Jurnalis Afrika Selatan Hilang Tanpa Jejak, Komunitas Pers Desak Pencarian
- Jurnalis investigasi Afrika Selatan Micah Reddy hilang di Djibouti setelah bertemu pemandu lokal Kooki Mahmoud pada 19 September 2026; ponselnya mati dan keduanya belum ditemukan.
- CPJ, amaBhungane, dan Forum Editor Afrika mendesak pemerintah Djibouti serta Uni Afrika mengonfirmasi keberadaan Reddy dan Mahmoud, sekaligus menjamin keselamatan mereka.
- Pemerintah Afrika Selatan dan diplomat Inggris meminta klarifikasi; ICIJ menduga keduanya ditahan karena izin peliputan, sementara Djibouti menyebut Reddy tidak terdaftar sebagai jurnalis asing.
Jakarta, IDN Times - Jurnalis investigasi asal Afrika Selatan, Micah Reddy, dilaporkan hilang saat menjalankan tugas di Djibouti pada Minggu (20/9/2026). Keluarga dan rekan kerjanya kehilangan kontak dengan Reddy tak lama setelah ia tiba di negara kawasan Tanduk Afrika tersebut.
Otoritas setempat belum memberikan penjelasan resmi mengenai keberadaan Reddy dan pemandu lokalnya. Komunitas internasional bersama perwakilan diplomatik terus memantau perkembangan kasus tersebut untuk memastikan keselamatan keduanya.
1. Kronologi putusnya komunikasi jurnalis di hotel

Negara Djibouti (countryguides.andersen.com) Micah Reddy tiba di Djibouti pada Kamis (17/9/2026) untuk menjalankan riset independen dan menginap di Escale International Hotel. Ia dijadwalkan menyelesaikan penugasannya dalam waktu tiga hari dan rutin memberi kabar kepada keluarga serta rekan kerjanya.
Pada Sabtu (19/9/2026) pukul 13.00 waktu setempat, Reddy dijadwalkan bertemu dengan pemandu lokal bernama Kooki Mahmoud di lobi hotel. Reddy sempat mengabarkan kepada rekannya bahwa situasi di lokasi aman sebelum ponselnya tidak lagi aktif dan ia tak dapat dihubungi.
“Setelah empat jam, telepon selulernya dimatikan,” kata istri Micah Reddy, Nicole Beardsworth.
2. Komunitas pers internasional desak pencarian korban
.jpg)
Ilustrasi pers (IDN Times/Arief Rahmat) Kabar hilangnya Reddy memicu reaksi dari berbagai lembaga advokasi kebebasan pers internasional. Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mendesak pemerintah setempat segera mengonfirmasi keberadaan Reddy dan Mahmoud serta memberikan informasi mengenai kondisi keduanya.
Pusat Jurnalisme Investigasi amaBhungane dan Forum Editor Afrika (TAEF) turut mendesak Uni Afrika untuk meminta penjelasan dari pemerintah Djibouti. Mereka menegaskan bahwa keselamatan wartawan saat menjalankan tugas di lapangan merupakan hak yang harus dilindungi.
“Micah adalah jurnalis berbakat dan berani yang tidak pernah takut mempertaruhkan dirinya,” kata Mitra Pengelola amaBhungane, Sam Sole, dilansir The South African.
3. Dugaan penahanan tanpa izin

ilustrasi suasana kota di Djibouti (commons.wikimedia.org/AlexandreTheGreat) Pemerintah Afrika Selatan bersama diplomat Inggris telah meminta klarifikasi resmi kepada kementerian terkait di Djibouti. Pihak kepresidenan Djibouti menyatakan nama Reddy tidak tercantum dalam daftar jurnalis asing yang terdaftar secara resmi di negara tersebut.
Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ) menduga Reddy dan Mahmoud ditahan aparat setempat karena tidak memiliki izin peliputan. ICIJ meminta pemerintah Djibouti segera mengakhiri penahanan administratif tersebut dan memastikan keduanya dapat kembali dengan selamat.
“Kami perlu memeriksa catatan visa turis untuk mengonfirmasi kedatangan yang bersangkutan di Djibouti,” kata Pejabat Senior Kepresidenan Djibouti, Naguib Ali Taher.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















