“Kami bersedia melakukannya lagi jika diperlukan. Kami telah membuktikan bahwa kami mendukung AS. Saya tidak yakin AS akan tertarik jika Israel bergabung dalam hal ini. Namun, Anda tahu, kami menyadari bahwa kami perlu menunjukkan kekuatan kami,” ujar pejabat tersebut.
Israel Bersedia Bantu AS Perang Lawan Iran jika Diminta Trump

- Pemerintah Israel menyatakan siap membantu Amerika Serikat melawan Iran jika diminta Donald Trump, meski saat ini belum berencana ikut campur dalam konflik yang sedang berlangsung.
- Bentrokan antara AS dan Iran terus memanas setelah ultimatum Iran diabaikan Washington, dengan ancaman serangan balasan lebih besar dari Teheran jika agresi berlanjut.
- Pakistan menyerukan AS dan Iran untuk kembali ke meja negosiasi demi menjaga stabilitas kawasan, namun Trump menolak dialog karena menilai serangan Iran di Selat Hormuz tak bisa diterima.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Israel mengatakan bersedia untuk membantu Amerika Serikat melanjutkan perang melawan Iran jika diminta oleh Donald Trump. Kesediaan itu disampaikan oleh seorang pejabat Israel anonim kepada New York Times pada Kamis (9/7/2026).
1. Israel tidak akan ikut campur dulu dalam aksi saling serang AS dan Iran

Meski begitu, pejabat tadi mengatakan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) saat ini tidak akan ikut campur dalam aksi saling serang antara AS dan Iran seperti yang terjadi pada Rabu (8/7/2026) dan Kamis lalu. Sebab, jika Israel ikut campur, situasi geopolitik dikhawatirkan akan makin memanas.
Pejabat Israel tadi menambahkan, Iran kemungkinan juga tidak akan melibatkan Israel jika perang dengan AS kembali meletus. Namun, ia mengatakan IDF sudah siap jika AS meminta bantuan untuk berperang melawan Iran. Sebab, Iran juga berpotensi menyerang Israel.
2. Iran akan menyerang AS dengan kekuatan lebih besar

Saat ini, bentrokan antara AS dan Iran masih berlangsung. Bentrokan terakhir terjadi pada Kamis malam kemarin. Iran sudah mengultimatum AS untuk jangan kembali melakukan serangan. Jika melanggar, Iran mengancam akan meluncurkan serangan dengan kekuatan yang lebih besar ke AS. Namun, Washington tidak mengindahkan ultimatum itu dan tetap melakukan serangan balasan ke Teheran.
"Amerika (Serikat) masih belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran komitmen tidak lagi tanpa konsekuensi. Izinkan saya memperjelas. Jika Anda menyerang, Anda akan diserang. Berhentilah berjuang sia-sia. Anda hanya akan semakin terpuruk. Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali berdasarkan kesepakatan Iran, bukan ancaman Amerika,” kata Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, dalam sebuah unggahan di X dikutip Iran International.
3. Pakistan mendesak AS dan Iran melanjutkan negosiasi

Oleh karena itu, Pakistan yang berperan sebagai mediator mendesak AS dan Iran untuk melanjutkan negosiasi. Sebab, jika bentrokan terus berlanjut, upaya perdamaian kedua negara bisa terganggu. Selain itu, situasi di Kawasan Timur Tengah juga bisa makin kacau.
“Pakistan menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan apa pun yang dapat semakin merusak perdamaian dan stabilitas regional. Tidak ada alternatif lain selain keterlibatan, dialog, dan diplomasi yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan bersama berupa perdamaian di kawasan ini,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Pakistan dilansir Dawn.
Sayangnya, Trump enggan untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran. Sebab, menurut Trump, serangan Iran di Selat Hormuz yang memicu bentrokan pada Rabu dan Kamis kemarin sama sekali tidak bisa dimaklumi. Padahal, AS dan Iran sudah dijadwalkan untuk melanjutkan negosiasi setelah prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Al-Mashhad, Iran, selesai dilakukan.





















