Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Netanyahu Berjanji Bentuk Pemerintahan Sayap Kanan yang Kuat
PM Israel Benjamin Netanyahu (U.S. Department of State from United States, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Netanyahu berjanji membentuk pemerintahan sayap kanan kuat setelah exit poll menunjukkan kebuntuan, sambil menegaskan Likud sebagai partai terbesar dan menunggu penghitungan final.
  • Netanyahu menolak koalisi yang bergantung pada partai Arab, serta menonjolkan operasi militer Israel dan komitmen melanjutkan konfrontasi terhadap ancaman Iran.
  • Dengan 55,4 persen suara dihitung, blok Netanyahu memimpin 56 kursi, oposisi 49, dan partai Arab 15; belum ada blok mencapai 61 kursi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, berjanji membentuk pemerintahan sayap kanan yang kuat usai pemilu ketat pada Selasa (27/10/2026). Pernyataan itu disampaikan di hadapan para pendukung dan aktivis Partai Likud di Yerusalem pada Rabu (28/10/2026) dini hari. Dalam pidato singkat tersebut, ia belum mengklaim kemenangan langsung.

Hasil hitung cepat (exit poll) menunjukkan pemilu berakhir buntu karena belum ada blok politik yang mengamankan mayoritas kursi di parlemen Israel (Knesset). Meski demikian, Netanyahu menegaskan Likud tetap menjadi partai tunggal terbesar di parlemen yang beranggotakan 120 kursi tersebut. Ia meminta para pendukungnya menunggu hasil penghitungan suara akhir dalam satu hingga dua hari ke depan.

1. Tolak koalisi pemerintahan yang bergantung pada partai Arab

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (Ron Przysucha / U.S. Department of State from United States, Public domain, via Wikimedia Commons)

Netanyahu mengklaim blok sayap kanan telah mengantongi mayoritas suara yang menentukan di kalangan publik Yahudi dan pendukung negara Zionis. Ia menyerukan seluruh mayoritas Yahudi serta Zionis segera bersatu membentuk pemerintahan nasional. Menurutnya, keunggulan Likud sekaligus mematahkan kebohongan saluran propaganda yang sebelumnya hanya memprediksi perolehan 18 atau 19 kursi untuk melemahkan semangat pemilih.

"Kita harus membentuk pemerintahan sayap kanan yang kuat. Mayoritas Yahudi dan Zionis harus bersatu," kata Netanyahu, dilansir The Straits Times.

Selain menyerukan persatuan sayap kanan, Netanyahu menentang keras upaya pembentukan pemerintahan yang mengandalkan dukungan partai-partai Arab. Ia menuding partai-partai tersebut bersikap anti-Zionis dan menentang keberadaan negara Israel. Baginya, koalisi yang bertumpu pada kelompok itu sangat mustahil dan membahayakan keamanan negara.

Penolakan ini muncul di tengah lonjakan perolehan suara partai-partai Arab dalam pemilu kali ini. Tingkat partisipasi pemilih Arab yang tinggi bahkan memicu antrean panjang di berbagai tempat pemungutan suara hingga malam hari. Raihan kursi yang signifikan tersebut berpotensi membantu blok oposisi mengambil alih kekuasaan dari tangan Netanyahu.

2. Pamerkan rekam jejak militer dan janji hadapi ancaman Iran

serangan Israel ke Teheran pada Juni 2025 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Dalam pidatonya, Netanyahu turut membela rekam jejak militer selama masa kepemimpinannya. Ia mengklaim rangkaian operasi militer Israel terhadap Hamas, Hizbullah, dan Iran telah mengubah wajah kawasan Timur Tengah. Pencapaian itu disebut sebagai hasil keberanian para tentara dan ketepatan keputusan pemerintahannya.

"Kami telah menyingkirkan Mohammed Deif, Yahya Sinwar, Hassan Nasrallah, dan Ali Khamenei. Kami membangun zona keamanan di Gaza, Lebanon, serta Suriah," ujar Netanyahu, dilansir Ynetnews.

Meski mengklaim telah melemahkan rezim Teheran, Netanyahu menegaskan pertempuran melawan Iran masih belum selesai. Ia berjanji terus menghadapi ancaman eksistensial Iran bersama Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Menurutnya, konfrontasi dengan Teheran akan berlanjut selama kepemimpinan Iran saat ini masih berkuasa dan berupaya menghancurkan Israel.

Di sisi lain, Trump mengklaim dukungannya terhadap Netanyahu selama masa kampanye telah mendongkrak perolehan suara PM tersebut. Sebelumnya, poster kampanye yang menampilkan foto kebersamaan Netanyahu dan Trump memang terpampang di Kota Yerusalem. Walau begitu, laporan menyebutkan Trump sempat menolak desakan Netanyahu untuk melancarkan serangan militer ke Iran tepat sebelum pemilu berlangsung.

3. Kubu oposisi desak Netanyahu untuk segera mundur

mantan kepala militer Israel, Gadi Eisenkot (Chairman of the Joint Chiefs of Staff from Washington D.C, United States, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Di kubu lawan, pemimpin oposisi sekaligus Ketua Partai Yashar, Gadi Eisenkot, turut merayakan hasil hitung cepat di markas partainya pada malam pemilihan. Tokoh penantang utama itu menilai tingginya angka partisipasi pemilih menjadi bukti bahwa warga Israel menginginkan perubahan. Ia mendesak Netanyahu segera menerima mosi tidak percaya dari rakyat dan mundur dari panggung politik.

"Saya akan melakukan segalanya untuk membentuk pemerintahan Zionis yang melayani semua pihak. Menggelar pemilu lagi saat tingkat partisipasi setinggi ini adalah sebuah kesalahan," tutur Eisenkot, dilansir The Times of Israel.

Eisenkot menjelaskan koalisi bentukannya nanti akan berkomitmen menerapkan wajib militer bagi seluruh warga dan menghancurkan Hamas. Ia juga berjanji pemerintahannya akan menghormati seluruh lapisan masyarakat Israel. Namun, sekutu sayap kanan Netanyahu yang memimpin Partai Otzma Yehudit, Itamar Ben Gvir, langsung memperingatkan PM agar tidak membentuk pemerintahan persatuan dengan Eisenkot.

Berdasarkan penghitungan 55,4 persen suara masuk, blok pendukung Netanyahu memimpin sementara dengan 56 kursi, sedangkan blok oposisi meraih 49 kursi dan partai-partai Arab mengantongi 15 kursi. Hasil jajak pendapat Saluran 12 sebelumnya menempatkan Likud di posisi teratas dengan 27 kursi, disusul Partai Yashar sebanyak 21 kursi, serta Partai B'Yachad pimpinan Naftali Bennett dan Joint List yang masing-masing memperoleh 12 kursi. Karena syarat mayoritas parlemen membutuhkan minimal 61 kursi, kedua blok utama masih menghadapi kebuntuan untuk membentuk koalisi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article