Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jepang Minta Iran Pulihkan Navigasi Aman di Selat Hormuz
Sanae Takaichi mengisi acara di Prefektur Fukuoka (x.com/@takaichi_sanae)
  • PM Jepang Sanae Takaichi meminta Presiden Iran Masoud Pezeshkian segera memulihkan navigasi bebas dan aman di Selat Hormuz demi pasokan minyak mentah Jepang.
  • Tokyo mendesak Iran meredakan ketegangan, menekan Houthi agar menahan aksi militer, serta mendorong AS dan Teheran melanjutkan perundingan berbasis Memorandum Islamabad.
  • Pezeshkian menyebut Iran menjalankan diplomasi dengan Oman terkait Selat Hormuz dan Arab Saudi mengenai Bab al-Mandeb, setelah negosiasi AS-Iran mandek dan konflik Juli memperburuk situasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi menggelar pembicaraan via telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (12/8/2026). Langkah diplomasi ini merespons kelumpuhan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang dipicu kebuntuan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Teheran.

Tokyo mendesak agar pemulihan akses maritim tersebut priorotaskan demi kelancaran pasokan minyak mentah Timur Tengah ke negerinya yang sangat bergantung pada sumber daya alam. Dalam pembicaraan itu, Takaichi menegaskan kepada Pezeshkian pentingnya agar "navigasi bebas dan aman di Selat Hormuz dipulihkan sesegera mungkin tanpa biaya tambahan," dikutip Kyodo News.

1. Jepang minta Iran redam ketegangan militer

ilustrasi perang (pexels.com/Beyzanur K.)

Takaichi meminta Pezeshkian membujuk kelompok Houthi di Yaman agar menahan diri dan mendorong penurunan ketegangan militer secara cepat di kawasan tersebut. Di sisi lain, Iran dilaporkan terus membuka ruang dialog dengan negara-negara terkait demi membuka kembali Selat Hormuz, sementara Tokyo terus mendorong AS dan Teheran melanjutkan perundingan berbasis Memorandum Islamabad agar mencapai kesepakatan final, termasuk terkait program nuklir. Dikutip Anadolu Agency, Takaichi juga mengusulkan diskusi bersama komunitas internasional, khususnya negara-negara pengguna jalur pelayaran strategis tersebut.

Takaichi turut mendesak penyelesaian cepat atas kasus warga negara Jepang yang mendapat pembebasan bersyarat dengan jaminan di Teheran sejak April lalu. Sosok tersebut diyakini merupakan kepala biro lembaga penyiaran publik Jepang, Nippon Hoso Kyokai (NHK).

2. Jepang soroti ancaman keamanan di Selat Bab al-Mandeb

Peta Bab al-Mandep (Archer90 talk, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Komunikasi yang berlangsung selama 20 menit ini menjadi kontak pertama Takaichi dan Pezeshkian sejak Juni, sekaligus dialog ke-4 sejak perang AS-Israel dengan Iran meletus pada akhir Februari. Selepas pembicaraan, Takaichi menyampaikan kepada wartawan di kantornya di Tokyo bahwa pihaknya sangat mengkhawatirkan ketahanan energi di Selat Bab al-Mandeb dan meminta Teheran menekan kelompok Houthi agar menghentikan aksi militer mereka.

Otoritas Yaman mencatat kelompok Houthi sempat melancarkan serangan mematikan terhadap kapal kargo di Selat Bab al-Mandeb usai mengumumkan blokade maritim terhadap kapal-kapal Arab Saudi pada Juli lalu. Jalur ini menjadi rute alternatif pengiriman minyak mentah di tengah kelumpuhan Selat Hormuz, sedangkan Pezeshkian menyatakan Teheran tengah berupaya mengurai persoalan di Bab al-Mandeb lewat dialog diplomasi dengan Riyadh.

3. Iran beberkan langkah diplomasi Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (Mohammadreza Abbasi, CC BY 4.0, Atribution: Mehr News Agency, via Wikimedia Commons)

Dalam kesempatan itu, Pezeshkian memaparkan perkembangan terkini serta peluang diplomasi Iran bersama Oman terkait kondisi Selat Hormuz. Sementara untuk Selat Bab al-Mandeb yang menjadi pintu masuk ke Laut Merah di barat daya Semenanjung Arab, Pezeshkian memastikan jalur diplomasi terus berjalan, termasuk dialog intensif dengan Arab Saudi.

Sebelumnya, AS dan Teheran telah menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni 2026 untuk mengawali negosiasi menuju kesepakatan final. Namun, proses diplomasi tersebut mandek akibat perbedaan pandangan soal jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, yang kemudian disusul aksi saling serang pada 8-24 Juli 2026 ketika Washington menggempur target di Iran dan Teheran membalas dengan menyasar fasilitas militer AS di Yordania, Bahrain, serta Kuwait.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article