Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Latihan Angkatan Laut Bersama China, Rusia: Bukan Ancaman Regional!
Ilustrasi bendera Rusia. (pixabay.com/IGORN)
  • China dan Rusia menggelar latihan gabungan 'Joint Sea-2026' di Qingdao hingga 13 Juli, dengan fokus pada simulasi ancaman maritim seperti pertahanan udara, serangan permukaan, dan anti-kapal selam.
  • Latihan ini memperkuat kemitraan strategis Beijing-Moskow yang terus meningkat sejak 2012, sejalan dengan komitmen kedua pemimpin untuk memperluas patroli militer bersama demi stabilitas kawasan.
  • Di tengah latihan tersebut, China meluncurkan rudal balistik jarak jauh dari kapal selam nuklir yang memicu protes AS dan negara Pasifik, meski Beijing menegaskan uji coba itu bersifat rutin dan defensif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Rusia dan China resmi memulai latihan angkatan laut (AL) gabungan tahunan 'Joint Sea-2026' pada 6 Juli 2026 di perairan dan wilayah udara lepas pantai Qingdao, Provinsi Shandong, China timur. Latihan yang dijadwalkan berlangsung hingga 13 Juli ini, nantinya akan dilanjutkan dengan patroli maritim bersama di Samudra Pasifik.

Menanggapi kekhawatiran regional, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa manuver militer ini murni bersifat defensif dan tidak dimaksudkan untuk memicu ketegangan di kawasan Asia-Pasifik.

"Latihan gabungan ini tidak ditujukan kepada siapapun atau negara manapun di kawasan ini. Sebaliknya, kerja sama ini merupakan faktor penting yang berkontribusi pada prediktabilitas dan keamanan regional," ujar Peskov, dikutip dari The Straits Times.

1. Kekuatan armada dan skenario latihan

Ilustrasi kapal. (pexels.com/Devin Koopman)

China Daily melaporkan, latihan tahun ini melibatkan pembentukan komando gabungan yang dibagi dalam tiga fase, yakni pengumpulan kekuatan, perencanaan di pelabuhan, dan operasi di laut. Setelah upacara pembukaan di pelabuhan militer Qingdao, kedua AL menggelar latihan komando dan koordinasi taktis sebelum memasuki fase operasi laut.

Dalam latihan tersebut, kedua negara akan melaksanakan berbagai skenario dan difokuskan pada simulasi respons terhadap ancaman keamanan maritim. Ini termasuk pengintaian bersama, pertahanan udara dan rudal, operasi serangan permukaan, serta misi peperangan anti-kapal selam.

Beijing-Moskow mengerahkan alutsista strategis yang signifikan. Rusia dengan Armada Pasifiknya mengirimkan kapal penjelajah rudal, korvet atau fregat, kapal selam diesel-elektrik, dan kapal penyelamat. Sementara itu, China dengan Komando Teater Utara mengerahkan kapal perusak berpeluru kendali, fregat rudal, kapal selam, kapal logistik, kapal penyelamat, helikopter, serta unit marinir.

2. Hubungan China dan Rusia yang semakin mesra

Ilustrasi bendera China. (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA)

Laksamana Muda Rusia Sergei Sinko menambahkan bahwa kolaborasi ini akan membawa hubungan AL kedua negara ke tingkat yang baru.

Meskipun China tetap menyatakan dirinya netral dalam konflik Ukraina dan terus menyerukan perundingan perdamaian, kemitraan strategisnya dengan Moskow terus menguat. Kementerian Pertahanan China menyatakan latihan gabungan bersama Rusia merupakan bagian dari program kerja sama militer tahunan kedua negara, guna meningkatkan kemampuan menghadapi tantangan keamanan maritim serta menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.

Dilansir NHK News, latihan militer China-Rusia telah diadakan hampir setiap tahun sejak 2012. Latihan tahun ini menyusul pertemuan puncak pada Mei lalu di Beijing. Saat itu, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping berkomitmen untuk memperluas patroli militer bersama, guna memperkuat hubungan bilateral yang mereka sebut telah mencapai 'tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya'.

3. Uji coba rudal balistik China picu kekhawatiran AS dan negara-negara Pasifik

Ilustrasi peluncuran rudal. (unsplash.com/Forest Katsch)

Di saat yang bersamaan, China melakukan uji peluncuran rudal balistik jarak jauh dari kapal selam bertenaga nuklir, pada Senin (6/7/2026). Peluncuran tersebut memicu protes dari Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara di Asia dan Pasifik, yang dianggap berpotensi memperburuk ketegangan di tengah meningkatnya militerisasi kawasan. Ini merupakan kali kedua dalam beberapa tahun terakhir Beijing menembakkan rudal balistik ke perairan internasional.

China mengumumkan uji coba tersebut setelah peluncuran berlangsung. Kantor berita resmi Xinhua menyebut rudal ditembakkan ke Samudra Pasifik sebagai bagian dari latihan rutin tahunan yang sesuai dengan hukum dan praktik internasional. Beijing menegaskan bahwa latihan tersebut tidak ditujukan kepada negara atau target tertentu. Pemerintah China tidak menjelaskan jenis rudal yang digunakan, tetapi mengungkapkan bahwa rudal tersebut membawa hulu ledak tiruan, bukan hulu ledak nuklir.

Para analis memperkirakan rudal tersebut adalah JL-2 atau JL-3, dua rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam. Namun, citra yang tersedia dinilai belum cukup jelas untuk memastikan jenisnya. Surat kabar pemerintah, Global Times, menyebut rudal itu kemungkinan besar adalah JL-3 yang memiliki jangkauan lebih dari 10 ribu kilometer, sedangkan JL-2 memiliki jangkauan lebih pendek.

Modernisasi militer China menjadi salah satu prioritas utama Presiden Xi Jinping. Negara tersebut kini memiliki angkatan darat tetap dan angkatan laut terbesar di dunia. Meski jumlah persenjataan nuklirnya masih berada di bawah AS dan Rusia, Beijing terus memperluas stok hulu ledak nuklir. Pihaknya juga mengembangkan rudal jarak jauh dan drone generasi baru.

Anggaran pertahanan China diproyeksikan mencapai sekitar 270 miliar dolar AS (sekitar Rp4,8 kuadriliun) pada 2026, setelah meningkat sekitar 7 persen per tahun dalam empat tahun terakhir. Meski pemerintah menyebut anggaran itu kurang dari 2 persen produk domestik bruto, sejumlah lembaga independen memprediksi pengeluaran sebenarnya jauh lebih besar. Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) memperkirakan belanja pertahanan Negeri Tirai Bambu pada 2024 mencapai sekitar 313,7 miliar dolar AS (Rp5,6 kuadriliun), dilansir Asahi Shimbun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article