Ilustrasi peluncuran rudal. (unsplash.com/Forest Katsch)
Di saat yang bersamaan, China melakukan uji peluncuran rudal balistik jarak jauh dari kapal selam bertenaga nuklir, pada Senin (6/7/2026). Peluncuran tersebut memicu protes dari Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara di Asia dan Pasifik, yang dianggap berpotensi memperburuk ketegangan di tengah meningkatnya militerisasi kawasan. Ini merupakan kali kedua dalam beberapa tahun terakhir Beijing menembakkan rudal balistik ke perairan internasional.
China mengumumkan uji coba tersebut setelah peluncuran berlangsung. Kantor berita resmi Xinhua menyebut rudal ditembakkan ke Samudra Pasifik sebagai bagian dari latihan rutin tahunan yang sesuai dengan hukum dan praktik internasional. Beijing menegaskan bahwa latihan tersebut tidak ditujukan kepada negara atau target tertentu. Pemerintah China tidak menjelaskan jenis rudal yang digunakan, tetapi mengungkapkan bahwa rudal tersebut membawa hulu ledak tiruan, bukan hulu ledak nuklir.
Para analis memperkirakan rudal tersebut adalah JL-2 atau JL-3, dua rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam. Namun, citra yang tersedia dinilai belum cukup jelas untuk memastikan jenisnya. Surat kabar pemerintah, Global Times, menyebut rudal itu kemungkinan besar adalah JL-3 yang memiliki jangkauan lebih dari 10 ribu kilometer, sedangkan JL-2 memiliki jangkauan lebih pendek.
Modernisasi militer China menjadi salah satu prioritas utama Presiden Xi Jinping. Negara tersebut kini memiliki angkatan darat tetap dan angkatan laut terbesar di dunia. Meski jumlah persenjataan nuklirnya masih berada di bawah AS dan Rusia, Beijing terus memperluas stok hulu ledak nuklir. Pihaknya juga mengembangkan rudal jarak jauh dan drone generasi baru.
Anggaran pertahanan China diproyeksikan mencapai sekitar 270 miliar dolar AS (sekitar Rp4,8 kuadriliun) pada 2026, setelah meningkat sekitar 7 persen per tahun dalam empat tahun terakhir. Meski pemerintah menyebut anggaran itu kurang dari 2 persen produk domestik bruto, sejumlah lembaga independen memprediksi pengeluaran sebenarnya jauh lebih besar. Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) memperkirakan belanja pertahanan Negeri Tirai Bambu pada 2024 mencapai sekitar 313,7 miliar dolar AS (Rp5,6 kuadriliun), dilansir Asahi Shimbun.