Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nepal dan China Waspadai Ancaman Banjir Susulan di Himalaya
Banjir (unsplash.com/Chris Gallagher)
  • Nepal dan China memperingatkan banjir bandang susulan setelah dua danau glasial tidak stabil terbentuk akibat sungai tersumbat longsor di perbatasan Himalaya.
  • China memperkirakan tiga juta meter kubik air masuk ke danau hingga tekanan memuncak 1 September 2026; Nepal melarang aktivitas di sekitar sungai.
  • Runtuhan gletser menewaskan sedikitnya 362 orang, hampir 1.000 hilang, memutus jalur Kathmandu-Lhasa, serta memaksa tim penyelamat menghentikan sementara evakuasi akibat hujan deras.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Nepal dan China mengeluarkan peringatan dini ancaman banjir bandang susulan di Pegunungan Himalaya pada Kamis (27/8/2026). Bahaya ini muncul akibat terbentuknya dua danau glasial baru di area perbatasan kedua negara usai bencana awal.

Otoritas setempat mengimbau seluruh warga dan tim evakuasi untuk segera menjauhi bantaran sungai. Langkah pencegahan ini diambil guna menghindari dampak luapan air mendadak dari cekungan yang tersumbat material longsor, sementara pencarian ribuan korban hilang masih berjalan.

1. Pembentukan danau glasial ancam permukiman di perbatasan

Penyumbatan aliran sungai oleh puing longsor memicu terbentuknya dua danau glasial tidak stabil di perbatasan kedua negara. Bendungan alami ini terus menampung air hujan, sehingga berpotensi jebol dan membahayakan kawasan hilir.

China memperkirakan tiga juta meter kubik air akan mengalir ke danau tersebut dan mencapai puncak tekanan pada 1 September 2026. Merespons hal ini, lembaga kebencanaan Nepal langsung melarang segala aktivitas di sekitar aliran sungai.

"Warga, penumpang, dan seluruh tim penyelamat diminta meningkatkan kewaspadaan khusus serta tetap berada di tempat aman yang jauh dari tepi sungai," kata Otoritas Penanggulangan Bencana Nepal.

2. Runtuhan gletser memutus akses transportasi darat perbatasan

Bencana utama pada Rabu (26/8/2026) dipicu oleh runtuhnya gletser di pegunungan tinggi. Longsoran es yang membawa material batu dan lumpur ini bergerak sangat cepat dan menyapu desa-desa di sepanjang lembah.

Peristiwa tragis tersebut menewaskan sedikitnya 362 orang dan menyebabkan hampir 1.000 warga hilang. Terjangan lumpur padat ini turut merusak jalur perlintasan utama antara Kathmandu dan Lhasa, sehingga melumpuhkan total transportasi perbatasan.

"Tampaknya bagian depan gletser patah, bercampur dengan puing longsor, lalu tiba-tiba mencapai sungai tanpa ada yang menyadari bahwa ini menjadi sumber risiko," ujar Profesor Universitas Ottawa, Luke Copeland, dilansir Global News.

3. Cuaca ekstrem paksa tim penyelamat mengevakuasi diri

Operasi pencarian korban di lokasi reruntuhan masih berlangsung, namun menghadapi kendala berat akibat cuaca ekstrem. Hujan deras yang diprakirakan mengguyur wilayah Himalaya sepanjang pekan ini memperbesar ancaman jebolnya tanggul alami yang menahan air.

Guna menghindari risiko bahaya susulan, sejumlah personel tim penyelamat di Nepal memutuskan untuk menghentikan sementara aktivitas evakuasi di dasar lembah. Mereka segera memindahkan peralatan dan posko kerja menuju ke area pegunungan yang lebih aman.

"Kami di sini untuk melakukan penyelamatan dan tidak ingin berada di dekat zona bahaya," kata Petugas Penyelamat Nepal, Pawan Koirala.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article