NASA Pastikan Suara Dentuman di New England Berasal dari Pecahan Meteor

- NASA mengonfirmasi meteor melintas dan pecah di atmosfer New England pada 30 Mei 2026, menimbulkan kilatan cahaya serta dentuman yang terekam satelit GOES-19 dan kamera warga.
- Meteor terpecah di ketinggian sekitar 64 km dengan energi setara 300 ton TNT, menciptakan gelombang tekanan udara yang menyebabkan suara dentuman keras dan getaran di sejumlah bangunan.
- Objek berdiameter sekitar satu meter ini dipastikan sebagai benda langit alami, bukan sampah antariksa, dengan kemungkinan sisa pecahan jatuh ke wilayah perairan laut.
Jakarta, IDN Times - Sebuah meteor melintas dan terpecah di atmosfer kawasan New England, Amerika Serikat, pada Sabtu (30/5/2026). Peristiwa alam ini menghasilkan kilatan cahaya serta suara dentuman yang terdengar oleh warga di sekitar wilayah tersebut.
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi bahwa kejadian ini berlangsung pada pukul 14.06 waktu setempat. Kilatan dari benda langit tersebut terekam oleh satelit GOES-19 milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) serta didukung oleh rekaman kamera dasbor (dashcam) kendaraan warga.
1. Lokasi hancurnya meteor di ketinggian 64 km

Meteor tersebut dilaporkan terpecah pada ketinggian sekitar 64 kilometer dari permukaan bumi. Lokasi hancurnya meteor berada di atas ruang udara timur laut Massachusetts dan tenggara New Hampshire.
Peristiwa ini berhasil terverifikasi berkat data satelit cuaca dan video dari kamera kendaraan masyarakat yang sedang melintas saat kejadian.
2. Gelombang tekanan udara menghasilkan suara dentuman

NASA memperkirakan energi yang dilepaskan saat meteor tersebut hancur setara dengan ledakan 300 ton TNT. Karena meteor bergerak melebihi kecepatan suara, pergerakannya di atmosfer menciptakan gelombang tekanan yang terdengar sebagai sonic boom atau dentuman keras di permukaan tanah.
"Energi yang dilepaskan saat pecah diperkirakan setara dengan sekitar 300 ton TNT, dan hal itu menjelaskan penyebab suara dentuman keras tersebut," kata Wakil Kepala Berita NASA, Jennifer Dooren, dilansir The Guardian.
Dampak gelombang udara ini membuat sejumlah bangunan bergetar, sehingga sebagian warga sempat mengira terjadi gempa bumi atau petir. Namun, badan geologi Amerika Serikat (USGS) dan ahli cuaca setempat memastikan tidak ada aktivitas gempa maupun badai petir saat peristiwa berlangsung.
3. Objek dipastikan murni benda alam berukuran satu meter

NASA menegaskan bahwa objek yang masuk ke atmosfer bumi ini adalah benda alam, bukan satelit atau sampah luar angkasa yang jatuh kembali. American Meteor Society memperkirakan meteor tersebut memiliki lebar sekitar satu meter saat memasuki atmosfer.
"Ukuran benda ini jelas lebih besar dari meteor yang biasa terlihat, lebarnya sekitar satu yard atau hampir satu meter," kata Pemantau Program American Meteor Society, Robert Lunsford.
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah sisa material meteor tersebut sampai ke tanah. Jika tidak habis terbakar di atmosfer, sisa pecahan diprediksi jatuh ke dalam wilayah perairan laut.



















