Fakta-Fakta Banjir Bandang di Perbatasan Nepal yang Telan Ratusan Jiwa

- Banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan sedikitnya 157 orang setelah runtuhan gletser dan longsoran membendung Anak Sungai Lhende, lalu bendungan alami jebol.
- Gelombang air berlumpur menghancurkan permukiman dan infrastruktur, termasuk sembilan proyek listrik tenaga air, 19 jembatan, serta 40 kilometer jalan; 391 warga asing dan 44 personel keamanan hilang.
- Peringatan dini gagal karena stasiun pemantau hanyut sebelum mengirim sinyal. Nepal dan China kemudian sepakat mempercepat pertukaran informasi debit air di perbatasan.
Jakarta, IDN Times - Bencana banjir bandang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026) pagi waktu setempat. Musibah mematikan ini melanda kawasan sepanjang aliran Sungai Bhotekoshi dan menghanyutkan pemukiman, infrastruktur, serta merenggut sedikitnya 157 korban jiwa.
Ratusan orang lainnya, termasuk ratusan wisatawan mancanegara dan personel keamanan, dilaporkan masih hilang akibat terjangan gelombang air dan lumpur setinggi puluhan meter. Dilansir Reuters , otoritas setempat mengkhawatirkan jumlah korban meninggal akan terus bertambah seiring luasnya area dampak bencana.
1. Dugaan penyebab runtuhnya gletser dan pembendungan sungai di Tibet

Pegunungan Himalaya (unsplash.com/Sukant Sharma) Bencana ini dipicu oleh bagian bawah gletser di Pegunungan Himalaya yang runtuh dan jatuh ke dasar lembah di wilayah Tibet, China. Runtuhan es dan batu yang diduga dipicu oleh gempa bumi tersebut menimbulkan longsoran besar yang membendung aliran Anak Sungai Lhende.
Berdasarkan analisis citra satelit dari Planet Labs, longsoran material terjadi sekitar 20 kilometer di sebelah timur laut perbatasan Rasuwagadhi. Saat bendungan alami dari puing-puing es tersebut jebol, gelombang air bercampur lumpur meluncur deras menerjang Pelabuhan Gyirong di Tibet hingga wilayah Nepal.
Warga di sekitar area perbatasan tidak mendapatkan peringatan dini karena tidak ada hujan yang turun di lokasi pemukiman mereka saat peristiwa terjadi. Terjangan air bah secara tiba-tiba menghancurkan kawasan Timure di dekat perbatasan Nepal dan China sebelum meluncur deras ke arah hilir.
2. Dampak kerusakan infrastruktur dan ratusan korban yang hilang

ilustrasi tim penyelamat pasca bencana (pexels.com/samimibirfotografci) Terjangan air dan lumpur merusak fasilitas publik secara masif di sepanjang aliran sungai. Dilansir The Kathmandu Post via Asia News Network, banjir bandang menghancurkan sembilan proyek pembangkit listrik tenaga air, sembilan kantor cabang bank komersial, 19 jembatan yang dapat dilalui kendaraan, serta merusak 40 kilometer jalan raya.
Kepala Kantor Bea Cukai Rasuwa, Rajendra Dhungana, menceritakan kepanikan saat air bah menghantam kawasan pasar. "Banjir itu datang seperti gelombang setinggi hampir 100 meter dan menerjang pasar," kata Dhungana kepada The Kathmandu Post. "Dalam sekejap, pasar itu lenyap."
Hingga saat ini, sebanyak 391 warga negara asing dan 44 personel keamanan dilaporkan belum ditemukan. Korban hilang asal luar negeri tersebut mencakup 133 peziarah asal India, 47 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, 24 warga Kanada, sembilan pekerja proyek hidro asal Korea Selatan, serta beberapa warga Malaysia dan Afrika Selatan.
Dampak luapan air juga meluas hingga ke negara tetangga, India. Otoritas Negara Bagian Bihar di India terpaksa mengungsikan sekitar lima ribu warga di kawasan dataran rendah setelah peringatan bahaya banjir dikeluarkan.
3. Tantangan sistem peringatan dini dan koordinasi lintas negara

Jembatan Larcha pada Sungai Bhotekoshi, Nepal (Saddam19, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Upaya penyelamatan terhambat oleh kerusakan jaringan listrik dan tingginya endapan lumpur di area bencana. Selain itu, stasiun pemantau banjir otomatis milik Nepal di hulu Sungai Bhotekoshi hanyut tersapu air sebelum sempat mengirimkan sinyal bahaya.
Hidrolog Senior Divisi Prakiraan Banjir Nepal, Binod Parajuli, menjelaskan bahwa informasi banjir baru diterima pihaknya pada pukul 08.56 waktu setempat. "Kami gagal di Rasuwa," kata Binod Parajuli. "Namun kami mengirim peringatan ke Nuwakot dan area hilir, dan kemungkinan beberapa ratus orang berhasil menyelamatkan nyawa mereka."
Mantan Kepala Eksekutif Badan Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nasional Nepal, Anil Pokhrel, menyoroti pentingnya mekanisme peringatan dini lintas batas. "Kami masih belum tahu seberapa besar risiko yang tersisa," kata Anil Pokhrel kepada media Kantipur. "Kecuali Kementerian Luar Negeri Nepal berkoordinasi dengan otoritas China terkait dan membuat sistem peringatan dini, masalah ini akan terus berlanjut."
Menindaklanjuti musibah tersebut, Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal telah menggelar pertemuan virtual dengan Administrasi Meteorologi China. Dalam pertemuan tersebut, pihak China sepakat untuk memberikan informasi secara cepat kepada Nepal jika terjadi peningkatan debit air di wilayah perbatasan mereka.


















