Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Partai Arab Tuduh Netanyahu Sebar Kebencian saat Pemilu Israel
PM Israel Benjamin Netanyahu (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Pemimpin partai Arab menuduh Benjamin Netanyahu menyebarkan kebencian dan tuduhan palsu terhadap pemilih Palestina demi memobilisasi suara sayap kanan pada pemilu parlemen Israel.
  • Adalah melaporkan hambatan pemungutan suara di kota mayoritas Arab, termasuk antrean lambat, penutupan TPS, dan ketiadaan surat suara Arab, meski partisipasi pemilih tetap tinggi.
  • Hitung cepat memproyeksikan Ra'am dan Joint List meraih gabungan 18–19 kursi, tetapi penolakan sejumlah partai membuat keduanya diperkirakan sulit masuk koalisi resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Para pemimpin partai politik Arab di Israel menuduh Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu menyebarkan kebohongan dan kebencian terhadap warga keturunan Palestina pada pemilihan umum parlemen, Selasa (27/10/2026). Pemimpin Partai Ra'am (United Arab List), Mansour Abbas, menyebut langkah tersebut dilakukan untuk menakut-nakuti pemilih sayap kanan agar berbondong-bondong datang ke tempat pemungutan suara (TPS).

Pemilu ini merupakan pemungutan suara pertama di Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Dalam rangkaian unggahan di platform X, Netanyahu menyerang pemilih Arab dengan melabeli mereka sebagai pendukung Ikhwanul Muslimin. Ia juga menuding warga keturunan Palestina menyerbu TPS untuk mencuri pemilu dan mengakhiri keberadaan negara Yahudi.

1. Netanyahu tuding partai Arab ingin mengakhiri negara Israel

ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Taylor Brandon)

Netanyahu membagikan ulang foto antrean panjang warga dan bus menuju TPS di kota Badui, Rahat, yang pertama kali diunggah oleh anggota parlemen Ahmad Tibi. Ia menyerukan para pendukungnya untuk tidak pergi ke pantai atau berpesta, melainkan segera memberikan suara bagi Partai Likud karena situasi ini dinilai sebagai masalah hidup dan mati.

"Kita tidak bisa menyerahkan pertempuran ini ke tangan kelompok kiri dan partai-partai Arab yang ingin mengakhiri negara Yahudi. Jadi jangan barbeku, jangan pergi ke pantai, pergilah ke TPS dan pilih Likud," kata Netanyahu, dilansir The Straits Times.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, turut mengunggah video dari Kota Kafr Qassem untuk mendesak pemilih sayap kanan mengimbangi lonjakan suara warga Palestina. Ia memperingatkan bahwa kegagalan blok Netanyahu untuk menang akan membuat pemerintahan jatuh ke tangan Mansour Abbas. Di sisi lain, Partai Yashar yang menaungi penantang utama Netanyahu, Gadi Eisenkot, menilai PM itu sedang menyiapkan alasan untuk menggugat hasil pemilu.

Serangan terhadap kelompok politik Arab juga diwarnai penangkapan tiga orang di wilayah selatan Israel atas dugaan pembelian suara untuk Partai Ra'am. Polisi menyita uang tunai lebih dari 24 ribu shekel (sekitar Rp144,2 juta) di rumah para tersangka, lengkap dengan amplop bertuliskan hadiah dari gerakan Islam. Partai Ra'am membantah tuduhan tersebut dan menilai penangkapan itu merupakan taktik Ben-Gvir untuk menekan suara warga Arab.

2. Laporan hambatan pemungutan suara di berbagai kota mayoritas Arab

Pemimpin Partai Ra'am (United Arab List), Mansour Abbas (U.S. Embassy Jerusalem, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Di tengah ketegangan politik, pusat bantuan hukum hak minoritas Arab yang berbasis di Haifa, Adalah, menerima banyak laporan hambatan pemungutan suara di kota-kota Palestina. Keluhan tersebut mencakup antrean yang bergerak sangat lambat, penghentian akses masuk pemilih ke TPS, hingga ketiadaan surat suara berbahasa Arab. Selain itu, Partai Likud mengklaim telah menerima 620 laporan insiden tidak biasa di TPS sektor Arab melalui jaringan 1.500 perwakilannya.

Salah satu gangguan terjadi di Kafr Qara, Israel tengah, yang baru mencatat satu pemilih pada pukul 10.00 waktu setempat atau tiga jam setelah TPS dibuka. Sementara di Segev Shalom, wilayah Naqab, sebuah TPS sempat ditutup cukup lama hingga membuat setidaknya 150 pemilih tertahan di luar gedung. Adalah telah melaporkan masalah ini kepada Komisi Pemilihan Umum Pusat Israel karena khawatir gangguan terpusat tersebut merusak prinsip kesetaraan pemilu.

Terlepas dari berbagai kendala teknis dan laporan intimidasi aktivis sayap kanan, kandidat dari Partai Balad yang berhaluan kiri, Orly Noy, menyebut antusiasme pemilih Arab jauh melampaui rata-rata. Senada dengan Noy, Ketua Partai Balad, Sami Abu Shehadeh, memuji tingginya partisipasi warga keturunan Palestina melalui akun X miliknya.

"Ada kelompok rasis yang ketakutan melihat foto-foto ini, tetapi bagi kami hal itu justru memberi semangat dan kami akan terus maju sekuat tenaga. Saya menyerukan warga Arab untuk terus datang berbondong-bondong, semua ada di tangan kita," ujar Abu Shehadeh, dilansir Al Jazeera.

3. Lonjakan perolehan kursi partai Arab dalam hasil hitung cepat

ilustrasi pemilihan umum (unsplash.com/ Element5 Digital)

Tingginya partisipasi warga Arab, yang mencakup sekitar 20 persen dari total populasi Israel, berdampak pada hasil hitung cepat (exit poll). Desa Badui Atuana bahkan mencatatkan tingkat kehadiran pemilih tertinggi secara nasional pada siang hari yang mencapai 64 persen. Secara keseluruhan, dua kekuatan utama politik Arab, Partai Ra'am dan koalisi Joint List, diproyeksikan meraih gabungan 18 hingga 19 kursi dari total 120 kursi parlemen (Knesset).

Perolehan tersebut melonjak drastis dibandingkan pemilu sebelumnya, saat Ra'am dan Joint List masing-masing hanya mengantongi lima kursi di parlemen. Dalam proyeksi terbaru, Ra'am diperkirakan memenangkan tujuh kursi, sedangkan Joint List yang terdiri dari Partai Hadash, Ta'al, dan Balad diprediksi mengamankan 11 hingga 12 kursi. Menanggapi hasil itu, Mansour Abbas menyatakan kepada Channel 12 bahwa masyarakat Arab bereaksi atas kebijakan pemerintah dan ingin mengubahnya di hampir segala lini.

Ketua Joint List, Yousef Jabareen, turut menyambut hasil hitung cepat ini bersama para pendukungnya di Kota Nazareth pada Selasa malam. Ia menegaskan bahwa lonjakan suara tersebut membuktikan kekuatan politik warga Arab tidak bisa lagi diabaikan dalam membangun masa depan negara.

"Ini adalah hari bersejarah dan masyarakat telah bersuara. Pemerintahan yang berlumuran darah ini harus pergi," tutur Jabareen, dilansir The Jerusalem Post.

Meski meraih lonjakan kursi, Ra'am dan Joint List diperkirakan tetap sulit masuk ke dalam koalisi pemerintahan resmi. Sekutu sayap kanan Netanyahu seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, maupun tokoh oposisi seperti Gadi Eisenkot, Naftali Bennett, serta Avigdor Liberman, telah menolak bekerja sama dengan partai Arab. Namun, kedua partai ini tetap berpeluang menjadi penentu (kingmaker) dari luar koalisi untuk membantu blok oposisi mencapai syarat minimal 61 kursi mayoritas parlemen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article