Donald Trump Sebut Kemenangan Lula da Silva di Brasil Curang

- Donald Trump menuding kemenangan Lula da Silva dalam pilpres Brasil curang tanpa bukti konkret, setelah Flávio Bolsonaro menolak hasil putaran kedua dan menuntut pembatalan pemilu.
- Lula meraih 64,2 juta suara atau 51,79 persen, unggul 4,4 juta suara atas Flávio; kemenangan ini mengamankan masa jabatan keempatnya.
- Mahkamah Agung Brasil memperpanjang pemungutan suara dua jam karena hambatan transportasi dan cuaca; otoritas pemilu menyatakan kendala teknis tidak memengaruhi keabsahan hasil nasional.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuding kemenangan presiden terpilih Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, sarat rekayasa dan kecurangan. Tudingan ini muncul setelah kandidat sayap kanan sekaligus sekutu lamanya, Flávio Bolsonaro, menolak hasil putaran kedua dan menuntut pembatalan pemilu.
Lula mengamankan masa jabatan keempatnya setelah mengalahkan Flávio dengan perolehan 51,79 persen suara pada Minggu (25/10/2026). Kekalahan kubu konservatif tersebut memupus harapan Gedung Putih untuk menempatkan sekutu ideologisnya memimpin kekuatan ekonomi terbesar di Amerika Latin.
1. Tudingan Donald Trump terkait kejanggalan pemilu

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berpidato dalam acara peluncuran roket SpaceX Falcon 9 yang membawa pesawat ruang angkasa Crew Dragon dalam misi SpaceX Demo-2 NASA bersama dua astronot AS, Robert Behnken dan Douglas Hurley, di Pusat Luar Angkasa Kennedy NASA di Florida pada Sabtu 30 Mei 2020. (commons.wikimedia.org/NASA) Presiden Donald Trump melontarkan kritik terhadap pemilu Brasil saat berbicara kepada awak media di Washington pada Senin (26/10/2026), sebelum bertolak ke Mississippi. Trump menilai proses pemilu tersebut tampak bermasalah dan memberikan citra buruk di mata dunia.
"Sejujurnya, ini terlihat seperti pemilu curang lainnya. Situasi ini memberikan citra yang sangat buruk bagi dunia," kata Trump, dilansir Arab News.
Meski melontarkan tudingan keras, Trump tidak menunjukkan bukti konkret untuk mendukung klaimnya. Terkait langkah pemerintah AS selanjutnya, Trump enggan berkomentar banyak dan menegaskan prioritasnya tetap pada urusan dalam negeri. Ia mengaku memiliki hubungan baik dengan Lula, namun menilai perpanjangan waktu pemungutan suara membuat proses rekapitulasi tampak janggal.
2. Kemenangan bersejarah Lula pada putaran kedua

Foto Resmi Presiden Republik, Luiz Inácio Lula da Silva. Tanggal 16 Februari 2023 (Palácio do Planalto from Brasilia, Brasil, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons) Lula da Silva, yang kini berusia 80 tahun, berhasil membalikkan keadaan pada putaran kedua setelah sempat tertinggal pada putaran pertama awal Oktober. Politisi sayap kiri ini mengantongi 64,2 juta suara (51,79 persen), unggul 4,4 juta suara dari Flávio yang meraih 59,8 juta suara (48,21 persen).
"Hari ini adalah momen bersejarah. Demokrasi harus tegak selamanya, kediktatoran dan fasisme tidak boleh kembali," ujar Lula di hadapan puluhan ribu pendukungnya di São Paulo.
Di sisi lain, Flávio menolak mengakui kekalahan dan menegaskan rencananya untuk memimpin kubu oposisi. Sikap senator berusia 45 tahun ini mengikuti jejak ayahnya, mantan Presiden Jair Bolsonaro, yang sempat menolak hasil pemilu saat kalah dari Lula pada 2022. Kendati demikian, Ketua Partai Liberal Valdemar Costa Neto telah resmi mengakui hasil pilpres, meski tetap meminta penjelasan teknis terkait pelaksanaan pemungutan suara.
3. Kontroversi perpanjangan waktu pemungutan suara

potret Presiden Brasil, Lula da Silva (commons.wikimedia.org/BrunoGuedes1) Sorotan publik mengemuka setelah Mahkamah Agung Brasil secara mendadak memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam di seluruh negeri. Keputusan ini diambil guna merespons hambatan operasional bus pemilih pendukung Lula di sembilan negara bagian, serta kendala cuaca hujan deras yang dihadapi pemilih kubu Flávio di wilayah selatan.
Keputusan mendadak tersebut sempat memicu kendala teknis di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS). Sejumlah mesin pemungutan suara elektronik dilaporkan sudah dimatikan sebelum instruksi resmi tiba, sehingga situasi ini dijadikan dasar oleh Flávio untuk melayangkan tuduhan kecurangan.
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Pengadilan Pemilihan sekaligus Hakim Mahkamah Agung, Kassio Nunes Marques, menegaskan bahwa pemungutan suara tetap berjalan sukses. Ia menjelaskan bahwa perpanjangan waktu memang menimbulkan tantangan operasional, tetapi sama sekali tidak memengaruhi keabsahan hasil akhir suara nasional.























