di perbatasan selatan.
Penerapan kesepakatan damai ini menuai kritik karena tidak menyertakan jadwal penarikan pasukan Israel yang jelas. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menilai pemerintah Lebanon terlalu menekan angkatan bersenjata di saat serangan Israel masih terus berlangsung.
"Bagaimana Anda bisa menerima penghinaan berkelanjutan terhadap tentara Lebanon ini, membiarkannya terkena pemboman dan tekanan Israel, alih-alih bertindak sebagai pelindungnya?" ujar Qassem, dikutip dari Al Jazeera.
Konflik sejak 2 Maret lalu telah menewaskan lebih dari 4.300 orang dan melukai 12 ribu orang di Lebanon. Serangan berkepanjangan ini juga menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi dan membuat sekitar enam persen wilayah Lebanon berada di bawah pendudukan Israel.