potret bangunan ikonik Belfast City Hall, Irlandia Utara (commons.wikimedia.org/Giorgio Galeotti)
Di Irlandia Utara, isu kemerdekaan memiliki konteks sejarah dan identitas yang berbeda. Sinn Fein, partai yang kini berkuasa di wilayah tersebut, mendukung persatuan Irlandia dan menginginkan Irlandia Utara bergabung dengan Republik Irlandia.
Republik Irlandia mendeklarasikan kemerdekaan penuh dari monarki Inggris pada 1949. Sejak saat itu, Irlandia Utara tetap berada dalam Britania Raya, tetapi masyarakatnya terbelah antara kelompok yang ingin mempertahankan hubungan dengan Inggris dan kelompok yang menginginkan persatuan dengan Republik Irlandia.
Dikutip dari The Guardian, Selasa (15/9/2026), Sinn Fein merupakan salah satu kekuatan politik utama yang mendorong persatuan tersebut. Karena itu, bagi partai ini, pembicaraan mengenai masa depan konstitusional Irlandia Utara lebih erat kaitannya dengan kemungkinan terbentuknya satu kesatuan politik di seluruh Pulau Irlandia.
Jajak pendapat terbaru juga menunjukkan adanya peningkatan dukungan terhadap gagasan persatuan Irlandia. Namun, seperti Skotlandia, isu tersebut masih menjadi perdebatan politik dan belum berarti bahwa Irlandia Utara telah memutuskan untuk meninggalkan Britania Raya.
Sementara itu, situasi di Wales relatif berbeda. Dukungan terhadap kemerdekaan Wales masih lebih rendah dibandingkan Skotlandia. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan mayoritas masyarakat Wales belum menginginkan wilayah tersebut berpisah dari Britania Raya.
Meski begitu, kelompok nasionalis Wales menilai pemerintah di London belum memberikan kewenangan yang cukup kepada Cardiff. Kebijakan yang dibuat di Westminster dinilai tidak selalu mencerminkan kepentingan dan preferensi masyarakat Wales.
Karena itu, tuntutan yang berkembang di Wales tidak selalu berupa kemerdekaan penuh. Sebagian masyarakat lebih mendorong peningkatan kewenangan dan perhatian dari pemerintah pusat. Kelompok yang menginginkan Wales merdeka memang ada, tetapi dukungannya masih relatif terbatas.
Dengan demikian, kesepakatan tiga pemimpin di Cardiff lebih tepat dilihat sebagai upaya menyatukan suara mengenai hak menentukan masa depan masing-masing wilayah, bukan sebagai kesepakatan untuk segera membubarkan Britania Raya. Seberapa jauh tuntutan tersebut berkembang akan sangat bergantung pada dukungan publik dan keputusan politik di masing-masing wilayah.