Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengaku tidak punya rencana pasti untuk melakukan serangan baru ke Iran dalam waktu dekat ini. Sebab, Trump mengatakan dirinya lebih mengutamakan negosiasi daripada serangan militer. Meski demikian, ia mengatakan bahwa militer AS sudah siap sedia jika memang serangan diperlukan.
Trump Ngaku Tak Punya Rencana Serang Iran, Ingin Lanjut Negosiasi

- Donald Trump menyatakan belum memiliki rencana pasti menyerang Iran dan memilih melanjutkan negosiasi, meski menegaskan militer AS siap bertempur bila diperlukan.
- CENTCOM dilaporkan melancarkan serangan terbatas ke Pulau Qeshm pada 2 November sebagai balasan atas serangan rudal balistik Iran terhadap aset militer AS.
- CENTCOM menyatakan siap menyerang Iran kapan saja di tengah pemilu sela AS, sementara Trump mengincar dominasi Partai Republik di parlemen dan senat.
"Sepertinya, kita sudah mendapatkan semua yang kita inginkan. Militer ASÂ siap tempur jika serangan diperlukan," ujar Trump dalam sebuah wawancara dengan Financial Times pada Selasa (3/11/2026), seperti dikutip Jerusalem Post. Namun, Trump menambahkan sejauh ini tidak ada alasan konkret yang mengharuskan Washington untuk menyerang Teheran.
1. Militer AS melakukan serangan ke Pulau Qeshm milik Iran

potret Pulau Qeshm milik Iran yang terletak di Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/NASA) Pernyataan Trump tadi sebetulnya berbanding terbalik dengan realita di lapangannya. Sebab, pada Senin (2/11/2026) kemarin, Komando Tengah (CENTCOM) militer AS dikabarkan telah meluncurkan serangan baru ke Pulau Qeshm milik Iran. Namun, serangan tersebut bersifat terbatas, bukan serangan besar seperti yang dilakukan AS beberapa bulan ke belakang.Â
Pulau Qeshm sendiri merupakan salah satu wilayah Iran yang terletak di dekat Selat Hormuz. Sejak perang meletus pada 28 Februari lalu, pulau ini memang sempat beberapa kali menjadi target serangan AS. Seorang pejabat militer AS anonim kepada Wall Street Journal (WSJ) mengatakan, serangan terbaru ke pulau ini merupakan balasan terhadap Iran karena sebelumnya Teheran sudah menyerang aset-aset militer AS menggunakan rudal balistik.
2. CENTCOM siap menyerang Iran kapan pun

ilustrasi serangan ke markas militer Amerika Serikat (pexels.com/Edu Raw) Dalam pernyataan terbarunya kepada The New York Times (NYT), CENTCOM menyatakan pihaknya siap menyerang Iran kapan pun. Bahkan, mereka menyebut siap untuk menyerang Teheran pada Rabu (4/11/2026) meski AS kini sedang menghelat pemilihan umum (pemilu) sela.
Pemilu sela AS sendiri resmi digelar pada Selasa kemarin. Dalam pemilu ini, warga AS tidak akan memilih presiden dan wakilnya, tetapi akan memilih anggota parlemen dan senat. Nantinya, partai yang memenangi pemilu ini akan otomatis mendominasi parlemen dan senat AS.Â
3. Trump berambisi memenangkan Partai Republik di pemilu sela AS

potret logo Partai Republik, Amerika Serikat (unsplash.com/Kelly Sikkema) Trump sangat berambisi memenangkan partainya, Partai Republik, dalam pemilu sela tahun ini. Sebab, jika parlemen dan senat AS didominasi politisi Partai Republik, maka dukungan terhadap pemerintahan Trump akan semakin tinggi. Namun, jika Partai Republik kalah dan Partai Demokrat yang menang, maka dukungan terhadap Trump akan menyusut. Sebab, Partai Demokrat kerap menentang sejumlah kebijakan sembrono yang dibuat oleh Trump, terutama soal keputusan berperang dengan Iran.
Ambisi Trump untuk memenangkan pemilu inilah yang diduga menjadi penyebab Trump enggan melakukan serangan besar ke Iran. Padahal, Trump dan Perdana Menteri israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya disebut berencana menyerang Teheran setelah pemilu sela AS selesai digelar.




















