Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/nimbus_vulpis)
  • Mendagri Prancis Laurent Nunez mengakui kurang mengantisipasi kerusuhan 17 Oktober, yang memicu penjarahan dan kerusakan fasilitas publik, serta siap menjalani investigasi di parlemen.
  • Prancis menyelidiki pelemparan bom molotov dan proyektil ke aparat sebagai dugaan percobaan pembunuhan; belum ada tersangka ditangkap, sementara kejaksaan masih mengidentifikasi pelaku.
  • Sebanyak 320 ribu warga kembali berdemonstrasi di Paris dan kota lain; mayoritas aksi damai, tetapi bentrokan di Lyon dan Toulouse memicu penggunaan gas air mata serta meriam air.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Prancis, Laurent Nunez, pada Selasa (3/11/2026), mengaku bersalah atas kesalahan operasi keamanan dari polisi pada 17 Oktober. Ia menyatakan bersedia menjalani investigasi dan mengklarifikasi apa yang terjadi di Parlemen Prancis. 

Beberapa bulan terakhir, Prancis dirundung demonstrasi besar-besaran dari siswa SMA. Mereka menuntut perbaikan pendidikan, termasuk mengurangi kelebihan kapasitas kelas, memperbaiki gedung sekolah, dan meningkatkan jumlah staf pendidikan. 

1. Kesalahan sebabkan kerusakan fasilitas publik

suasana demonstrasi di Prancis (unsplash.com/howardbouchevereau)

Nunez mengaku menyesal atas insiden kerusuhan dan penjarahan yang terjadi pada 17 Oktober. Menurutnya, aksi kekerasan dan penjarahan ini dapat dihalau dengan pemanggilan sejumlah personel polisi dan gendarmerie yang cuti. 

Dilansir Democrata, Nunez mengaku kurang antisipasi insiden pada hari itu yang menyebabkan kerusakan dan penjarahan di berbagai fasilitas publik dan toko. Ia menilai bahwa insiden ini digerakkan oleh gerakan ultra kiri yang diduga berusaha merusak stabilitas negara, terutama di Paris. 

Mendagri Prancis itu juga menyayangkan luka serius yang dialami oleh sejumlah demonstran dan siswa SMA. Namun, ia tetap membela aparat keamanan Prancis yang dipandang mampu mengendalikan massa. 

2. Prancis gugat pelempar bom molotov ke polisi sebagai upaya percobaan pembunuhan

ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/alicetricky)

Pada Minggu (1/11/2026), Prancis meluncurkan investigasi dan dakwaan percobaan pembunuhan kepada aparat keamanan kepada demonstran. Langkah ini dilakukan menyusul pertikaian antara polisi dan ratusan demonstran yang menuntut perbaikan imbas tingginya biaya hidup, kekerasan polisi, dan rasisme. 

Dilansir Le Monde, polisi Paris mengatakan bahwa ratusan orang menyerang aparat keamanan dengan proyektil dan bom molotov. Alat peledak itu disebut sudah dilemparkan ke 15 personel gendarmerie dan polisi yang berjaga. 

Hingga kini belum ada terduga pelaku yang ditangkap dalam kasus ini. Pihak kejaksaan masih menginvestigasi lebih lanjut dan akan mengidentifikasi terduga pelaku pelemparan bom molotov ini. 

3. Ribuan warga Prancis kembali gelar demo saat Halloween

suasana demonstrasi di Prancis (unsplash.com/karohubert)

Sebanyak 320 ribu warga Prancis kembali menggelar demonstrasi besar-besaran. Mereka menggelar demo di tengah perayaan Halloween dengan mengenakan kostum badut dan penyihir di Paris dan berbagai kota besar di Prancis lainnya. 

Demonstrasi kali ini menjadi kelanjutan aksi yang diinisiasi oleh siswa SMA. Namun, protes kali ini dilakukan di bawah pengawasan ketat dari aparat keamanan dengan dalih untuk menghindari kekerasan yang terjadi sebelumnya. 

Mayoritas demonstrasi ini berjalan dengan damai. Namun, di Lyon dan Toulouse, sejumlah orang melemparkan proyektil ke aparat keamanan dan membuat polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article