Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dukungan Donald Trump Gagal Dongkrak Suara Netanyahu di Pemilu

3 min read
Dukungan Donald Trump Gagal Dongkrak Suara Netanyahu di Pemilu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (x.com/netanyahu)
  • Dukungan terbuka Donald Trump tidak mendongkrak elektabilitas Benjamin Netanyahu menjelang pemilu 27 Oktober; Likud diperkirakan meraih 21 kursi, di bawah Yashar pimpinan Gadi Eisenkot yang diproyeksikan mendapat 24 kursi.
  • Survei terhadap 507 pemilih menunjukkan 64 persen tidak mengubah pilihan karena dukungan Trump; 17 persen justru enggan memilih Netanyahu, melampaui 12 persen yang terdorong mendukungnya.
  • Netanyahu tertinggal dalam simulasi melawan Eisenkot dan Naftali Bennett, di tengah trauma serangan 7 Oktober 2023, keraguan pada diplomasi Trump, serta sikap netral Wakil Presiden JD Vance.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Upaya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mempertahankan jabatannya dalam pemilihan umum 27 Oktober dinilai tidak terbantu oleh dukungan terbuka Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Hasil jajak pendapat televisi setempat justru memperlihatkan bahwa dukungan tersebut cenderung menurunkan tingkat keterpilihan sang perdana menteri.

Perkiraan perolehan suara partai pengusungnya tidak mengalami kenaikan setelah adanya pernyataan resmi dari Washington. Partai Likud pimpinan Netanyahu diperkirakan hanya memperoleh 21 dari 120 kursi parlemen, tertinggal dari partai baru Yashar pimpinan mantan panglima militer Gadi Eisenkot yang diprediksi meraih 24 kursi.

  1. 1. Mayoritas pemilih di Israel abaikan pernyataan dukungan dari Washington

    Tel Aviv, Israel (unsplash.com/Shai Pal)
    Tel Aviv, Israel (unsplash.com/Shai Pal)

    Survei terhadap 507 pemilih pada 19 Oktober dengan tingkat kesalahan 4,4 persen mencatat bahwa pilihan politik warga tidak terpengaruh oleh dorongan luar negeri. Sebanyak 64 persen responden menegaskan bahwa ucapan Trump sama sekali tidak mengubah keputusan mereka dalam memilih.

    Di sisi lain, jumlah warga yang enggan memilih Netanyahu setelah adanya dukungan itu mencapai 17 persen, melampaui 12 persen warga yang mengaku terdorong memilih partainya. Pengamat politik Daphna Liel menilai langkah Trump tidak membuahkan tambahan suara dan justru memperlemah posisi Netanyahu di mata masyarakat Israel sendiri.

  2. 2. Posisi Netanyahu tetap tertinggal dalam berbagai simulasi pemilu

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu
    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (x.com/IsraeliPM)

    Sebelumnya, Trump melalui akun media sosial Truth Social pada 18 Oktober memuji Netanyahu sebagai sosok yang tangguh serta memberikan dukungan penuh kepadanya. Netanyahu menyambut baik dukungan tersebut melalui akun resminya.

    "Terima kasih Presiden Trump atas dukungan luar biasa dan kerja sama kita. Bersama-sama kita akan menuntaskan misi ini!" tulis Netanyahu, dilansir Al Jazeera.

    Kendati demikian, dukungan tersebut belum mampu membalikkan ketertinggalan suara Netanyahu. Dalam simulasi berhadapan langsung, Eisenkot unggul dengan 45 persen suara berbanding 33 persen milik Netanyahu, sementara 17 persen responden belum menentukan pilihan. Simulasi lain juga menempatkan mantan Perdana Menteri Naftali Bennett unggul 39 persen dibanding Netanyahu yang meraih 34 persen. Pada bursa prediksi pemilu, peluang kemenangan Eisenkot bahkan mencapai 50 persen, jauh mengungguli Netanyahu yang tertahan di angka 29 persen.

  3. 3. Masalah keamanan dalam negeri dan perbedaan sikap pejabat Amerika Serikat

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump
    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (x.com/netanyahu)

    Rendahnya dukungan warga berakar dari rasa trauma akibat serangan 7 Oktober 2023 yang mengguncang kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu. Keyakinan masyarakat terhadap diplomasi Trump juga berkurang menyusul kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada Juni lalu yang dinilai merugikan Israel.

    Di samping itu, jajaran pemerintahan Amerika Serikat tampak tidak sepenuhnya sejalan dengan Trump. Wakil Presiden JD Vance secara terbuka menyatakan enggan ikut campur dalam dinamika politik di negara tersebut.

    "Saya tidak menolak ataupun mendukung calon mana pun. Saya tidak melibatkan diri dalam pemilihan umum Israel," ujar Vance.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More