Won Korsel Melonjak Jadi Mata Uang Asia Paling Perkasa

- Won Korea Selatan menguat hampir 8 persen terhadap dolar AS sepanjang Juli, menjadi kinerja terbaik di G20 dan ditutup pada 1.424 won per dolar.
- Ekspektasi repatriasi pendapatan dolar produsen chip, investasi domestik Samsung dan SK Hynix, serta meredanya aksi jual asing menopang arus modal ke Korea Selatan.
- Kenaikan suku bunga Bank of Korea menjadi 2,75 persen, didukung pertumbuhan PDB dan inflasi yang kuat, memperkuat won; masyarakat meningkatkan pembelian dolar AS.
Jakarta, IDN Times – Won Korea Selatan (Korsel) menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di dunia sepanjang Juli setelah menguat hampir 8 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan laporan Chosun Daily, penguatan 8,81 persen menjadi laju tercepat sejak Maret 2009, membawa won bangkit dari titik terendah dalam beberapa dekade pada awal tahun hingga ditutup di level 1.424 won per dolar AS pada akhir Juli setelah sempat menyentuh 1.418 won pada 30 Juli 2026.
Dalam laporan Chosun Daily, kurs dolar AS terhadap won yang sempat mendekati 1.560 won pada awal Juli dan berada di posisi 1.549,4 won pada akhir Juni turun 125,4 won dalam sebulan. Di kelompok negara G20, penguatan won sebesar 7,95 persen dari akhir Juni menjadi yang tertinggi, melampaui yen Jepang yang naik 3,15 persen, krona Swedia 1,91 persen, pound sterling Inggris 1,63 persen, dolar Australia 1,45 persen, dolar Kanada 1,27 persen, dan euro 0,94 persen.
1. Investasi semikonduktor mendorong arus dana kembali

Kenaikan nilai won dipicu ekspektasi pemulangan pendapatan dalam dolar AS milik produsen chip dari luar negeri, meski sebelumnya surplus perdagangan dari ekspor chip kecerdasan buatan (AI) sempat membingungkan para pengamat mata uang. Samsung Electronics dan SK Hynix juga mengumumkan rencana investasi lebih dari 1 triliun dolar AS (setara Rp17,97 kuadriliun) untuk pembangunan infrastruktur AI dan pabrik semikonduktor di dalam negeri, setara sekitar dua pertiga produk domestik bruto (PDB) tahunan Korsel.
Selain itu, SK Hynix menghimpun 26,5 miliar dolar AS (setara Rp476 triliun) melalui pencatatan saham di AS untuk membiayai proyek domestik.
"Ini akan berarti penjualan dolar AS dalam jangka panjang untuk waktu yang sangat lama," kata Abbas Keshvani, strategis makro di RBC Capital Markets, dikutip Financial Times.
Sementara para pedagang memperkirakan aliran dana yang kembali ke Korsel mencapai sekitar 1 miliar dolar AS (setara Rp17,97 triliun) per hari melalui pasar spot dan forward dari pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus.
2. Aliran modal menopang penguatan won

Penguatan won berlanjut seiring meredanya aksi jual saham Korsel oleh investor asing setelah indeks Kospi kehilangan hampir seperempat nilainya akibat pelemahan saham produsen chip global. Kepala strategi valas Asia dan pasar emerging di Barclays, Mitul Kotecha, menjelaskan penurunan tajam pada ekuitas tersebut membantu mengurangi tekanan jual pihak asing terhadap saham maupun mata uang won.
Intensitas penjualan bersih investor asing juga tercatat jauh lebih rendah dibandingkan Juni. Analis valas di Kyobo Securities, Wi Jae-hyun, menyebut kondisi itu turut didukung melemahnya saham teknologi AS yang membatasi aliran modal investor domestik ke luar negeri seperti Nvidia, Micron, dan SpaceX. Sementara itu, chief investment officer fixed income Asia di JPMorgan, Julio Callegari, menilai dinamika arus dana telah bergeser di tingkat margin dengan cara yang mendukung pemulihan won.
3. Kebijakan moneter memperkuat tren penguatan won

Sektor kebijakan moneter ikut menopang penguatan won setelah Bank of Korea (BoK) menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 poin persentase menjadi 2,75 persen untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Manajer portofolio sekaligus analis riset senior di First Eagle Investments, Idanna Appio, mencatat adanya upaya pemerintah yang lebih terkoordinasi untuk mendorong perusahaan dan rumah tangga memulangkan lebih banyak dana ke dalam negeri.
Langkah BoK yang lebih hawkish bertepatan dengan data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan, di mana pertumbuhan PDB kuartal II mencapai 3,7 persen dan inflasi Juni naik menjadi 3,2 persen. Gubernur BoK, Shin Hyun-song, menyatakan bahwa inflasi diperkirakan tetap berada di atas target untuk jangka waktu yang cukup lama dan mempertahankan tren kenaikan suku bunga adalah cara paling masuk akal untuk mengendalikannya.
Masyarakat merespons penguatan won dengan meningkatkan pembelian dolar AS ketika nilainya melandai. Di lima bank besar—KB Kookmin, Shinhan, Hana, Woori, dan NH—nilai penukaran won oleh individu naik 74 persen dari 164 juta dolar AS (setara Rp2,95 triliun) pada Juni menjadi 285 juta dolar AS (setara Rp5,12 triliun) pada Juli. Sementara saldo deposito dolar AS bertambah 5,789 miliar dolar AS (setara Rp104 triliun) menjadi 70,833 miliar dolar AS (setara Rp1.272,9 triliun), mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak Desember 2025 sekaligus level tertinggi dalam tiga tahun tujuh bulan.


![[QUIZ] Tebak Nama Mata Uang Asia Tenggara, Yakin Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20241117/18879-68854c3f6876b62c6c0e179f8d1fe608.jpg)

















