Jakarta, IDN Times – Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, memperingatkan bahwa Yaman menghadapi risiko tertinggi untuk kembali terjerumus ke dalam perang berskala besar sejak gencatan senjata 2022. Grundberg mengatakan bahwa aktivitas militer di sejumlah garis depan telah meningkat dalam beberapa hari terakhir, yang menyebabkan jatuhnya korban militer maupun sipil.
Grundberg juga memperingatkan bahwa serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah berisiko menyeret Yaman ke dalam konflik regional yang lebih luas, terutama di tengah perang yang masih berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Grundberg menyerukan kepada seluruh pihak untuk segera melakukan de-eskalasi dan mengupayakan gencatan senjata yang kuat.
Yaman telah dilanda konflik sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Setahun kemudian, intervensi militer yang dipimpin Arab Saudi memicu perang berkepanjangan di negara tersebut, dikutip dari Al Jazeera.
Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 2022. Kesepakatan tersebut sebagian besar masih bertahan hingga kini, meski upaya mencapai kesepakatan permanen terhenti pada 2023 seiring meningkatnya ketegangan di kawasan.
