ilustrasi pemilihan umum (unsplash.com/ Element5 Digital)
Tingginya partisipasi warga Arab, yang mencakup sekitar 20 persen dari total populasi Israel, berdampak pada hasil hitung cepat (exit poll). Desa Badui Atuana bahkan mencatatkan tingkat kehadiran pemilih tertinggi secara nasional pada siang hari yang mencapai 64 persen. Secara keseluruhan, dua kekuatan utama politik Arab, Partai Ra'am dan koalisi Joint List, diproyeksikan meraih gabungan 18 hingga 19 kursi dari total 120 kursi parlemen (Knesset).
Perolehan tersebut melonjak drastis dibandingkan pemilu sebelumnya, saat Ra'am dan Joint List masing-masing hanya mengantongi lima kursi di parlemen. Dalam proyeksi terbaru, Ra'am diperkirakan memenangkan tujuh kursi, sedangkan Joint List yang terdiri dari Partai Hadash, Ta'al, dan Balad diprediksi mengamankan 11 hingga 12 kursi. Menanggapi hasil itu, Mansour Abbas menyatakan kepada Channel 12 bahwa masyarakat Arab bereaksi atas kebijakan pemerintah dan ingin mengubahnya di hampir segala lini.
Ketua Joint List, Yousef Jabareen, turut menyambut hasil hitung cepat ini bersama para pendukungnya di Kota Nazareth pada Selasa malam. Ia menegaskan bahwa lonjakan suara tersebut membuktikan kekuatan politik warga Arab tidak bisa lagi diabaikan dalam membangun masa depan negara.
"Ini adalah hari bersejarah dan masyarakat telah bersuara. Pemerintahan yang berlumuran darah ini harus pergi," tutur Jabareen, dilansir The Jerusalem Post.
Meski meraih lonjakan kursi, Ra'am dan Joint List diperkirakan tetap sulit masuk ke dalam koalisi pemerintahan resmi. Sekutu sayap kanan Netanyahu seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, maupun tokoh oposisi seperti Gadi Eisenkot, Naftali Bennett, serta Avigdor Liberman, telah menolak bekerja sama dengan partai Arab. Namun, kedua partai ini tetap berpeluang menjadi penentu (kingmaker) dari luar koalisi untuk membantu blok oposisi mencapai syarat minimal 61 kursi mayoritas parlemen.