Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemimpin Finlandia dan Norwegia Bahas Perang Ukraina dengan Putin
Bendera Finlandia (magnific.com/wirestock)
  • Presiden Finlandia Alexander Stubb dan PM Norwegia Jonas Gahr Støre berbicara 90 menit dengan Vladimir Putin untuk mendorong penghentian perang Ukraina serta menjaga stabilitas Baltik dan Arktik.
  • Kontak tersebut dilakukan setelah konsultasi dengan Ukraina, lalu hasilnya disampaikan kepada Volodymyr Zelensky sebagai persiapan negosiasi trilateral Ukraina, Rusia, dan AS di Abu Dhabi.
  • Kremlin sepakat mempertahankan komunikasi langsung, tetapi inisiatif Nordik memicu kritik dari sebagian pemimpin Uni Eropa karena dinilai tidak terkoordinasi secara kolektif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre menggelar pembicaraan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (27/10/2026) guna membahas upaya penghentian perang di Ukraina. Inisiatif diplomatik dua pemimpin negara Nordik ini menjadi langkah peredaan ketegangan terbaru dalam konflik bersenjata di Eropa sejak invasi Rusia pada Februari 2022.

Komunikasi tersebut ditempuh demi menjaga stabilitas kawasan Laut Baltik dan Lingkar Arktik sekaligus mendorong dialog damai yang konkret. Stubb dan Støre menegaskan bahwa peran aktif negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Rusia sangat krusial bagi tatanan keamanan Eropa secara menyeluruh.

1. Isi dialog langsung selama sembilan puluh menit bersama Putin

potret Presiden Rusia, Vladimir Putin (commons.wikimedia.org/Russian Presidential Executive Office)

Percakapan telepon dari Helsinki yang diinisiasi bersama oleh Stubb dan Støre tersebut berlangsung selama 90 menit. Kontak jarak jauh ini menandai komunikasi langsung pertama antara pemimpin Eropa pendukung kedaulatan Ukraina dengan Putin setelah berbulan-bulan terputus. PM Støre mengungkapkan bahwa meski pembicaraan memperlihatkan perbedaan pandangan yang tajam, penghentian konflik tetap mendesak demi mencegah dampak buruk antargenerasi.

"Diskusi berjalan secara lugas dan mendalam. Sebagai negara tetangga Rusia, dampak perang ini sangat memengaruhi keamanan kami dan Eropa, sehingga mengakhiri perang memerlukan pembicaraan langsung," tegas Presiden Alexander Stubb, dilansir Channel News Asia.

2. Koordinasi intensif pemimpin Nordik dengan pihak Ukraina

Presiden Finlandia, Alexander Stubb. (Magnus Fröderberg/norden.org, CC BY 2.5 DK, via Wikimedia Commons)

Inisiatif komunikasi dengan Moskow ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan di Oslo pada 20 Oktober 2026 antara Stubb, Støre, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dan Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Witkoff. Kedua pemimpin Nordik memastikan bahwa pembicaraan telepon tersebut dilakukan setelah berkonsultasi erat dengan pihak Ukraina.

Usai berbicara dengan Putin, Stubb dan Støre langsung memberi pengarahan kepada Zelensky yang mengapresiasi transparansi dari kedua pemimpin tersebut. Komunikasi ini disiapkan sebagai jembatan menuju kelanjutan negosiasi damai trilateral antara Ukraina, Rusia, dan AS di Abu Dhabi, seraya menegaskan dukungan bagi terciptanya perdamaian yang adil dan berjangka panjang.

3. Perdebatan internal di kalangan pemimpin Uni Eropa

ilustrasi bendera Uni Eropa (pexels.com/marco)

Pihak Kremlin mengonfirmasi terlaksananya panggilan telepon tersebut, di mana ketiga pemimpin sepakat mempertahankan saluran komunikasi langsung kendati Putin tetap menyalahkan kebijakan Barat dan NATO. Di sisi lain, manuver bilateral dua pemimpin negara Nordik ini memicu perdebatan serta tanda tanya di kalangan pemimpin Uni Eropa lainnya.

"Saya meragukan inisiatif ini karena tidak dikoordinasikan bersama kami, dan belum jelas apa hasil nyata yang bisa dicapai dari langkah tersebut," kritik Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen.

Menanggapi keraguan itu, PM Støre menegaskan bahwa negara yang berbatasan langsung dengan Rusia tidak boleh bersikap pasif atau sekadar bergantung pada Amerika Serikat. Keduanya menekankan bahwa langkah ini diambil secara mandiri demi keamanan nasional masing-masing, bukan atas nama perwakilan resmi Uni Eropa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article