Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lawan Gelombang Panas, Korea Andalkan Hutan Kota sebagai AC Alami
ilustrasi pohon bambu, Korea Selatan (pexels.com/Dasha Klimova)
  • Penelitian National Institute of Forest Science menunjukkan hutan kota di Seoul dapat lebih sejuk hingga 1,8°C pada siang hari dan 1,3–1,6°C pada malam hari dibanding pusat kota.
  • Efek pendinginan terbesar, sekitar 1,5–1,8°C, ditemukan pada hutan berdaun lebar atau campuran berdaun lebar dan konifer; kepadatan, keragaman, serta tata letak vegetasi turut menentukan.
  • Pepohonan mendinginkan kota melalui naungan dan evapotranspirasi, sekaligus mengurangi panas tersimpan dari aspal serta beton; ruang hijau dipandang sebagai infrastruktur penting menghadapi gelombang panas dan perubahan iklim.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gelombang panas kini menjadi tantangan yang semakin serius di berbagai negara, termasuk Korea Selatan. Kota-kota yang dipenuhi gedung dan jalan beraspal cenderung menyimpan panas lebih lama sehingga suhu terasa lebih tinggi dibandingkan daerah yang memiliki banyak pepohonan.

Kondisi ini membuat pemerintah dan para peneliti terus mencari cara agar lingkungan perkotaan tetap nyaman ditinggali. Salah satu solusi yang terbukti efektif ternyata berasal dari alam, yaitu hutan kota.

Penelitian terbaru di Korea Selatan bahkan menunjukkan bahwa kawasan hijau mampu bekerja layaknya AC alami dengan menurunkan suhu udara secara nyata, sekaligus memperkuat temuan berbagai penelitian internasional mengenai manfaat ruang hijau di perkotaan. Lantas, apa saja temuan penelitian yang membuat hutan kota dianggap sebagai salah satu solusi paling efektif untuk melawan gelombang panas?

1. Hutan kota benar-benar membantu menurunkan suhu

ilustrasi hutan bambu (pexels.com/Martin Péchy)

Berdasarkan hasil penelitian National Institute of Forest Science Korea Selatan, kawasan hutan kota memiliki suhu hingga 1,8 derajat Celsius lebih rendah dibandingkan pusat kota yang dipenuhi bangunan dan beton. Data tersebut diperoleh dari pemantauan suhu dan kelembapan secara berkelanjutan di berbagai kawasan Seoul. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan pepohonan bukan hanya mempercantik kota, tapi juga memberikan manfaat nyata dalam menghadapi gelombang panas.

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang dimuat dalam Arboriculture & Urban Forestry. Menurut penelitian tersebut, pohon-pohon di kawasan perkotaan secara konsisten mampu mengurangi suhu melalui efek naungan dan pelepasan uap air dari daun. Penelitian yang merangkum 115 studi itu juga menyebutkan bahwa pohon menjadi salah satu solusi paling efektif untuk mengurangi panas di lingkungan perkotaan, terutama ketika dirancang sesuai kondisi wilayah setempat.

2. Gak semua ruang hijau menghasilkan efek pendinginan yang sama

ilustrasi Seoul, Korea Selatan, hutan kota (pexels.com/Tranmautritam)

Penelitian dari Korea Selatan menemukan bahwa hutan yang didominasi pohon berdaun lebar atau kombinasi pohon berdaun lebar dan konifer memberikan efek pendinginan paling besar, yaitu sekitar 1,5 hingga 1,8 derajat Celsius. Sebaliknya, kawasan yang hanya dipenuhi pohon konifer mampu menurunkan suhu sekitar 1,2 derajat Celsius. Artinya, jenis vegetasi yang dipilih sangat memengaruhi hasil yang diperoleh.

Hasil tersebut juga didukung oleh penelitian dalam jurnal Climate Risk Management. Menurut penelitian tersebut, efektivitas ruang hijau dalam menurunkan suhu dipengaruhi oleh kepadatan vegetasi, keberagaman spesies, pola penanaman, dan tata letak kawasan hijau. Dengan kata lain, bukan hanya jumlah pohon yang penting, tapi juga bagaimana ruang hijau tersebut dirancang agar mampu memberikan manfaat pendinginan secara maksimal.

3. Pepohonan mendinginkan udara lewat proses alami

ilustrasi hutan, pepohonan, penghijauan (pexels.com/tis O)

Ada dua mekanisme utama yang membuat hutan kota terasa lebih sejuk. Pertama, tajuk pohon yang lebat mampu menghalangi sinar matahari langsung sehingga permukaan jalan, trotoar, dan bangunan gak cepat menyerap panas. Karena lebih sedikit panas yang tersimpan, suhu udara di sekitar pepohonan pun menjadi lebih nyaman.

Kedua, pohon melakukan proses evapotranspirasi, yaitu melepaskan uap air melalui daun. Saat proses ini berlangsung, panas dari udara sekitar ikut terserap sehingga menciptakan efek pendinginan alami. Menurut penelitian dalam Arboriculture & Urban Forestry, perpaduan antara naungan dan evapotranspirasi merupakan alasan utama mengapa pepohonan menjadi elemen penting dalam mengurangi suhu perkotaan.

4. Efek sejuknya tetap terasa hingga malam hari

ilustrasi ruang hijau, hutan, pepohonan, penghijauan (pexels.com/Nizar F)

Manfaat hutan kota ternyata gak berhenti ketika matahari terbenam. Penelitian National Institute of Forest Science menunjukkan bahwa suhu di kawasan berhutan tetap 1,3 hingga 1,6 derajat Celsius lebih rendah dibandingkan pusat kota pada malam hari. Kondisi ini membantu mengurangi fenomena malam tropis yang sering membuat masyarakat sulit beristirahat karena udara tetap panas.

Hal tersebut terjadi karena pepohonan gak menyimpan panas sebanyak aspal maupun beton. Material bangunan biasanya menyerap panas sepanjang hari, kemudian memancarkannya kembali saat malam tiba. Sebaliknya, kawasan berhutan melepaskan panas dalam jumlah yang jauh lebih sedikit sehingga mampu menjaga suhu lingkungan tetap stabil dan nyaman. Temuan ini juga sejalan dengan berbagai penelitian internasional yang menunjukkan bahwa ruang hijau berperan penting dalam mengurangi efek pulau panas perkotaan.

5. Ruang hijau menjadi investasi penting menghadapi perubahan iklim

ilustrasi ruang hijau, pepohonan, penghijauan (pexels.com/Andy Lee)

Peneliti dari Urban Forest Research Center, Choi Su-min, menjelaskan bahwa hutan kota merupakan infrastruktur hijau yang sangat penting untuk melindungi masyarakat dari gelombang panas yang semakin ekstrem. Ia juga menekankan bahwa kawasan dengan kanopi berlapis dan perpaduan berbagai jenis pohon sebaiknya menjadi prioritas dalam pembangunan taman maupun ruang hijau di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan kota berbasis ekologi menjadi semakin penting di tengah meningkatnya risiko perubahan iklim.

Pandangan tersebut diperkuat oleh hasil penelitian dalam Climate Risk Management yang menyebutkan bahwa ruang hijau kini bukan lagi sekadar elemen estetika kota. Menurut penelitian tersebut, ruang hijau merupakan solusi berbasis alam yang efektif untuk meningkatkan kenyamanan termal, membantu adaptasi terhadap perubahan iklim, dan mendukung kesehatan masyarakat. Dengan memperbanyak ruang hijau yang dirancang secara tepat, kota memiliki peluang lebih besar untuk tetap nyaman dihuni meskipun suhu global terus meningkat.

Hutan kota membuktikan bahwa solusi menghadapi gelombang panas gak selalu harus bergantung pada teknologi yang mahal. Pepohonan mampu memberikan efek pendinginan secara alami melalui naungan dan proses evapotranspirasi, bahkan manfaatnya tetap terasa hingga malam hari.

Berbagai penelitian dari Korea Selatan maupun hasil kajian ilmiah internasional menunjukkan bahwa ruang hijau memiliki peran penting dalam mengurangi suhu perkotaan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, memperluas hutan kota dan merancang ruang hijau dengan komposisi vegetasi yang tepat dapat menjadi investasi jangka panjang agar kota tetap sejuk, sehat, dan nyaman di tengah perubahan iklim.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article