Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ilmuwan: Super El Nino Terparah dalam 500 Tahun Ancam Dunia Saat Ini

Ilmuwan: Super El Nino Terparah dalam 500 Tahun Ancam Dunia Saat Ini
Ilustrasi kekeringan akibat kemarau panjang dan fenomena El Nino terjadi di Indonesia, Senin (18/9/2023). Cover Grafis IDN Times
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Ahli meteorologi Ryan Maue memperkirakan Super El Nino 2026 berpotensi menjadi peristiwa iklim paling dahsyat dalam 500–1.000 tahun, berdasarkan data Pusat Prakiraan Cuaca Eropa.
  • WMO memprediksi El Nino menguat menjadi kategori kuat pada Agustus–Oktober 2026, meningkatkan suhu global, mengubah pola hujan, serta berisiko mengganggu pertanian, air, dan pangan.
  • BRIN menyatakan Super El Nino terbentuk 31 Juli 2026; Indonesia diperkirakan mengalami kemarau lebih luas dan intens, meski beberapa wilayah tetap berpotensi menerima hujan relatif tinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Fenomena Super El Nino yang mengancam dunia saat ini diperkirakan menjadi yang paling dahsyat dalam kurun waktu 500 tahun terakhir. Bahkan, diperkirakan fenomena alam ini menjadi peristiwa cuaca paling ekstrem yang dialami oleh umat manusia.

Hal itu diungkapkan oleh ahli meteorologi Ryan Maue. Maue mengutip data dari Pusat Prakiraan Cuaca Eropa, turut menyinggung musim dingin vulkanik (volcanic winter) yang bakal muncul ketika Super El Nino terjadi. Musim dingin vulkanik yaitu penurunan suhu udara global yang drastis akibat letusan gunung berapi yang sangat eksplosif, hingga melontarkan abu vulkanik dan gas sulfur dioksida dalam jumlah besar ke lapisan stratosfer.

"Fenomena Super El Nino mungkin menjadi yang paling dahsyat menghantam dunia dalam kurun waktu 500 hingga 1.000 tahun terakhir. Ini bisa jadi merupakan peristiwa cuaca atau iklim global yang dialami oleh umat manusia," demikian cuitan Maue di akun media sosialnya, dikutip Kamis (6/8/2026).

Dalam cuitan berikutnya, Maue mengunggah foto yang menunjukkan anomali suhu dan curah hujan yang diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

"Model tersebut memprediksi musim dingin yang hangat untuk Kanada dan Amerika Serikat bagian Utara. Sementara negara bagian Selatan di sekitar Teluk menghadapi ancaman badai es yang sangat basah dan lebih dingin dari biasanya," tutur dia.

El Nino diperkirakan akan menguat hingga akhir tahun. Bahkan, ahli yakin fenomena itu akan bertahan hingga awal musim semi 2027.

1. Badan Cuaca PBB memperkirakan fenomena El Nino terus menguat pada Agustus

Petugas dan warga menyalurkan air bersih dari truk tangki ke tandon di Desa Randegan, Banyumas, saat kekeringan.
Distribusi air bersih oleh BPBD Kabupaten Banyumas di Desa Randegan, Kecamatan Wangon. Petugas dan warga bersama-sama menyalurkan air dari truk tangki ke tandon untuk membantu 1.190 warga yang terdampak kekeringan selama dua bulan terakhir, Rabu (5/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Sementara, Badan Cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan, fenomena El Nino diperkirakan semakin menguat mulai Agustus 2026. Kondisi ini berpotensi meningkatkan suhu global dan mengubah pola curah hujan di berbagai wilayah dunia.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan suhu global dan mengubah pola curah hujan di berbagai wilayah dunia. Peringatan tersebut disampaikan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) pada Jumat, 31 Juli 2026.

Menurut WMO, fenomena El Nino yang saat ini berkembang diperkirakan terus menguat dan mencapai kategori kuat pada periode Agustus hingga Oktober 2026. El Nino merupakan fenomena iklim yang terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih hangat dari kondisi normal. Perubahan suhu laut ini kemudian memengaruhi pola atmosfer dan cuaca di berbagai belahan dunia.

2. Fenomena Super El Nino bisa ganggu musim panen

IMG-20260427-WA0074.jpg
Petani sedang panen padi di wilayah Lombok Tengah. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Dilansir dari stasiun berita Channel News Asia, WMO memperkirakan penguatan El Nino akan berdampak pada pola cuaca di belahan bumi utara, bertepatan dengan periode ketika sejumlah negara memasuki musim panen.

Perubahan pola hujan akibat El Nino dapat memengaruhi sektor pertanian, ketersediaan air, hingga produksi pangan di berbagai negara. Badan cuaca PBB tersebut mengatakan, pihaknya terus meningkatkan penyediaan informasi dan layanan dukungan agar negara-negara dapat mengantisipasi serta mengurangi dampak yang mungkin terjadi.

"El Nino semakin menguat, menambah tekanan pada planet yang sudah mengalami gelombang panas ekstrem, kebakaran hutan besar, dan suhu laut yang memecahkan rekor," ungkap Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Ia menambahkan, penggunaan bahan bakar fosil turut memperparah krisis iklim yang sedang berlangsung.

3. Indonesia akan alami musim kering lebih panjang akibat fenomena Super El Nino

ilustrasi musim kemarau (freepik.com/sergeycauselove)
ilustrasi musim kemarau (freepik.com/sergeycauselove)

Sementara, Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyatakan fenomena Super El Nino resmi terbentuk pada 31 Juli 2026. Kondisi ini diperkirakan akan memicu musim kering yang lebih luas dan lebih intens di Indonesia dibandingkan El Nino yang terjadi pada 2023.

Melalui unggahan di akun X pribadinya, Minggu, 2 Agustus 2026, Erma menjelaskan penguatan El Nino berlangsung sangat cepat dengan kenaikan intensitas sekitar 0,1 derajat Celsius setiap pekan. Menurutnya, kondisi tersebut telah terkonfirmasi setelah indeks harian El Nino 3.4 melampaui 2 derajat Celsius pada 31 Juli 2026.

"Sudah resmi bahwa Super El Nino terbentuk 31 Juli 2026," demikian cuitan Erma.

Pernyataan tersebut sekaligus mengonfirmasi prediksi yang sebelumnya ia sampaikan pada akhir Juli. Saat itu, Erma memperkirakan El Nino 2026 berkembang jauh lebih cepat dibandingkan peristiwa pada 2023 dan berpotensi mencapai kategori Super El Nino berdasarkan data Bureau of Meteorology (BOM) Australia serta Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC).

Menurut Erna, Indonesia justru berada di wilayah bayangan hujan (rain shadow) Samudra Pasifik. Akibatnya, curah hujan diperkirakan semakin berkurang sehingga kekeringan akan meluas di berbagai daerah.

Erma menilai dampak El Nino 2026 akan lebih agresif, lebih merata, dan menyebabkan kekeringan yang lebih homogen dibandingkan El Nino 2023. Meski demikian, masih ada sejumlah wilayah yang diperkirakan tetap menerima curah hujan relatif tinggi, yakni Sumatra bagian utara, sebagian Sulawesi, serta Kalimantan bagian utara yang berbatasan dengan Brunei Darussalam dan Malaysia. 

Sementara itu, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami musim kemarau yang lebih kering seiring menguatnya fenomena Super El Nino.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More