Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nepal Bantah Tolak Bantuan Asing untuk Evakuasi Korban Banjir
potret bendera Nepal (unsplash.com/binaya_photography)
  • Pemerintah Nepal membantah menolak bantuan asing; bantuan internasional akan diminta sesuai kebutuhan operasional yang diidentifikasi otoritas keamanan pemimpin evakuasi.
  • Nepal membutuhkan bantuan teknis, termasuk alat berat, pemulihan transportasi dan komunikasi, identifikasi jenazah, pengujian DNA, serta penyimpanan jenazah jangka panjang.
  • Banjir bandang di Nepal menewaskan 750 orang dan membuat lebih dari 3.000 lainnya hilang, sementara sejumlah negara menawarkan pasukan penyelamat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Nepal membantah kabar pihaknya telah menolak bantuan asing untuk mengevakuasi korban banjir di wilayahnya. Dalam pernyataannya pada Sabtu (29/8/2026), Menteri Luar Negeri (Menlu) Nepal, Shisir Khanal menjelaskan, pihaknya hanya meminta bantuan internasional berdasarkan kebutuhan otoritas keamanan Nepal sebagai pemimpin evakuasi di lapangan. 

Khanal menjyampaikan, langkah ini dilakukan agar bantuan yang dikirim negara asing bisa tepat sasaran dan benar-benar membantu di lapangan. Oleh karena itu, sebelum menerima bantuan asing, otoritas keamanan Nepal, kata Khanal, harus mengidentifikasi kebutuhan operasional di lapangan terlebih dahulu. Setelah itu, baru permintaan bantuan akan dikirim ke negara yang bersedia membantu.  

1. Nepal membutuhkan bantuan teknis untuk pemulihan bencana

Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang dan longsor Nepal pada 27 Agustus 2026 (AFP/PRABIN RANABHAT)

Khanal menambahkan, Nepal saat ini membutuhkan bantuan teknis dari pihak asing untuk membantu pemulihan bencana banjir di wilayahnya. Oleh karena itu, Khanal mengatakan, pihaknya akan terus berupaya berkomunikasi dengan negara-negara sahabat agar bantuan teknis tersebut bisa segera terpenuhi. 

Dilansir CNA, bantuan teknis yang dimaksud Khanal tadi terdiri dari alat berat untuk mengevakuasi korban yang terjebak di terowongan di sekitar lokasi bencana serta pembukaan layanan transportasi dan komunikasi di area terdampak. Selain itu,k Nepal juga meminta bantuan alat identifikasi jenazah, alat pengujian DNA, dan tempat penyimpanan jenazah untuk jangka waktu yang lebih lama. 

"Kami telah mengajukan permintaan untuk layanan khusus dan bantuan teknis semacam itu di bidang-bidang di mana kami tidak memiliki cukup keahlian dan pengetahuan teknis," kata Khanal. 

2. Nepal sebelumnya dikabarkan menolak bantuan asing

potret bendera Nepal (unsplash.com/Samrat Khadka)

Pernyataan Khanal tadi merupakan klasifikasi dari pernyataan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Nepal, Lok Bahadur Chhetri. Sebab, pada Rabu (26/8/2026) lalu, ia sempat mengatakan bahwa Nepal tidak membutuhkan bantuan asing untuk mengevakuasi korban banjir di wilayahnya. 

"Tawaran bantuan itu wajar. Namun, badan keamanan kami sedang melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Untuk saat ini, kami tidak membutuhkan bantuan seperti itu," kata Chhetri.

Pernyataan Chhetri ini lantas tersebar dengan cepat di media sosial. Oleh karena itu, banyak media internasional yang ikut melaporkannya.   

3. Korban tewas dan hilang akibat banjir di Nepal terus bertambah

ilustrasi korban tewas (pexels.com/Mario Wallner)

Berdasarkan data terbaru dari The Guardian, korban tewas imbas banjir bandang di Nepal saat ini sudah mencapai 750 orang. Sementara itu, lebih dari 3.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Petugas penyelamat kini masih berupaya keras untuk mencari mereka. 

Sejumlah negara, seperti India, China, Jepang, Korea Selatan (Korsel), Inggris, Bangladesh, Sri Lanka, dan Amerika Serikat (AS), dikabarkan sudah meminta Nepal agar mengizinkan pengiriman pasukan penyelamat untuk membantu evakuasi korban. Sebab, pasukan penyelamat asing sebelumnya sempat dilarang masuk karena Nepal mengatakan tidak butuh bantuan asing untuk mengevakuasi korban. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article