Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kekeringan Parah, Sri Lanka Terbangkan 3 Biksu Memohon Hujan

3 min read
Kekeringan Parah, Sri Lanka Terbangkan 3 Biksu Memohon Hujan
ilustrasi tiga orang biksu (pexels.com/Thể Phạm)
  • Angkatan Udara Sri Lanka menerbangkan tiga biksu Buddha di atas wilayah kering untuk berdoa dan menaburkan air suci, saat El Niño memicu periode kekeringan terburuk.
  • Kekeringan berdampak pada Taman Nasional Yala dan kapasitas waduk, termasuk pembangkit listrik tenaga air, yang berada di sekitar 50 persen; hujan deras diperkirakan menyusul.
  • PBB dan FAO menyiapkan pemodelan iklim berbasis distrik, karena Sri Lanka perlu menghadapi kemungkinan kekeringan, panas, atau banjir serta melindungi pertanian dan sumber daya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Angkatan Udara Sri Lanka menerbangkan tiga biksu Buddha menggunakan pesawat sayap tetap Y-12 di atas wilayah terdampak kekeringan pada Sabtu (20/9/2026). Penerbangan tersebut menjadi aksi simbolis untuk memohon turunnya hujan, dengan para biksu melantunkan doa sementara awak pesawat menaburkan air suci dari botol berkapasitas lima liter.

Pejabat angkatan udara mengonfirmasi perincian aksi tersebut kepada AFP, sedangkan pihak angkatan udara menyebutnya sebagai bentuk belas kasih melalui unggahan di media sosial. Dilansir NST, ritual itu dilakukan ketika Sri Lanka yang merupakan negara agraris berpenduduk 22 juta jiwa menghadapi fenomena iklim El Niño yang disebut departemen meteorologi setempat sebagai periode terburuk.

  1. 1. Kekeringan Sri Lanka mengancam waduk air

    ilustrasi waduk air
    ilustrasi waduk air (pexels.com/Arul karki)

    Dampak kekeringan telah terasa di Taman Nasional Yala, kawasan satwa liar terbesar di tenggara Sri Lanka, yang menutup dua dari enam bloknya untuk pengunjung. Para pejabat juga memperingatkan potensi hujan lebat dalam beberapa bulan mendatang, sementara ahli cuaca memperkirakan kondisi kering akan berubah menjadi hujan deras dari akhir September hingga Desember sebelum kekeringan panjang kembali terjadi pada awal tahun depan.

    Kapasitas waduk Sri Lanka, termasuk penampungan untuk pembangkit listrik tenaga air, kini berada pada kapasitas 50 persen dan masih setara dengan tahun-tahun sebelumnya. Kekhawatiran muncul jika kondisi kering berlanjut sesuai prakiraan, mengingat perusahaan listrik negara tersebut sebelumnya pernah mengadakan ritual keagamaan serupa ketika volume waduk menurun.

  2. 2. PBB petakan skenario iklim Sri Lanka

    ilustrasi cuaca panas
    ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Miguel Cuenca)

    Penurunan ketersediaan air ini berkaitan dengan El Niño, yaitu fenomena iklim alami berupa pemanasan permukaan air di Samudra Pasifik ekuatorial bagian tengah dan timur yang memengaruhi pola angin serta curah hujan dunia. Kondisi tersebut diperburuk oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia yang meningkatkan energi dan kelembapan di atmosfer.

    Menurut Daily FT, Koordinator Residen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Marc-André Franche menyebut dampak gabungan El Niño dan Dipole Samudra Hindia terhadap Sri Lanka masih sulit dipastikan. Penilaian itu disampaikan Franche dalam diskusi bersama Pemimpin Oposisi Sajith Premadasa yang kemudian membagikan rekamannya, dengan Franche menjelaskan bahwa interaksi kedua sistem iklim tersebut membuat dampak akhirnya sulit diprediksi.

  3. 3. PBB dorong penanganan iklim berdasarkan distrik

    ilustrasi cuaca panas
    ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Fatih Turan)

    Skenario yang dinilai paling mungkin berupa kekeringan dan panas yang diikuti hujan deras, meski kemungkinan pola berlawanan atau tidak munculnya kedua kondisi tersebut tetap ada. PBB bersama Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) telah menyiapkan dokumen pemodelan skenario iklim khusus Sri Lanka untuk dibagikan kepada Parlemen.

    Franche menilai ketidakpastian tersebut membutuhkan penanganan berdasarkan kondisi setiap distrik, bukan kebijakan nasional yang seragam. Ia menyebut Distrik Anuradhapura membutuhkan pencegahan banjir, sedangkan Distrik Monaragala perlu mengantisipasi kekeringan, dengan 15-16 dari 25 distrik menjadi prioritas dalam beberapa bulan ke depan.

    Penanganan ancaman iklim akan berfokus pada pengaturan kembali dana, tenaga, dan kapasitas yang tersedia, meski tambahan sumber daya masih diperlukan. Pemerintah daerah, asosiasi petani, dan peternak membutuhkan informasi iklim yang pasti untuk menentukan waktu tanam serta menghindari kegagalan panen.

    PBB mendorong penyusunan rencana dan investasi di tingkat distrik serta menawarkan dukungan teknis, pemantauan, dan pemodelan kepada pemerintah Sri Lanka. Risiko iklim tersebut juga berkaitan dengan tekanan ekonomi nasional, ketegangan di Timur Tengah, serta gangguan rantai pasok global.

    Franche menyoroti risiko pembatasan akses di Selat Hormuz dan kebijakan China yang membatasi ekspor pupuk sebagai faktor yang dapat memperburuk kondisi. Pada hari diskusi tersebut, harga minyak dunia tercatat mencapai 95 dolar AS per barel (sekitar Rp1,69 juta) per barel.

    Berbagai tekanan tersebut membutuhkan penanganan menyeluruh, termasuk diversifikasi pasokan pupuk melalui jalur diplomatik dan percepatan penggunaan energi terbarukan untuk mengurangi impor bahan bakar berbiaya tinggi. PBB menyatakan siap mendukung pembahasan Komite Iklim Parlemen dan forum meja bundar serta menghadirkan para ahli untuk membantu pemerintah Sri Lanka menyusun langkah strategis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More