Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Koalisi Saudi Tuding Houthi Serang Fasilitas Listrik Masjid Nabawi
Masjid Nabawi (unsplash.com/Sulthan Auliya)
  • Koalisi pimpinan Arab Saudi menuduh Houthi menyerang stasiun listrik Taibah di Madinah dengan drone, merusak transformator yang memasok Masjid Nabawi tanpa menyebabkan pemadaman.
  • Penyelidikan koalisi mengklaim puing drone membuktikan keterlibatan Houthi, tetapi kelompok itu membantah dan menuding koalisi memanipulasi informasi; Turki turut mengecam serangan tersebut.
  • Pertempuran pemerintah Yaman dan Houthi memanas di Taiz, sementara Saudi menyetujui bantuan anggaran 224 juta riyal untuk mendukung stabilitas fiskal dan daya beli warga Yaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menuduh kelompok Houthi Yaman menyerang fasilitas listrik di Madinah menggunakan drone pada Selasa (29/9/2026). Serangan tersebut menghantam stasiun distribusi listrik Taibah yang menyuplai daya ke Masjid Nabawi dan merusak satu unit transformator.

Otoritas memastikan insiden itu tidak memicu pemadaman sehingga aliran listrik kota tetap beroperasi normal. Sementara itu, kelompok Houthi membantah tuduhan tersebut dan menyebut pernyataan koalisi sebagai kebohongan.

1. Houthi bantah pernah serang Madinah

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree (Tasnim News Agency, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengungkapkan bahwa penyelidikan awal membuktikan keterlibatan Houthi. Aparat menemukan puing drone di lokasi kejadian setelah ledakan merusak transformator gardu induk.

"Penyelidikan dan pemeriksaan puing drone mengonfirmasi keterlibatan milisi Houthi dalam merencanakan serta mengeksekusi aksi teror pengecut ini," kata Maliki, dilansir Al-Monitor.

Pihak koalisi menegaskan akan terus mengambil langkah militer yang diperlukan demi menjaga keamanan tempat ibadah dan para jemaah. Di sisi lain, sumber militer Houthi lewat kantor berita Saba menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menargetkan fasilitas di Madinah. Mereka mengklaim koalisi sengaja memanipulasi informasi publik setelah gagal menunjukkan bukti klaim pencegatan drone di selatan Makkah pada September lalu.

2. Turki kecam serangan ke Madinah

Ilustrasi bendera Turki (unsplash.com/Tarik Haiga)

Berita serangan tersebut langsung memicu kecaman dari komunitas internasional. Sejumlah negara Arab dan organisasi kawasan menilai serangan terhadap sarana publik di dekat situs suci dapat memperkeruh situasi keamanan Timur Tengah.

"Kami mengutuk keras serangan Houthi terhadap infrastruktur sipil yang melayani Masjid Nabawi di Madinah. Serangan provokatif ini, yang mengancam kedaulatan dan keamanan Arab Saudi serta menargetkan nilai-nilai suci dunia Islam, harus segera diakhiri dan tanpa syarat," tutur Kementerian Luar Negeri Turki, dilansir Anadolu Agency.

Serangan udara dari arah Yaman ke wilayah Saudi dilaporkan meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Pada Kamis (1/10/2026), sistem pertahanan udara Saudi berhasil mencegat empat drone Houthi di langit Khamis Mushait dan melumpuhkan dua rudal balistik di Khamis Mushait dan Jazan.

3. Pertempuran darat memanas di Yaman

pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons)

Bentrokan bersenjata antara pasukan pemerintah Yaman dan milisi Houthi terus berkobar di provinsi Taiz. Pasukan pemerintah yang disokong koalisi mengklaim menewaskan sedikitnya 30 personel Houthi dan melukai puluhan lainnya dalam kontak senjata di garis depan al-Aqrud.

Tentara Yaman juga melancarkan enam serangan udara guna menahan pergerakan Houthi di distrik Maqbanah dan wilayah barat Taiz. Pertempuran darat kian intensif usai Houthi merebut kota pelabuhan Mocha di pesisir Laut Merah dan menguasai jalur pelayaran Selat Bab al-Mandeb.

Guna menopang stabilitas pemerintah Yaman di tengah tekanan militer dan krisis ekonomi, Riyadh menyetujui bantuan anggaran sebesar 224 juta riyal Saudi atau sekitar Rp1 triliun. Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung efisiensi fiskal serta menjaga daya beli warga sipil Yaman yang kian terpuruk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article