Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lebanon, Yordania, dan Prancis Bahas Dukungan Militer di Paris

3 min read
Lebanon, Yordania, dan Prancis Bahas Dukungan Militer di Paris
Les Invalides (unsplash.com/Anne Pauline Galan)
  • Presiden Lebanon, Raja Yordania, dan Presiden Prancis bertemu di Paris untuk memperkuat dukungan pertahanan bagi tentara serta Pasukan Keamanan Dalam Negeri Lebanon.
  • Ketiganya mendorong deeskalasi Timur Tengah melalui Proses Aqaba, sambil membahas konflik Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan upaya menghentikan serangan Israel ke Lebanon.
  • Prancis dan Italia mengusulkan kontingen Eropa pasca-mandat UNIFIL untuk mendampingi tentara Lebanon di perbatasan, sembari Paris memobilisasi bantuan peralatan, pelatihan, dan penguatan kapasitas.
  • Presiden Lebanon Joseph Aoun, Raja Yordania Abdullah II, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris membahas penguatan dukungan pertahanan bagi tentara serta Pasukan Keamanan Dalam Negeri Lebanon.
  • Ketiga pemimpin mendorong deeskalasi regional melalui Proses Aqaba, sambil membahas konflik Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, serta upaya menghentikan serangan Israel ke Lebanon.
  • Prancis dan Italia mengusulkan kontingen Eropa pasca-mandat UNIFIL untuk mendampingi tentara Lebanon; pelaksanaannya menunggu kerangka hukum, di tengah kebutuhan peralatan, pelatihan, dan penguatan kapasitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Lebanon Joseph Aoun menggelar pertemuan bersama Raja Yordania Abdullah II dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Les Invalides, Paris, Kamis (17/9/2026). Pertemuan tingkat tinggi ini difokuskan untuk memperkuat dukungan pertahanan bagi tentara Lebanon serta Pasukan Keamanan Dalam Negeri Lebanon (Internal Security Forces).

Selain menggalang bantuan pertahanan, ketiga pemimpin negara mendiskusikan eskalasi situasi regional di Timur Tengah guna mewujudkan deeskalasi yang berkelanjutan. Ketiganya menekankan perlunya mengintensifkan upaya internasional menuju deeskalasi komprehensif dan berkelanjutan guna memulihkan stabilitas kawasan.

  1. 1. Kolaborasi keamanan melalui skema Proses Aqaba

    ilustrasi operasi militer
    ilustrasi operasi militer (pexels.com/Pixabay)

    Ketiga pemimpin meninjau pentingnya peran Prancis sebagai tuan rumah putaran baru pertemuan Proses Aqaba (Aqaba Process). Forum ini difokuskan pada upaya mendukung tentara Lebanon sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam menjaga stabilitas keamanan nasional bersama Pasukan Keamanan Dalam Negeri Lebanon.

    Raja Abdullah II memprakarsai proses tersebut sejak 2015 guna memperkuat koordinasi, kerja sama, dan pertukaran keahlian antarnegara kawasan dan mitra internasional dalam menanggulangi terorisme maupun ekstremisme.

    Dilansir TRT World, Aoun menekankan bahwa situasi keamanan di kawasan saling terhubung erat. Dia mendorong pengembangan strategi keamanan regional yang bertumpu pada proyek energi bersama serta kerja sama ekonomi, politik, dan keamanan.

    Pembahasan para kepala negara turut mencakup dinamika konflik di Jalur Gaza, Tepi Barat serta Yerusalem Timur yang diduduki. Di Tepi Barat, serangan oleh pasukan Israel dan pemukim ilegal tercatat terus meningkat secara eskalatif. Sementara itu, pihak Israel terus melanggar kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang disepakati pada Oktober lalu di bawah sponsor Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

  2. 2. Pertemuan bilateral demi menghentikan serangan Israel

    Pasukan IDF dari Brigade Komando, Terjun Payung, dan Brigade 7 lakukan operasi darat di Lebanon selatan.
    Pasukan IDF lakukan operasi darat di Lebanon selatan. (IDF Spokesperson's Unit, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

    Sebelum sesi pertemuan persiapan digelar, Aoun dan Macron melangsungkan dialog bilateral terpisah di Istana Elysee. Dilansir Jordan News, pembicaraan itu membahas upaya menghentikan serangan militer Israel ke Lebanon di tengah negosiasi Lebanon-Amerika Serikat-Israel. Kerangka kerja perundingan yang didukung Amerika Serikat tersebut mencakup penarikan mundur pasukan Israel secara bertahap, perluasan otoritas negara Lebanon, serta pengaturan keamanan perbatasan.

    Aoun menyampaikan apresiasi atas dukungan Prancis terhadap kedaulatan dan institusi resmi Lebanon. Aoun juga mengapresiasi perhatian pribadi Macron terhadap situasi Lebanon dan upayanya memperkuat otoritas serta kedaulatan negara Lebanon, serta mendukung institusi resmi, keamanan, dan militernya. Kedua pemimpin juga sepakat mempererat kerja sama bilateral di sektor ekonomi dan energi, termasuk melanjutkan kegiatan eksplorasi minyak serta gas di blok lepas pantai Lebanon.

  3. 3. Rencana pembentukan pasukan Eropa di Lebanon

    Presiden Lebonon Joseph Aoun
    Presiden Lebonon Joseph Aoun (Arlington National Cemetery, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Aoun menyambut positif inisiatif yang digagas oleh Macron bersama Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni terkait periode setelah berakhirnya mandat UNIFIL. Gagasan tersebut ditujukan untuk mengantisipasi berakhirnya masa mandat Pasukan Sementara PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon) pada akhir tahun ini.

    Pada Juni lalu, Prancis dan Italia telah mengusulkan pembentukan kontingen pasukan Eropa untuk mendampingi tentara Lebanon. Bantuan pasukan Eropa tersebut dirancang untuk menyokong tentara Lebanon begitu mereka dikerahkan ke sepanjang garis perbatasan internasional. Pelaksanaannya masih menunggu persetujuan mengenai kerangka hukum yang tepat.

    Di sisi lain, rangkaian pertemuan di Paris bertujuan memobilisasi dukungan internasional terkait peralatan, pelatihan, serta penguatan kapasitas tentara Lebanon dan Pasukan Keamanan Dalam Negeri Lebanon.

    Otoritas Lebanon mencatat bahwa serangan militer Israel sejak 2 Maret telah menewaskan sedikitnya 4.381 korban jiwa, melukai 12.402 orang, dan memaksa lebih dari 1 juta warga mengungsi. Rentetan serangan tersebut tetap berlanjut meski kesepakatan kerangka kerja yang dimediasi Amerika Serikat pada 26 Juni telah ada.

    Kerangka kesepakatan itu mensyaratkan penarikan pasukan Israel secara bertahap dengan imbalan penyebaran tentara nasional Lebanon serta pelucutan senjata kelompok bersenjata, termasuk Hizbullah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More