Wafatnya Raja Harald V, Akhiri 35 Tahun Takhta Norwegia

- Raja Norwegia Harald V meninggal dunia pada usia 89 tahun di Oslo University Hospital.
- Harald memerintah selama 35 tahun dan dikenal membuka monarki Norwegia lebih dekat dengan masyarakat.
- Putra Mahkota Haakon akan meneruskan takhta Norwegia setelah wafatnya Harald.
Jakarta, IDN Times - Raja Norwegia Harald V meninggal dunia pada usia 89 tahun, Jumat (28/8/2026). Harald wafat setelah lebih dari tiga dekade menjadi kepala negara Norwegia dan dikenal sebagai raja yang perlahan memodernisasi monarki sekaligus tetap mempertahankan kedekatannya dengan masyarakat.
Istana Kerajaan Norwegia mengumumkan Harald meninggal dunia secara damai di Oslo University Hospital pada pukul 06.35 waktu setempat.
“Raja Harald meninggal dunia dengan damai di Oslo University Hospital pada Jumat, 28 Agustus, pukul 06.35 waktu setempat,” kata Istana Kerajaan Norwegia dalam pernyataannya di situs resmi, dikutip dari Politico.
Harald sebelumnya dilarikan ke rumah sakit pada 17 Agustus. Istana menyebut sang raja menjalani perawatan akibat infeksi bakteri pada darah. Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi kesehatan Harald memang memburuk.
Pada 2024, Harald sempat dirawat di rumah sakit ketika sedang berlibur di Malaysia karena infeksi. Ia mendapatkan alat pacu jantung sementara di Malaysia sebelum diterbangkan pulang ke Norwegia menggunakan pesawat milik angkatan bersenjata Norwegia. Setelah itu, ia dipasangi alat pacu jantung permanen.
Meski kondisi kesehatannya semakin menurun, Harald menolak turun takhta. Pada 2024, ia menyatakan akan mengurangi sejumlah agenda resmi, tetapi menegaskan tidak akan melakukan abdikasi karena menganggap sumpahnya sebagai raja berlaku seumur hidup.
1. Raja yang membawa Monarki Norwegia ke era modern
Harald lahir pada 21 Februari 1937 dan menjadi pewaris kerajaan pertama yang lahir di Norwegia dalam hampir 570 tahun. Kelahirannya menjadi peristiwa nasional karena selama berabad-abad monarki Denmark dan Swedia pernah memerintah Norwegia.
Masa kecil Harald juga berlangsung di tengah gejolak Perang Dunia II. Ketika Nazi Jerman menginvasi Norwegia pada 1940, kakeknya, Raja Haakon VII, dan ayahnya, Putra Mahkota Olav, melarikan diri ke Inggris dan memimpin pemerintahan Norwegia di pengasingan.
Harald yang ketika itu baru berusia tiga tahun pergi bersama ibunya, Putri Mahkota Märtha, ke Swedia yang netral sebelum akhirnya tinggal di Amerika Serikat. Ia sempat tinggal di Gedung Putih dan kemudian menetap selama lima tahun di Bethesda, Maryland.
Harald kembali ke Norwegia setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945. Berbeda dengan ayahnya yang mendapatkan pendidikan privat, Harald bersekolah di sekolah negeri.
Ia kemudian naik takhta pada 1991 setelah kematian ayahnya, Raja Olav V. Selama 35 tahun memerintah, Harald secara bertahap memperkenalkan sejumlah perubahan yang membuat monarki Norwegia lebih terbuka dan relevan dengan masyarakat modern.
Salah satu keputusan yang menunjukkan sikap tersebut adalah pernikahannya dengan Sonja Haraldsen pada 1968. Sonja bukan berasal dari keluarga kerajaan, sehingga pernikahan itu memutus tradisi kerajaan dan bahkan sempat ditentang ayah Harald selama sembilan tahun.
Harald akhirnya bersikeras bahwa ia lebih memilih tidak menikah daripada meninggalkan Sonja. Keduanya kemudian menikah dan Sonja menjadi Ratu Norwegia.
Harald juga dikenal sebagai raja yang vokal mengenai keberagaman dan toleransi. Dalam pidatonya pada 2016, ia menegaskan bahwa masyarakat Norwegia dapat memiliki latar belakang, keyakinan, dan orientasi seksual yang berbeda.
Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada 2005, Harald juga menolak gagasan bahwa keluarga kerajaan harus kembali menjadi lebih tertutup setelah membuka diri kepada masyarakat.
“Jika Anda sudah membuka gerbang, sangat sulit untuk menutupnya kembali. Saya tidak yakin ingin menutupnya. Sejauh ini baik-baik saja, menurut saya,” kata Harald.
2. Hadir saat Norwegia dilanda tragedi
Popularitas Harald tidak hanya dibangun melalui upayanya memodernisasi monarki, tetapi juga dari perannya ketika Norwegia menghadapi berbagai tragedi.
Salah satu momen paling dikenang terjadi setelah Anders Behring Breivik, ekstremis sayap kanan dan anti-Islam, melakukan serangan teror pada 2011. Sebanyak 77 orang tewas dalam serangan di Oslo dan Pulau Utøya.
Harald kemudian tampil dalam pidato televisi yang menjadi salah satu pidato paling berkesan dalam sejarah modern Norwegia. Dengan suara bergetar karena emosi, ia menyampaikan pesan tentang pentingnya mempertahankan kebebasan dan keterbukaan.
“Kebebasan lebih kuat daripada ketakutan,” ujar Harald dalam pidatonya.
Ketika bencana alam seperti banjir dan badai melanda berbagai wilayah Norwegia, Harald juga kerap datang langsung ke lokasi. Ia dikenal tidak segan mengenakan sepatu bot karet dan jaket yang sudah dikenalnya untuk menemui warga yang kehilangan rumah maupun anggota keluarga.
Di luar tugas kenegaraan, Harald memiliki kecintaan besar terhadap olahraga, khususnya pelayaran. Ia pernah menjadi kapten kapal yang memenangkan kejuaraan dunia dan tiga kali mengikuti Olimpiade.
Ia juga memiliki ketertarikan terhadap otomotif dan dikenal kerap mengendarai mobilnya sendiri, terutama ketika menghadiri kegiatan informal.
Kecintaan Harald terhadap alam turut membawanya ke hutan Amazon di Brasil. Pada usia 76 tahun, ia mewujudkan salah satu impian masa hidupnya dengan tinggal selama empat hari bersama masyarakat Yanomami dan tidur menggunakan tempat tidur gantung di tengah hutan.
Popularitas pribadi Harald tetap tinggi meski dukungan terhadap institusi monarki Norwegia mengalami penurunan. Jajak pendapat Norstat yang diterbitkan lembaga penyiaran publik NRK menunjukkan dukungan terhadap monarki turun menjadi 60 persen pada Februari 2026, sebelum sedikit meningkat menjadi 64 persen pada Mei.
Namun, Harald tetap menjadi anggota keluarga kerajaan yang paling populer. Dalam survei Februari tersebut, ia memperoleh nilai 9,2 dari 10 sebagai anggota keluarga kerajaan yang paling merepresentasikan monarki Norwegia.
3. Monarki Norwegia akan dipimpin Putra Mahkota Haakon
Kini, warisan Harald diteruskan kepada putranya, Putra Mahkota Haakon, 53 tahun. Haakon menjadi raja keempat Norwegia sejak negara itu merdeka dari Swedia pada 1905.
Pergantian takhta tersebut berlangsung ketika keluarga kerajaan menghadapi sejumlah kontroversi. Istri Haakon, Mette-Marit, mendapat sorotan atas hubungannya dengan Jeffrey Epstein, terpidana pelaku kejahatan seksual, sementara putranya, Marius Borg Høiby, dijatuhi hukuman penjara setelah dinyatakan bersalah atas sejumlah tindak pidana, termasuk dua dakwaan pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga.
Dengan wafatnya Harald, Norwegia kehilangan seorang raja yang selama 35 tahun tidak hanya menjalankan peran simbolis sebagai kepala negara, tetapi juga berusaha membawa monarki lebih dekat dengan masyarakat.
Kini, tugas Haakon adalah meneruskan warisan tersebut sekaligus menjaga relevansi dan kepercayaan publik terhadap institusi kerajaan di tengah tantangan baru yang dihadapi keluarga kerajaan Norwegia.















