Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PBB Peringatkan Yaman Berisiko Tinggi Kembali ke Perang Berskala Besar
ilustrasi logo PBB (pixabay.com/Chickenonline)
  • Utusan PBB, Hans Grundberg, memperingatkan Yaman menghadapi risiko tertinggi kembali ke perang besar sejak gencatan senjata 2022, menyusul peningkatan aktivitas militer dan korban di garis depan.

  • Dewan Keamanan PBB mengecam serangan Houthi ke Arab Saudi dan kapal internasional, serta menuntut pembebasan 73 staf PBB dan NGO yang ditahan otoritas Houthi.

  • Pertempuran memperparah krisis: sekitar 6 juta orang mengalami kekurangan pangan darurat, sementara PBB menyerukan de-eskalasi ekonomi, pemulihan ekspor minyak, pelayaran, dan penerbangan komersial.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, memperingatkan bahwa Yaman menghadapi risiko tertinggi untuk kembali terjerumus ke dalam perang berskala besar sejak gencatan senjata 2022. Grundberg mengatakan bahwa aktivitas militer di sejumlah garis depan telah meningkat dalam beberapa hari terakhir, yang menyebabkan jatuhnya korban militer maupun sipil.

Grundberg juga memperingatkan bahwa serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah berisiko menyeret Yaman ke dalam konflik regional yang lebih luas, terutama di tengah perang yang masih berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Grundberg menyerukan kepada seluruh pihak untuk segera melakukan de-eskalasi dan mengupayakan gencatan senjata yang kuat.

Yaman telah dilanda konflik sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Setahun kemudian, intervensi militer yang dipimpin Arab Saudi memicu perang berkepanjangan di negara tersebut, dikutip dari Al Jazeera.

Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 2022. Kesepakatan tersebut sebagian besar masih bertahan hingga kini, meski upaya mencapai kesepakatan permanen terhenti pada 2023 seiring meningkatnya ketegangan di kawasan.

1. Dewan Keamanan PBB kecam gelombang serangan Houthi

Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi. (DayofGrasp, CC0, via Wikimedia Commons)

Anggota Dewan Keamanan PBB mengecam peningkatan serangkaian serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal internasional. Mereka juga mendesak Iran untuk menghentikan dukungannya terhadap kelompok tersebut.

Grundberg bersama Kepala Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, turut mengecam penahanan sewenang-wenang terhadap 73 staf PBB dan organisasi nonpemerintah (NGO) oleh otoritas Houthi. Fletcher menyerukan agar seluruh staf tersebut segera dibebaskan. Dia menyebut tuntutan tersebut sebagai sebuah seruan terhadap kemanusiaan bersama, dilansir Anadolu.

Pada Kamis, Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone terhadap sebuah kilang minyak di Provinsi Jazan, Arab Saudi. Pihaknya mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran wilayah udara dan kedaulatan Yaman oleh Riyadh di Provinsi Saada dan Hajjah.

Serangan tersebut menjadi yang terbaru dari rangkaian serangan antara kedua pihak sejak Houthi mengumumkan blokade terhadap pelayaran Saudi di Laut Merah pada 20 Juli. Sehari sebelumnya, Kepala Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman mengatakan setiap tindakan Houthi akan dibalas dengan respons komprehensif maupun tindakan pencegahan.

2. Pertempuran yang semakin intensif memperparah krisis kemanusiaan

ilustrasi kelaparan (pexels.com/Ahmed akacha)

Meningkatnya pertempuran semakin memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman. Lebih dari setengah populasi negara tersebut tidak memiliki akses yang cukup dan dapat diandalkan terhadap makanan. Fletcher mengatakan bahwa sekitar 6 juta orang kini menghadapi tingkat kekurangan pangan dalam kategori darurat yang mendekati ambang kelaparan.

Krisis juga berdampak besar terhadap perempuan dan anak-anak. Hampir 11 juta perempuan dan anak perempuan membutuhkan bantuan mendesak. Fletcher mengungkapkan bahwa tiga perempuan meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan yang sebenarnya dapat dicegah, mengutip Arab News.

Situasi tersebut diperparah oleh ancaman lingkungan. Kondisi El Niño diperkirakan menyebabkan curah hujan di Yaman turun hingga 40 persen. Kepala Kemanusiaan PBB itu memperingatkan bahwa penurunan tersebut akan menghancurkan hasil pertanian serta mata pencaharian masyarakat pedesaan.

Di sisi lain, pendanaan untuk bantuan kemanusiaan Yaman baru mencapai sekitar 20 persen dari kebutuhan. Fletcher menilai kondisi tersebut membuat masyarakat negara Timur Tengah itu harus menghadapi situasi yang tidak dapat diterima.

3. Grundberg serukan de-eskalasi ekonomi untuk perbaiki perekonomian Yaman

Kantor PBB di Jenewa. (pexels.com/Xabi Oregi)

Grundberg juga menyerukan de-eskalasi ekonomi untuk membantu memulihkan perekonomian Yaman yang telah hancur akibat perang saudara selama satu dekade. Menurutnya, kedua pihak yang bertikai akan lebih diuntungkan oleh kerja sama dibandingkan dengan konfrontasi.

Utusan PBB untuk Yaman itu mendorong pihak-pihak yang bertikai untuk bekerja sama untuk memastikan kapal-kapal komersial tetap dapat mencapai pelabuhan Yaman. Grundberg juga menyerukan agar ekspor minyak kembali dilakukan dan penerbangan komersial dari dan menuju Bandara Sanaa yang dikuasai Houthi dapat kembali beroperasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article