Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gereja Peru Didesak Buka Penyelidikan Independen Pelecehan Seksual

3 min read
Gereja Peru Didesak Buka Penyelidikan Independen Pelecehan Seksual
ilustrasi pelecehan (pixabay.com/dianacibotari1991)
  • BishopAccountability.org mendesak Peru membentuk komisi kebenaran independen untuk menyelidiki pelecehan seksual di Gereja Katolik, menilai keterbukaan pimpinan gereja masih minim.
  • Lembaga itu merilis daftar 77 tokoh agama yang diduga terlibat pelecehan anak atau penutupan kasus, berdasarkan dokumen pengadilan, investigasi media, dan kesaksian mantan rohaniwan.
  • Menjelang kunjungan Paus Leo XIV ke Peru, kelompok korban menuntut akuntabilitas hukum bagi pimpinan gereja; Vatikan memastikan Paus akan bertemu korban secara tertutup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Lembaga pemantau kasus kekerasan seksual asal Amerika Serikat, BishopAccountability.org, mendesak pembentukan komisi kebenaran di Peru, pada Kamis (5/11/2026). Komisi ini bertujuan untuk menyelidiki secara independen berbagai kasus kejahatan seksual yang terjadi di lingkungan Gereja Katolik setempat.

Lembaga tersebut menilai para petinggi gereja di Peru masih menutupi dan gagal menangani rentetan skandal tersebut secara tuntas. Hingga saat ini, pihak Keuskupan Agung Lima belum memberikan tanggapan resmi terkait desakan pembentukan komisi kebenaran tersebut.

  1. 1. Kritik atas budaya rahasia dan desakan penyelidikan mandiri

    Direktur Pelaksana BishopAccountability.org, Anne Barrett Doyle, menyampaikan kritik keras dalam konferensi pers di ibu kota Lima. Ia menilai kurangnya keterbukaan dari pihak gereja telah menghambat proses keadilan bagi anak-anak dan para korban yang sudah berani angkat bicara.

    Organisasi nirlaba ini menuntut agar komisi kebenaran yang dibentuk nantinya dapat bekerja secara independen untuk mengusut laporan para korban.

    "Kerahasiaan yang keras kepala dari para pemimpin Gereja Peru membahayakan anak-anak, merampas pengakuan hak bagi para korban, serta menghalangi otoritas sipil untuk mengidentifikasi dan menuntut pihak-pihak yang terlibat sebagai kaki tangan," tegas Barrett Doyle.

  2. 2. Rilis daftar puluhan tokoh agama yang diduga terlibat pelecehan

    Bersamaan dengan tuntutan penyelidikan, BishopAccountability.org juga merilis data publik berisi daftar 77 tokoh agama di Peru. Puluhan orang tersebut diduga kuat pernah terlibat dalam kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur maupun upaya menutupi kejahatan tersebut.

    Penyusunan daftar nama ini bersumber dari dokumen pengadilan, investigasi media independen, serta kesaksian mantan rohaniwan yang menyoroti krisis internal tersebut. Menanggapi rilis data ini, Presiden Jaringan Penyintas Peru, José Enrique Escardó, menegaskan bahwa para korban menuntut pemulihan menyeluruh dan aturan tegas dari hukum gereja agar kasus serupa tidak terulang.

  3. 3. Kunjungan Paus Leo XIV dan tuntutan tanggung jawab pimpinan gereja

    Tuntutan keadilan ini disuarakan menjelang kunjungan Paus Leo XIV ke Amerika Selatan yang dijadwalkan melintasi Uruguay, Argentina, dan berakhir di Peru. Pemimpin tertinggi umat Katolik itu dinilai memiliki kedekatan khusus dengan Peru karena pernah bertugas sebagai misionaris dan memimpin komisi perlindungan anak di sana.

    Pihak Vatikan sebelumnya memastikan Paus Leo XIV akan mengadakan pertemuan tertutup dengan para korban pelecehan selama kunjungannya di Peru. Namun, kelompok pelindung hak korban menganggap pertemuan tatap muka tersebut tidak akan berarti banyak jika para petinggi gereja yang terbukti bersalah tidak diadili secara hukum.

    Kelompok advokasi berharap ada pesan dan tindakan tegas dari Paus untuk menghukum pihak-pihak yang menutupi kasus ini.

    "Paus Leo telah berbicara dengan penuh rasa welas asih tentang pentingnya mendampingi korban dan mendengarkan mereka, tetapi beliau hampir belum berbicara sama sekali mengenai kewajiban meminta pertanggungjawaban para uskup di dalam Gerejanya. Kami berharap mendengar pesan akuntabilitas tersebut secara tegas darinya selama lawatan ini," ujar Barrett Doyle.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More