bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)
Meskipun proses negosiasi terus berjalan, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz secara teknis masih tertutup secara militer. Sementara itu, Juru Bicara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, mengindikasikan bahwa alur pelayaran tidak akan dibuka jika syarat utama dari Teheran belum dipenuhi. Menurut pihak Iran, persyaratan tersebut mencakup penghentian blokade Amerika Serikat di pelabuhan Iran, ganti rugi, serta pencabutan sanksi ekonomi.
Posisi kesepakatan terkait hak navigasi dan pembagian pendapatan laut juga masih mengalami perbedaan pandangan di internal Iran. Dilansir Reuters, seorang sumber senior Iran menyebut perundingan dengan Oman mengenai rincian perjanjian belum selesai sepenuhnya. Sumber tersebut menyatakan, "Kesepakatan dengan Oman mengenai Selat Hormuz belum difinalisasi."
Di sisi lain, isu sensitif mengenai personel militer turut membayangi hubungan bilateral Qatar dan Iran. Dilansir Al-Monitor melalui kantor berita Mehr, Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia mengungkapkan bahwa Iran masih menagih kejelasan nasib tiga pilot mereka yang pesawatnya jatuh di Qatar pada 12 Maret 2026. Meskipun satu jenazah pilot telah diserahkan, Akraminia menegaskan Iran tetap memerlukan jawaban terdokumentasi mengenai nasib keseluruhan pilot tersebut. Akraminia menegaskan, "Kami sangat ingin pihak Qatar memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini dan memberikan jawaban yang jelas serta terdokumentasi sehingga kami dapat menerima dokumentasi tersebut dan mengetahui nasib dari pilot-pilot tercinta ini."