Laporan Oxfam: Polusi Karbon Kelompok Terkaya Picu Bencana Iklim

- Oxfam melaporkan 0,1 persen orang terkaya menghasilkan polusi karbon melebihi 3,5 miliar orang termiskin, dengan kontribusi gelombang panas per individu hampir 400 kali lebih besar.
- Satu persen terkaya bertanggung jawab atas 20 persen pemanasan sejak 1990; emisinya diperkirakan memicu 1,9 juta kematian terkait panas dan kerugian ekonomi hampir 53 triliun dolar AS pada 2050.
- Oxfam mendesak COP31 mengenakan pajak lebih tinggi kepada pencemar kaya, memperbesar pendanaan iklim publik bagi Global South, serta melipatgandakan dana adaptasi hingga tiga kali pada 2035.
Jakarta, IDN Times - Sebanyak 0,1 persen orang terkaya di dunia yang mencakup sekitar delapan juta orang menghasilkan polusi karbon lebih banyak daripada gabungan 3,5 miliar orang termiskin di bumi. Data tersebut diungkapkan melalui analisis terbaru dari Oxfam yang dilaporkan Anadolu Agency.
Temuan itu menunjukkan seorang individu di kelompok 0,1 persen terkaya berkontribusi hampir 400 kali lipat lebih besar terhadap gelombang panas ekstrem saat ini dibanding seseorang di kelompok 50 persen populasi termiskin. Secara keseluruhan, polusi dari kelompok 0,1 persen terkaya ini memproduksi lebih dari tiga kali lipat polusi karbon seluruh penduduk Afrika sub-Sahara.
1. Ketimpangan emisi orang kaya dan ancaman kematian

ilustrasi polusi udara (unsplash.com/Rynco Maekawa) Kelompok satu persen orang terkaya di dunia bertanggung jawab atas 20 persen pemanasan global sejak 1990. Emisi per kapita dari kelompok ini tercatat 100 kali lebih tinggi dibandingkan separuh populasi termiskin di dunia.
Satu tahun emisi dari kelompok satu persen terkaya diperkirakan dapat menyebabkan 1,9 juta angka kematian berlebih terkait panas. Sekitar 78 persen dari kematian ini diproyeksikan terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah yang hanya menyumbang delapan persen emisi global.
2. Kerugian ekonomi triliunan dolar AS dan sektor aviasi

ilustrasi jet pribadi (unsplash.com/Chris Leipelt) Emisi dari satu persen orang terkaya diproyeksikan menimbulkan kerusakan ekonomi senilai hampir 53 triliun dolar AS atau setara Rp960.996 triliun pada 2050. Laporan ini turut menyoroti penerbangan jet pribadi sebagai potret ketimpangan karbon.
Armada jet pribadi secara kolektif mengeluarkan polusi karbon dalam dua detik lebih banyak dibandingkan yang dihasilkan satu orang di kelompok separuh termiskin dunia dalam setahun. Laporan ini juga memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat menggusur hingga satu miliar orang atau sekitar 10 persen dari populasi dunia pada 2050, dengan sebagian besar diproyeksikan berada di kawasan Global South.
3. Keuntungan kelompok superkaya dan desakan di COP31

ilustrasi deforestasi (pexels.com/Pok Rie) Direktur Eksekutif Oxfam International Amitabh Behar menyatakan krisis iklim bukanlah tantangan bersama, melainkan kejahatan akibat ketimpangan ekstrem. Menurut Behar, kaum superkaya secara aktif mengeruk keuntungan dari dampak pencemaran yang mereka ciptakan.
"Kelompok superkaya membakar planet ini dan kemudian menagih kita semua untuk alat pemadam kebakarannya," kata Behar. Dia menambahkan, "Mereka meraup untung dari polusi. Mereka meraup untung dari bencana. Dan mereka meraup untung lagi dari pembersihan."
Bencana iklim juga kian dimanfaatkan untuk meloloskan kebijakan privatisasi, perampasan tanah, deregulasi, dan pemotongan pajak bagi orang-orang superkaya. Oxfam mendesak pemerintah yang menghadiri COP31 mewajibkan pencemar kaya membayar melalui pajak lebih tinggi, meningkatkan pendanaan iklim publik secara signifikan bagi negara-negara Global South, serta menaikkan dana adaptasi menjadi tiga kali lipat pada 2035.



![[KALEIDOSKOP] Menanti Pajak Karbon untuk Penanganan Krisis Iklim](https://image.idntimes.com/post/20211019/img-20211019-wa0002-4216ad534ee1dbe7cc57c22c06aa8385.jpg)


















