Sambut Sumpah Pemuda, AMPI Targetkan Jadi Wadah Bagi Pemimpin Golkar

AMPI ditargetkan menjadi tempat lahirnya pemimpin muda dengan gagasan, karakter, kapasitas, dan integritas.
Zigo menilai bonus demografi perlu diarahkan menjadi produktivitas, inovasi, dan kepemimpinan.
Kaderisasi AMPI bertumpu pada kepemimpinan gagasan, pengalaman nyata, serta jalur talenta yang profesional dan berintegritas.
Jakarta, IDN Times – Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) sekaligus Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Zigo Rolanda, menilai organisasi kepemudaan tak boleh sekadar menjadi wadah kegiatan seremonial maupun mobilisasi politik. AMPI harus menjadi tempat lahirnya pemimpin muda yang punya gagasan, karakter, kapasitas, dan integritas.
Hal itu disampaikan Zigo dalam refleksi momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Menurutnya, semangat Sumpah Pemuda 1928 harus diterjemahkan sesuai tantangan generasi muda saat ini.
Zigo mengatakan tantangan anak muda kini semakin kompleks, mulai dari disrupsi teknologi, persaingan kerja, derasnya arus informasi, hingga kebutuhan terhadap kepemimpinan yang kompeten dan berintegritas.
“AMPI harus menjadi laboratorium kepemimpinan nasional sekaligus kawah candradimuka kaderisasi Partai Golkar, tempat generasi muda ditempa menjadi pemimpin yang memiliki gagasan, karakter, dan kapasitas untuk mengabdi,” kata Zigo dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
1. Bonus demografi jangan cuma jadi angka

Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) X Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa (29/9/2026)(Dok. AMPI) Zigo menilai Indonesia memiliki peluang besar melalui bonus demografi. Penduduk usia produktif 15-64 tahun masih menjadi kelompok dominan dalam struktur penduduk Indonesia.
Kekuatan generasi muda juga terlihat dalam politik. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), pemilih Generasi Z dan milenial mencapai sekitar 58,38 persen dari total pemilih pada Pemilu 2024.
Menurut Zigo, angka tersebut menunjukkan generasi muda bukan hanya penerus bangsa. Mereka juga menjadi kekuatan yang ikut menentukan arah kepemimpinan nasional.
Namun, bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan bagi Indonesia. Tanpa peningkatan kompetensi, kesempatan kerja, dan kualitas kepemimpinan, besarnya populasi usia produktif justru dapat menghadirkan persoalan sosial dan ekonomi.
“Karena itu, bonus demografi harus diterjemahkan menjadi bonus produktivitas, inovasi, dan kepemimpinan,” ujarnya.
Atas dasar itu, AMPI dinilai perlu memastikan anak muda tidak hanya menjadi objek pembangunan atau pemilih dalam kontestasi politik. Anak muda juga harus diberi ruang menjadi pelaku pembangunan sekaligus calon pemimpin yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.
2. AMPI diminta cetak kader yang tak cuma jago bicara

Sayap organisasi Partai Golkar, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) X di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, pada Selasa (29/9/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Zigo melihat perubahan perilaku generasi muda juga semakin dipengaruhi ruang digital. Berdasarkan catatan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66 persen pada 2025.
Teknologi, kata dia, membuka ruang bagi anak muda untuk membangun usaha, memperluas jejaring, menyampaikan aspirasi, hingga berpartisipasi dalam kehidupan publik.
Namun, ruang digital juga membawa tantangan berupa disinformasi, polarisasi, dan kecenderungan melihat persoalan secara dangkal. Kecepatan menyampaikan pendapat belum tentu dibarengi kedalaman analisis.
“Kecepatan menyampaikan pendapat tidak selalu diikuti kedalaman analisis, sementara popularitas tidak otomatis mencerminkan kapasitas kepemimpinan,” kata Zigo.
Karena itu, AMPI harus mendorong kader agar menjadi produsen gagasan, bukan sekadar konsumen informasi. Para kader perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, literasi digital, pemahaman kebijakan publik, serta kemampuan mengubah aspirasi menjadi program yang terukur.
Menurut Zigo, kaderisasi AMPI setidaknya perlu bertumpu pada tiga pilar.
Pertama, kepemimpinan gagasan atau thought leadership. Kader harus memahami isu strategis seperti ekonomi digital, kewirausahaan, ketahanan pangan, transisi energi, dan pembangunan daerah.
Kedua, pengalaman nyata di tengah masyarakat atau field experience. Kader tidak cukup hanya mengikuti diskusi dan pelatihan, tetapi juga harus terlibat langsung dalam pendampingan UMKM, pengembangan kewirausahaan muda, aksi sosial, hingga penyelesaian persoalan konkret di daerah.
Ketiga, jalur talenta kepemimpinan yang profesional dan berintegritas atau leadership talent pipeline. AMPI harus menjadi ruang untuk mengenali serta mengembangkan kader berdasarkan kapasitas, rekam jejak, dan komitmen pengabdian.
3. Kualitas pemimpin jadi ukuran keberhasilan AMPI

Zigo Rolanda yang maju sebagai calon tunggal Ketua Umum DPP AMPI (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Zigo menilai kebesaran Partai Golkar tidak hanya ditentukan oleh sejarah dan pengalaman politik. Kemampuan partai menyiapkan generasi penerus juga menjadi faktor penting.
Kaderisasi yang kuat diperlukan agar Partai Golkar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman sekaligus menjawab aspirasi masyarakat yang terus berkembang.
Dia menekankan kepercayaan publik juga tidak cukup dibangun melalui slogan dan komunikasi politik. Kepercayaan harus lahir dari integritas, kompetensi, konsistensi, dan hasil kerja yang dapat dirasakan masyarakat.
“Karena itu, AMPI harus menempatkan etika dan tanggung jawab sebagai bagian mendasar dari proses pembentukan pemimpin,” ujarnya.
Zigo kemudian mengaitkan semangat Sumpah Pemuda 1928 dengan tantangan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Jika Sumpah Pemuda menjadi tonggak persatuan untuk memperjuangkan kemerdekaan, maka generasi muda saat ini harus menjadikannya momentum untuk membuktikan kontribusi dalam mengisi kemerdekaan.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan pemimpin muda yang mampu mengubah potensi menjadi produktivitas, gagasan menjadi kebijakan, serta kekuasaan menjadi manfaat bagi rakyat.
“Di bawah bendera AMPI, komitmen kita adalah menjadikan organisasi ini sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda yang berani berpikir, bersedia bekerja, mampu berkolaborasi, dan siap mempertanggungjawabkan amanah,” tutur Zigo.
Dia menegaskan keberhasilan AMPI pada akhirnya tidak semata-mata diukur dari besarnya organisasi, banyaknya kegiatan, ataupun kuatnya mobilisasi politik.
“Melainkan dari kualitas pemimpin yang dilahirkan dan manfaat yang mereka berikan kepada masyarakat,” kata Zigo.
Zigo berharap AMPI menjadi tempat lahirnya pemimpin muda yang bukan hanya siap meraih kepercayaan publik, tetapi juga mampu mengelola amanah dan menghadirkan manfaat bagi rakyat.
“Sebab, masa depan Partai Golkar dan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita wariskan, tetapi juga oleh kualitas generasi pemimpin yang kita siapkan hari ini,” ujarnya.





















