kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)
Pertemuan di Moskow ini berlangsung saat Qatar mengintensifkan mediasi untuk mengakhiri perang. Mengutip lima pejabat yang mengetahui perundingan tersebut, Teheran dilaporkan sedang mempertimbangkan serangkaian proposal konkret dari para mediator yang dapat menentukan masa depan program nuklirnya. Upaya mengakhiri konflik ini berpusat pada masa depan Selat Hormuz, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pencabutan sanksi, dan kelanjutan perundingan nuklir.
Meski ada upaya mediasi, Rezaei menegaskan bahwa Teheran tidak akan menggelar perundingan dengan AS maupun membuka kembali Selat Hormuz sebelum Washington memenuhi tujuh tuntutan mereka. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara terpisah telah menghubungi rekan sejawatnya dari Kuwait, Arab Saudi, Oman, Qatar, Turki, dan Yordania melalui sambungan telepon. Pembicaraan tersebut membahas perkembangan situasi kawasan dan upaya diplomatik untuk mendorong perdamaian.
"Terkait masalah diplomasi, kami telah mengumumkan tujuh syarat kepada pihak AS. Selama mereka tidak menjalankan tujuh syarat tersebut, kami tidak akan membuka Selat Hormuz maupun melakukan negosiasi," kata Rezaei, dilansir Al Jazeera.
Sejak perang pecah pada akhir Februari lalu, Teheran telah membatasi ketat lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Ketegangan di perairan strategis itu masih terus terjadi menyusul laporan militer Iran dan IRGC pada Kamis bahwa sedikitnya lima kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar akibat menghantam ranjau laut saat melintasi area terlarang di sekitar Selat Hormuz. Selain itu, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker dihantam dua proyektil di lepas pantai utara Qatar pada Rabu malam.