6 Negara Timur Tengah Kecam Serangan ke Pasukan Prancis di Lebanon

- Enam negara Timur Tengah mengecam keras serangan terhadap pasukan UNIFIL asal Prancis di Lebanon selatan, menyebutnya pelanggaran hukum humaniter internasional dan mendesak peningkatan keamanan pasukan PBB.
- Presiden Prancis Emmanuel Macron menuding Hizbullah sebagai dalang serangan yang menewaskan Sersan Florian Montorio, namun tuduhan itu dibantah oleh Hizbullah yang mengaku tidak menyerang pasukan UNIFIL.
- Sebelumnya, tiga prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL juga tewas akibat serangan di Lebanon, dan Indonesia melalui Menlu Sugiono mengecam keras tindakan tersebut serta menuntut jaminan keamanan bagi pasukan perdamaian.
Jakarta, IDN Times - Enam negara Timur Tengah yang terdiri dari Lebanon, Arab Saudi, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Mesir mengecam keras serangan ke pasukan UNIFIL asal Prancis yang sedang bertugas di Lebanon selatan. Kecaman itu termuat dalam pernyataan terpisah yang dirilis pada Minggu (19/4/2026).
“Serangan ini merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan 1701,” bunyi salah satu kecaman dari Qatar, seperti dilansir Anadolu Agency.
Di sisi lain, Pemerintah Yordania mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan pengamanan terhadap semua pasukan UNIFIL yang ada di Lebanon. Langkah ini bertujuan untuk menghindari serangan lanjutan yang menewaskan korban jiwa.
1. Presiden Prancis sebut Hizbullah jadi dalang serangan

Serangan ini juga dikecam oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Dalam pernyataannya, Macron mendesak Lebanon untuk menangkap Hizbullah. Sebab, ia menduga Hizbullah menjadi dalang di balik serangan mematikan yang menewaskan pasukannya.
“Semua indikasi menunjukkan bahwa tanggung jawab atas serangan ini terletak pada Hizbullah. Prancis menuntut agar pihak berwenang Lebanon segera menangkap mereka yang bertanggung jawab dan memikul tanggung jawab mereka bersama UNIFIL,” ujar Macron dilansir France 24.
Namun, tuduhan yang dilontarkan Macron dibantah oleh Hizbullah. Mereka mengaku sama sekali tidak melakukan serangan ke wilayah Lebanon selatan untuk menargetkan pasukan UNIFIL.
2. Serangan Israel menewaskan satu pasukan UNIFIL asal Prancis

Sebagai informasi, serangan terhadap pasukan UNIFIL Prancis di Lebanon selatan ini terjadi pada Sabtu (18/4/2026) pagi waktu setempat. Serangan tersebut menewaskan 1 pasukan UNIFIL asal Prancis bernama Sersan Florian Montorio, sedangkan 3 lainnya mengalami luka-luka. Dari 3 korban luka tersebut, 2 di antaranya mengalami luka serius.
Serangan terhadap pasukan UNIFIL ini terjadi saat mereka sedang melakukan patroli di sekitar Lebanon selatan. Berdasarkan keterangan UNIFIL, patroli tersebut dilakukan untuk membersihkan bahan peledak di sepanjang jalan yang ada di Desa Ghandouriyeh. Ini bertujuan untuk membuat desa tersebut aman dilewati oleh pasukan UNIFIL.
3. Pasukan UNIFIL asal Indonesia juga tewas dalam serangan di Lebanon

Selain pasukan Prancis, pasukan UNIFIL asal Indonesia juga pernah ada yang tewas dalam serangan di Lebanon pada 30 Maret lalu. Kala itu, serangan juga dilakukan oleh Hizbullah. Tiga pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sedang bertugas di UNIFIL Lebanon tewas akibat serangan tersebut.
Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengecam serangan Hizbullah yang menyasar markas UNIFIL hingga menewaskan anggota TNI. Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menyebut serangan itu seharusnya tidak dilakukan terhadap pasukan perdamaian yang bertugas di Lebanon.
“Ini adalah misi perdamaian. Insiden seperti ini seharusnya tidak terjadi. Harus ada jaminan keamanan bagi para prajurit penjaga perdamaian,” kata Sugiono saat menerima jenazah TNI yang gugur akibat serangan Hizbullah dilansir Al Jazeera.

















