Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perang di Yaman Memaksa 112 Ribu Warga Mengungsi dalam 2 Pekan

3 min read
Perang di Yaman Memaksa 112 Ribu Warga Mengungsi dalam 2 Pekan
ilustrasi kamp pengungsi (pexels.com/Ahmed akacha)
  • Pertempuran antara Houthi dan pasukan pendukung pemerintah Yaman memaksa sedikitnya 112 ribu warga mengungsi di dalam negeri selama dua pekan, terutama di pesisir barat, Taiz, dan Lahj.
  • Hampir 3.000 warga Yaman menyeberang Laut Merah menuju Djibouti dalam kurang dari sepekan, menambah tekanan pada negara yang telah menampung sekitar 36.000 pengungsi.
  • Eskalasi terjadi setelah Houthi menguasai pesisir Laut Merah dan memperketat cengkeraman di Selat Bab al-Mandab, memperdalam krisis kemanusiaan Yaman yang telah berlangsung bertahun-tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pertempuran yang kembali berkobar di Yaman telah memaksa sedikitnya 112 ribu orang mengungsi di dalam negeri dalam kurun dua pekan terakhir. Gelombang pengungsian ini terjadi menyusul pertempuran sengit antara kelompok Houthi dan pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman yang diakui internasional di sepanjang pesisir barat.

Selain ratusan ribu orang yang telantar di dalam negeri, Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan pada Jumat (18/9/2026) bahwa hampir 3.000 warga melarikan diri melintasi Laut Merah menuju Djibouti. Eskalasi kekerasan tersebut memicu krisis kemanusiaan baru setelah Houthi merebut kendali pesisir strategis Laut Merah pada pekan sebelumnya.

  1. 1. Lonjakan pengungsian internal di pesisir barat Yaman

    ilustrasi pengungsi
    ilustrasi pengungsi (Novghorod, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

    Middle East Eye melaporkan, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebut sedikitnya 112 ribu orang mengungsi di dalam Yaman dalam dua pekan terakhir. Pemimpin IOM di Yaman, Abdusattor Esoev, menyampaikan data perpindahan tersebut kepada jurnalis dari Aden. Ia menyebutkan bahwa mayoritas warga terpaksa mengungsi selama dua pekan terakhir, terutama di kawasan pesisir barat serta Provinsi Taiz dan Lahj.

    Data perpindahan terkini tersebut menunjukkan peningkatan tajam dari laporan IOM pada awal bulan yang mencatat lebih dari 100 ribu pengungsi. Pasukan Houthi yang disokong Iran berhasil merebut kendali garis pantai Laut Merah pada pekan sebelumnya sehingga memperketat cengkeraman mereka di Selat Bab al-Mandab.

  2. 2. Eksodus ribuan warga melintasi laut menuju Djibouti

    ilustrasi pengungsi
    ilustrasi pengungsi (pexels.com/Sanjeev Kumar)

    Kekerasan bersenjata juga memicu eksodus warga melintasi rute perairan berbahaya di kawasan Teluk Aden dan Laut Merah. Badan Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) mencatat hampir 3.000 orang telah menyeberang dan tiba di Djibouti dalam waktu kurang dari sepekan. Kedatangan pengungsi ini memberi tekanan tambahan bagi Djibouti, sebuah negara berpenduduk sekitar satu juta jiwa yang sudah menampung sekitar 36.000 pengungsi, sebagian besar berasal dari Somalia dan Ethiopia.

    Perwakilan UNHCR Sandrine Desamours mengatakan arus pengungsi ini menambah tekanan bagi Djibouti. Dia menegaskan bahwa "meski jumlahnya terdengar kecil", angka itu harus dinilai secara proporsional terhadap total populasi penduduk. Otoritas Djibouti kini bersiap untuk menerima hingga 10.000 pengungsi di tengah tekanan berat pada layanan kesehatan, pendidikan, dan bantuan kemanusiaan mereka.

  3. 3. Dampak konflik regional dan sejarah krisis kemanusiaan

    Selat Bab al-Mandab
    Selat Bab al-Mandab (Earth Science and Remote Sensing Unit, NASA Johnson Space Center, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Wilayah pesisir dan Selat Bab al-Mandab yang diperebutkan merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Eropa dan Asia melalui Terusan Suez. Pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pendukung pemerintah yang berpusat di Aden kembali menempatkan warga sipil dalam bahaya. Yaman kembali terseret ke dalam pusaran konflik pada Juli di tengah dampak meluasnya perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.

    Eskalasi terbaru ini memperdalam penderitaan salah satu negara termiskin di kawasan Arab setelah sempat melalui masa tenang relatif. Pada periode 2014 hingga 2022, pertempuran bersenjata antara Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi telah menewaskan ratusan ribu orang. Rangkaian kekerasan berkepanjangan tersebut sebelumnya telah menjerumuskan rakyat Yaman ke dalam salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More