Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Serangan Ransomware ke Perusahaan di Jepang Capai Rekor 239 Kasus

2 min read
Serangan Ransomware ke Perusahaan di Jepang Capai Rekor 239 Kasus
Ilustrasi peretas (Unsplash.com/Growtika)
  • Serangan ransomware terhadap perusahaan Jepang mencapai rekor 239 kasus pada Januari–Oktober 2026, melampaui total 228 kasus sepanjang 2025.
  • Riset Proofpoint mencatat 73 persen dari 100 perusahaan Jepang mengalami serangan pada 2025; 37 persen korban membayar tebusan, tetapi sekitar 40 persen tetap gagal memulihkan data.
  • Pemanfaatan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan, dinilai dapat memperparah ancaman siber, seperti pemerasan dengan ancaman penyebaran dokumen sensitif pelanggan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Serangan pemerasan siber (ransomware) terhadap perusahaan di Jepang melonjak tajam hingga mencapai 239 insiden sepanjang Januari sampai Oktober 2026. Angka tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding catatan tahun 2021 berdasarkan temuan yang dirilis pada Rabu (4/11/2026).

Program kejahatan ini umumnya menyandera dokumen penting perusahaan dan meminta tebusan finansial agar akses sistem dapat dipulihkan.

  1. 1. Lonjakan kasus melampaui rekor tahunan sebelumnya

    Temuan lonjakan kasus tersebut dihimpun oleh perusahaan keamanan siber Macnica yang berbasis di Yokohama. Lembaga riset ini mencatat seluruh insiden pemerasan digital di lapangan, termasuk serangan peretasan yang tidak sampai mengunci data korban.

    Catatan per Oktober 2026 tersebut resmi menjadi rekor tahunan tertinggi baru di Jepang karena telah melewati total 228 kasus pada 2025. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa sistem pertahanan siber korporasi di negara tersebut kian rentan disusupi penjahat digital.

  2. 2. Risiko kerugian finansial akibat pembayaran uang tebusan

    Laporan terpisah dari Proofpoint, perusahaan keamanan siber asal California, mengungkap bahwa tingkat serangan terhadap 100 perusahaan Jepang melonjak ke angka 73 persen pada 2025 dibanding 38 persen pada 2023. Lonjakan tersebut tercatat sebagai kenaikan paling tajam dari 11 negara yang dibandingkan dalam riset tersebut.

    Dari total korban di Jepang, proporsi perusahaan yang memilih membayar uang tebusan mencapai 37 persen pada 2025. Kendati demikian, sekitar 40 persen korban yang telah mentransfer dana justru tetap gagal memulihkan data mereka dan bahkan menghadapi pemerasan lanjutan tanpa jaminan serangan akan berhenti.

  3. 3. Ancaman kejahatan siber berbasis kecerdasan buatan

    Kemajuan teknologi digital kini semakin memperbesar risiko serangan terhadap data pribadi pelanggan. Salah satu korbannya adalah penyedia layanan internet GMO Internet Group yang menjadi target peretas dengan ancaman penyebaran dokumen sensitif ke publik.

    Risiko serangan diperkirakan bakal kian parah seiring maraknya pemanfaatan teknologi baru oleh para pelaku kejahatan.

    "Jumlah kasus dapat melonjak jika serangan yang menggunakan kecerdasan buatan meningkat," kata Yutaka Sejiyama dari Pusat Penelitian Keamanan Macnica.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More