Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
NASA Buka Jalan India Ikut Bangun Pangkalan di Bulan
ilustrasi mendarat di bulan (pexels.com/Pixabay)
  • NASA mengajak ISRO bergabung dalam program Moon Base untuk membangun pos terdepan permanen manusia di dekat Kutub Selatan Bulan, melalui misi berawak dan tak berawak.
  • Kutub Selatan Bulan dipilih karena kawah teduhnya diyakini menyimpan es air yang berpotensi diolah menjadi air minum, oksigen, dan bahan bakar roket.
  • Undangan disampaikan dalam pertemuan kerja sama antariksa AS-India di Bengaluru, memperluas kemitraan yang mencakup Artemis Accords, Gaganyaan, dan proyek satelit NISAR.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Administrasi Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA) resmi mengajak India bergabung dalam program Moon Base untuk membangun pos terdepan permanen pertama umat manusia di dekat Kutub Selatan Bulan. Undangan itu disampaikan NASA kepada Indian Space Research Organisation (ISRO) dalam pertemuan ke-9 Kelompok Kerja Bersama Antariksa Sipil Amerika Serikat (AS)-India di Bengaluru pada 5–6 Agustus 2026.

Menurut laporan NDTV, ajakan tersebut membuka babak baru kerja sama antariksa antara kedua negara. NASA menyebut fasilitas itu sebagai "pos terdepan Bulan pertama umat manusia, tempat di mana para astronot akan tinggal, bekerja, dan menjelajah di dekat Kutub Selatan Bulan" yang dibangun melalui rangkaian misi berawak dan tak berawak untuk memanfaatkan sumber daya lokal serta mempersiapkan perjalanan menuju Mars.

1. Kutub Selatan Bulan menyediakan potensi sumber daya penting

ilustrasi bulan (pexels.com/Bruno Scramgnon)

Kawasan Kutub Selatan Bulan dipilih karena memiliki kawah yang terus berada dalam kondisi teduh dan diyakini menyimpan es air. Sebagaimana dilansir WION, sumber daya tersebut berpotensi diolah menjadi air minum, oksigen, hingga bahan bakar roket, sementara pembangunan pangkalan akan dilakukan bertahap untuk melatih astronot menghadapi lingkungan ekstrem.

Eksplorasi Bulan memiliki catatan sejarah panjang yang melibatkan sejumlah negara. AS mencatat sejarah melalui misi Apollo 11 pada 1969 yang membawa manusia pertama mendarat di kawasan khatulistiwa Bulan, sedangkan India menjadi negara pertama yang berhasil melakukan pendaratan lunak pesawat ruang angkasa robotik di Kutub Selatan Bulan melalui Chandrayaan-3 pada 2023.

2. India memperkuat posisi melalui misi Chandrayaan-3

Bendera India (pexels.com/Studio Art Smile)

Pendaratan lander Vikram dan rover Pragyan pada Agustus 2023 memperkuat keberadaan India di kawasan Kutub Selatan Bulan. Perdana Menteri Narendra Modi kemudian memberi nama lokasi pendaratan tersebut “Titik Shiv Shakti”, sedangkan perhatian terhadap kawasan itu telah berkembang sejak Chandrayaan-1 pada 2008 yang menemukan molekul air di permukaan Bulan.

Sejumlah negara maju juga meningkatkan rencana eksplorasi Bulan masing-masing. AS menargetkan pengiriman kembali astronot ke Bulan pada akhir dekade ini atau awal dekade berikutnya, India memproyeksikan pendaratan astronot pada 2024 atau setelahnya melalui Visi Antariksa 2047, sementara China dan Rusia berencana membangun Stasiun Penelitian Bulan Internasional di Kutub Selatan pada 2035.

3. AS dan India memperluas kerja sama antariksa

ilustrasi peluncuran roket (pexels.com/SpaceX)

Pertemuan di Bengaluru diawali sambutan Ketua ISRO V. Narayanan dan Duta Besar AS untuk India Sergio Gor yang membahas penguatan kerja sama kedua negara. Diskusi kemudian dipimpin Direktur Pusat Satelit UR Rao di ISRO M. Sankaran bersama Asisten Menteri Luar Negeri AS Wesley Brooks dan Administrator Asosiasi NASA Kathleen Karika untuk membahas peluang kemitraan ilmu pengetahuan, termasuk program Gaganyaan yang tengah bersiap mengirim astronot India ke orbit Bumi.

India menandatangani Kesepakatan Artemis pada 21 Juni 2023 sebagai negara penandatangan ke-27. Kesepakatan tersebut mencakup prinsip eksplorasi antariksa yang damai, transparan, dan berkelanjutan, sementara kedua negara juga menjalankan proyek satelit NASA-ISRO Synthetic Aperture Radar (NISAR) dengan nilai estimasi lebih dari 1,4 miliar dolar AS (sekitar Rp25,158 triliun).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article