Qodari pernah aktif sebagai peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Mei 1999-September 2001. Bahkan sempat menjadi salah satu pembawa acara di dua program televisi nasional swasta untuk rubrik politik seperti "Negeri Setengah Demokrasi" dan "Suara Rakyat".
Profil M Qodari, 4 Kali Ganti Jabatan di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo

Presiden Prabowo memberhentikan Muhammad Qodari sebagai Kepala Bakom Pemerintah, lalu mengangkatnya menjadi anggota Wantimpres sekaligus sekretaris bersama 25 tokoh lain.
Dalam dua tahun pemerintahan Prabowo, Qodari berpindah dari Wakil Kepala KSP, Kepala KSP, Kepala Bakom, hingga sekretaris Wantimpres.
Sebelum masuk Istana, Qodari dikenal sebagai pengamat politik, pendiri Indo Barometer, mantan peneliti, serta lulusan UI, Universitas Essex, dan doktor UGM.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto menghentikan Muhammad Qodari dari jabatan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah. Namun di saat yang sama, Prabowo mengangkat Qodari sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bersama 25 tokoh lainnya. Di Wantimpres, Qodari menjabat sebagai sekretaris.
Qodari sendiri memulai jabatannya di Istana dengan menjadi Wakil Kepala KSP. Ia kemudian dilantik jadi Kepala KSP menggantikan AM Putranto. Tak lama memegang posisi KSP, Qodari kemudian dilantik menjadi Kepala Bakom pada Senin (27/4/2026), bersama sejumlah menteri dan kepala badan lainnya dalam reshuffle ke-5 Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran.
Qodari sebelumnya dikenal sebagai pengamat politik dan pendiri salah satu lembaga survei di Indonesia. Ia kemudian masuk ke Istana saat Prabowo Subianto terpilih menjadi Presiden ke-8 RI.
Dikutip dari IDN Times Sumsel, Qodari berasal dari Palembang, Sumatra Selatan. Ia lahir di Palembang, 15 Oktober 1973. Sebelum menjadi Wakil Kepala Staf Kepresiden RI, dia merupakan pengamat politik yang kerap melontarkan pernyataan kontroversial. Berikut profil Qodari.
1. Profil M Qodari, memulai karier sebagai peneliti dan pengamat politik

M. Qodari (IDN Times/Istimewa) Qodari kerap mengkampanyekan relawan Jokowi-Prabowo (Jokpro) pada 2022-2023. Dia juga tercatat sebagai orang yang getol menyuarakan soal perpanjangan masa jabatan Presiden Joko Widodo menjadi 3 periode.
Jauh sebelum menjadi bagian dari orang dekat Jokowi dan Prabowo, Qodari memulai kariernya sebagai peneliti dan pengamat politik. Dia bahkan sering menjadi kolumnis di media massa membahas mengenai kondisi Indonesia pasca-reformasi.
2. Mendirikan lembaga survei sendiri bernama Indo Barometer

Wakil Kepala Staf Kepresidenan (KSP) M. Qodari (dok. Istimewa) Qodari juga pernah menjadi Chief Editor Majalah Kandidat, Campaign and Election, Agustus 2003-Juni 2004. Ia kemudian bergabung di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada November 2002-Juli 2003.
Ia juga tercatat menjadi Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI), Juli 2003-Juni 2005, hingga ditunjuk menjadi Wakil Direktur Eksekutif LSI pada Juli 2004-Oktober 2006.
Setelah tak lagi berjalan dengan LSI, Qodari mendirikan lembaga survei sendiri bernama Indo Barometer (IB). Sejak November 2006, Qodari menjadi Direktur Eksekutif hingga hari ini.
3. Riwayat pendidikan

Kepala Staf Kepresidenan M Qodari saat pelantikan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (17/9/2025). (YouTube/Istana Kepresidenan). Ketertarikan Qodari terhadap politik muncul saat mengambil jurusan bidang Psikologi Sosial di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) tahun 1992-1997. Setelah menempuh pendidikan Strata I (S1), Qodari melanjutkan pendidikan ke Universitas Essex, United Kingdom 2001-2002, dengan menekuni Political Behavior.
Barulalah pada 2016 dia menyelesaikan gelar doktoral di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol).

![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















