Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

PBB: 85 Ribu Warga Pesisir Barat Yaman Mengungsi akibat Perang

PBB: 85 Ribu Warga Pesisir Barat Yaman Mengungsi akibat Perang
ilustrasi kamp pengungsi (pexels.com/Ahmed akacha)
  • IOM mencatat 85.818 warga mengungsi dari pesisir barat Yaman sejak awal September 2026, dipicu eskalasi bentrokan antara pasukan pemerintah dan milisi Houthi.
  • Lebih dari 2.000 pengungsi, banyak perempuan dan anak-anak, tiba di Obock, Djibouti; IOM memperingatkan arus kedatangan dapat meningkat seiring pertempuran yang intensif.
  • Taiz mencatat pengungsian terbesar, hampir 56.000 orang, disusul Lahj, Al Hodeidah, dan Aden; konflik juga menghambat akses jalan, komunikasi, serta penyaluran bantuan kemanusiaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan PBB untuk Migrasi atau The International Organization for Migration (IOM) melaporkan lebih dari 82 ribu warga mengungsi dari kawasan pesisir barat Yaman sejak awal September 2026. Eskalasi bentrokan bersenjata antara pasukan pemerintah Yaman dan milisi pemberontak Houthi menjadi pemicu gelombang pengungsian massal tersebut.

Berdasarkan pembaruan data Displacement Tracking Matrix (DTM) milik IOM pada Minggu (13/9/2026), total warga yang terusir dari tempat tinggal mereka telah mencapai 85.818 orang. Kondisi keamanan yang memburuk di sepanjang garis depan bahkan memaksa ribuan warga melarikan diri menyeberangi laut hingga keluar dari perbatasan negara.

  1. 1. Ribuan pengungsi menyeberangi laut menuju Djibouti

    ilustrasi pengungsi
    ilustrasi pengungsi (Novghorod, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

    Lebih dari 2.000 warga Yaman yang menghindari pertempuran telah mendarat di pesisir utara Djibouti, tepatnya di sekitar wilayah Obock. Duta Besar Djibouti untuk Arab Saudi, Diaa-Eddin Bamakhrama, menyatakan sekitar 1.400 orang tiba hanya dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Pemerintah Djibouti langsung mengerahkan angkatan laut, tentara, kepolisian, dan layanan kesehatan untuk menangani pengungsi dengan dukungan IOM serta mitra PBB.

    Banyak di antaranya merupakan perempuan dan anak-anak kecil. Mereka dipindahkan ke lokasi penampungan Markazi di Obock untuk menerima pasokan air bersih, biskuit berenergi tinggi, dan makanan hangat. Pihak IOM memperingatkan bahwa arus kedatangan pengungsi diperkirakan terus meningkat seiring pertempuran yang kian intensif di Yaman.

  2. 2. Direktur jenderal IOM serukan lonjakan bantuan donor

    ilustrasi bantuan kemanusian
    ilustrasi bantuan kemanusian (pexels.com/Gustavo Fring)

    Direktur Jenderal IOM Amy Pope menyoroti penderitaan warga sipil yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka tanpa membawa bekal apa pun. "Di balik setiap angka ada sebuah keluarga yang kehilangan segalanya," kata Amy Pope dalam pernyataan resminya. Dia mengungkapkan bahwa banyak warga Yaman telah berulang kali terusir dari rumah mereka akibat konflik berkepanjangan.

    Amy Pope menegaskan bahwa warga nekat menempuh bahaya mengarungi lautan karena tidak punya pilihan lain lagi. "Orang-orang menyeberangi laut tanpa membawa apa-apa karena mereka tidak punya pilihan lain lagi. Yaman adalah negara yang terkoyak oleh kemiskinan dan konflik, dan tidak dapat memikul krisis ini sendirian," ujarnya. Dia menyerukan komunitas donor internasional untuk segera menyalurkan dana bantuan bagi para pengungsi maupun warga lokal di Obock yang menampung mereka.

  3. 3. Provinsi Taiz catat jumlah pengungsian paling tinggi

    Taiz, Yaman
    Taiz, Yaman (Rod Waddington, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

    Pertempuran yang meluas di pesisir barat dan garis depan Taiz selatan menempatkan Provinsi Taiz sebagai kawasan yang mengalami dampak pengungsian paling parah. Sebanyak 9.280 rumah tangga atau hampir 56.000 orang mengungsi dari distrik Jabal Habashy, Al Ma'afer, Maqbanah, Mawza, dan Al Wazi'iyah. Akses jalan darat menuju lokasi tersebut makin sulit dilalui akibat pertempuran, sementara jaringan komunikasi terganggu sehingga menghambat pendataan kebutuhan.

    Eskalasi serupa melanda Provinsi Lahj dengan 3.225 rumah tangga atau lebih dari 19.000 orang mengungsi, mayoritas berasal dari distrik Al-Mudharibah. Sementara itu, Provinsi Al Hodeidah mencatat 1.374 rumah tangga atau lebih dari 8 ribu orang mengungsi yang sebagian besar dari distrik Hays, serta Aden kini menampung 424 rumah tangga atau lebih dari 2.500 pengungsi. Sebagian keluarga terpaksa mengungsi untuk kedua atau ketiga kalinya sepanjang 12 tahun konflik bersenjata di Yaman.

  4. 4. Pergeseran peta tempur pasukan pemerintah dan Houthi

    ilustrasi konflik militer
    ilustrasi konflik militer (pexels.com/Pixabay)

    Dilansir TRT World, bentrokan bersenjata antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi kembali memanas sejak awal Juli 2026 setelah sempat melewati ketenangan relatif selama beberapa tahun. Situasi di medan tempur Yaman belakangan memperlihatkan pergeseran wilayah yang signifikan di antara kedua pihak.

    Milisi Houthi mengumumkan telah menguasai sejumlah distrik di Al Hodeidah dan Taiz, termasuk beberapa pulau di Laut Merah. Di pihak lain, pasukan pemerintah Yaman mengklaim adanya kemajuan pergerakan di Provinsi Al-Jawf dekat perbatasan Arab Saudi dan kian mendekati ibu kota provinsi, Al-Hazm.

    Milisi Houthi saat ini menguasai mayoritas kawasan utara dan barat Yaman termasuk ibu kota Sanaa, sedangkan pasukan pemerintah mengendalikan Aden serta provinsi selatan seperti Hadramout dan Shabwa. IOM terus mendesak semua kubu yang bertikai agar menjamin akses kemanusiaan secara aman tanpa hambatan, serta melindungi warga sipil, pekerja kemanusiaan, pasokan, kendaraan, dan fasilitas yang diperlukan untuk mengirim bantuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More